5 Prinsip Hidup Dalam Sebuah Pensil



5 Prinsip Hidup Dalam Sebuah Pensil
by scorpio in Kisah-Kisah Inspirasi

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentangku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya.

“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.

“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar sinenek lagi. Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

“Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja denganpensil yang lainnya.” Ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”

“Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalumembimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .
Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkanarang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal -hal di dalam dirimu”.

Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.

Kisah Kepala Ikan



Kisah Kepala Ikan
by scorpio in Kisah-Kisah Inspirasi

Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran.Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek, “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan.

Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.
**
Moral Of The Story:
Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.
Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal itu dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita berlandaskan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.
***

MEMBERDAYAKAN KERISAUAN



MEMBERDAYAKAN KERISAUAN
“Seorang mukmin merasa risau di pagi hari dan di sore hari. Dan memang sudah seharusnya bergitu. Karena dia berada di antara dua hal yang mengkhawatirkan. Antara dosa yang telah lalu. Dia tidak tahu apa yang akan Allah putuskan. Dan antara usia yang tersisa. Dia tidak tahu musibah apalagi yang akan menimpanya.”
(Hasan Al Bisri)


Setiap orang pasti pernah mengalami risau. Risau berawal dari suara hati. Risau bagian dari pernik pernik kehidupan manusia sehari-hari. Namun masalahnya, apakah risaunya itu positif atau negatif. Risau yang positif adalah risau yang menghasilkan energy, motivasi dan semangat baru. Sebaliknya risau negatif, hanya menghasilkan rasa resah, berkeluh kesah, kemalasan dan bahkan tindakan yang salah.
Terkadang, sebuah risau terjadi pada tempat yang kurang pas. Seperti merisaukan sesuatu yang yang tidak perlu dirisaukan. Soal rejeki, misalnya. Manusia diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, tetapi ia tidak boleh risau dengan jatahnya. Ia bisa risau tentang bagaimana perjalanan usahanya. Tetapi jatah yang semestinya menjadi hak dirinya tidak akan berkurang, tidak juga bertambah. Masalah lainnya misalnya jodoh yang tak kunjung datang. Masalahnya jodoh itu sudah merupakan wilayahnya Allah yang mengatur, tak perlu dirisaukan. Yang terpenting adalah ikhtiar dalam perbaikan diri tuk dapatkan yang terbaik dari Allah.

Kawan, risau janganlah sampai memasuki wilayah-wilayah yang sudah permanen. Tentunya dimensinya di sini adalah aqidah, keyakinan dan kepasrahan. Sementara dimensi ikhtiar memiliki tempatnya dalam alam nyata. Artinya, secara bentuk dari risau ini adalah merisaukan hal-hal yang sudah dibagikan oleh Allah, setelah segala usaha maksimal dilakukan. Padahal kerisauan itu tidak akan mengubah apa yang telah dijatahkan pada kita oleh Allah.

Ibrahim bin Adham, pernah memberi nasehat kepada seseorang yang risau, ia mengatakan,”Aku tahu rezekiku tak akan dimakan orang lain, karenanya aku tidak risau. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku pun bersungguh mengerjakannya.”

Rasa risau sangat kita perlukan. Meski tak berarti selamanya kita harus risau. Ia berfungsi sebagai penyeimbang bagi seluruh langkah-langkah hidup kita. Agar tidak terlena. Terlena oleh kenikmatan hidup hingga membuat kita lupa diri. Ibarat perjalanan, sekali-kali diperlukan turunan, agar tenaga tak terkuras untuk tanjakan.
Lalu apa yang harus dilakukan kala risau menghampiri diri. Berikut tips agar risau mendatangkan manfaat dan kekuatan.

1. Saat risau, duduklah sejenak tuk berdialog dengan hati
Di balik setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Seorang mukmin diperintahkan untuk selalu berfikir positif dalam mensikapi setiap peristiwa yang terjadi. Saat risau melanda, hendaknya kita lalui dengaan renungan. Sesungguhnya sebuah bencana, ujian, kesulitan diberikan sebagai pertanda Allah masih mencintai kita. Dengan menyegerakan akibat dosa di dunia. Tidak menumpuk semuanya di akherat kelak. Kita tak kan snaggup jika semua dampak dosa ditangguhkan sampai akherat tiba. Sebuah musibah yang terjadi tidak akan bisa ditiadakan. Kerisauan itu hanya sebatas kemanusiawian, tidak sampai melanggar seperti menyalahkan ketentuan Allah.

2. Disaat risau, isilah waktu malam
Pada hari biasa, mungkin bangun malam bagi sebagian orang mungkin tidaklah mudah. Tetapi saat risau itu ada, biasanya mata tak terpejam walau waktu telah larut. Saat sepeerti inilah, justru saat-saat yang sangat berharga. Lakukanlah hal-halyang bermanfaat. Inilah saat yang tepay tuk mengambil air wudhu. Air wudhu yang membasuh muka akan membersihkan raut wajah kita. Kemudian ucapkan takbiratul ihram, karena dengan takbiratul ihram akanmengecilkan semua permasalahan. Karena allah Maha besar dan kita begitu kecil di hadapanNYa. Semua masalah yang dianggap besar oleh kita, tidak bagi Allah. Dalam sujud yang panjang, adukanlah semuanya. Perbanyaklah permohonan, karena saat sujud merupakan saat terdekat seorang hamba dengan Allah SWT. Mungkin air mata menetes bersama do’a-do’a yang dipanjatkan, taka pa mungkin sudah lama kita tak menangis. Rasakan kelegaan bersama tetesan air mata.

3. Di saat risau, lihatlah kerisauan yang lebih besar
Salah satu cara menghadapi risau, adalah denga melihat lebih jauh orang-orang disekitar kita. Lihatlah orang-orang yang tak semujur diri kita. Selalu ada sisi lebih yang diberikan Allah kepada setiap orang, atas orang lainnya, dalam bentuk. Karena itulah, Rasulullah menganjurkan kita untuk melihat orang-orang yang di bawah kita dalam urusan rejeki. Di atas segala yang pahit, masih ada yang lebih lebih pahit. Tak lain agar kerisauan jangan sampai berubah menjadi pemicu untuk melakukan tindakan yang salah. sebaliknya, ia akan menjadi kekuatan untuk pandai bersyukur dan pandai menghargai karunia.

4. Di saat risau perkuat keyakinan
Memang, tidak mudah untuk bisa berpikir sehat tatkala risau sedang pada puncaknya. Maka tunggulah. Hingga risau sedikit melemah. Segeralah membangun keyakinan dan harapan kembali. Keyakinan bahwa satu atau dua kesulitan, bahkan berpuluh, bukanlah akhir segalanya. Masih banyak jalan yang tersedia, hanya saja mungkin kini kita belum mendapatkannya. Perkuat keyakinan bahwa masih ada masa depan yang menanti. Dari keyakinan akan lahir kemauan. Dari kemauan akan ada dorongan untuk berbuat, bertindak dan memilih jalan.
Maka pada akhirnya, kita bisa memilih sendiri, dengan apa kerisauan akan kita sikapi. Sebagaimana kita bisa memilih untuk dan atas nama apa sebuah kerisauan kita jalani.

Ma’raji : Tarbawi 2003
Created By : Nuna

TERIMALAH AKU APA ADANYA




Sebuah Kisah Cinta Sejati Untuk Anda Semua
by scorpio in Kisah-Kisah Inspirasi

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut.

Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…..”

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama.
Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.
“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman.
Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa air mata suaminya mulai mengalir.
“Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya.
“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis di atas meja dan berkata dengan bahagia.
“Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.

Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu.
Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. “

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya…
Ia menunduk dan menangis…..

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya takperlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut.
Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk,mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ?
Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.
***
Diterjemahkan dari tulisan : Trevor Klein.

LIHATLAH SELALU DARI SISI YANG BERBEDA



LIHATLAH DARI SISI YANG BERBEDA
Sampai sejauh usia kita sekarang, telah banyak hal yang dilewati, telah banyak peristiwa yang kita saksikan, telah ada segudang cobaan yang diterima. Dan tentunya akan masih ada lagi rentetan masalah yang akan muncul yang akan mengiringi perjalanan hidup ini, yang entah kapan berakhirnya.

Perjalanan hidup yang tiada pernah sepi dari masalah, terkadang terasa begitu berat bagi sebagian kita, hingga ada yang harus melakukan tindakan-tindakan diluar kewajaran. Hal itu tidak berlebihan jika kita katakan bahwa seringkali penyebabnya karena kita hanya berani hidup dari satu cara pandang. Tidak lebih. Kita tidak punya pandangan yang cukup untuk melihat sesuatu dari sisi yang berbeda.

Seringkali kita mendapatkan atau mendengar kata ‘sabar’ kala duka melanda diri. Mungkin menurut kita hanya sekedar pemanis yang semua orang gampang mengucapkannya, namun tidak mudah dalam hal realisasi. Namun, hal itu tidak akan terjadi jika kita mau melihat setiap keadaan lebih dari satu sudut pandang. Ia tidak hanya melahirkan kesabaran, tetapi akan melahirkan kekuatan jiwa dan keteguhan hati untuk siap menghadapi penderitaan yang sulit sekalipun.

Tidak hanya itu, ia akan menjadi seorang mukmin yang bijaksana yang selalu memperhatikan bagaimana seharusnya cara menambal amal baik dan kebajikan sebelum semuanya ditutup karena penderitaan yang menimpanya. Keyakinan bahwa akan datang hari-hari penuh kesenangan setelah kesusahan dan hari-hari kebahagiaan setelah kesedihan, adalah buah dari kecerdasannya melihat sisi lain dari sebuah masalah.

Melihat dari sisi yang berbeda, melatih kita untuk memfungsikan akal dengan baik. Akal yang membuat manusia menjadi lebih sempurna dibandingkan makhluk Allah lainnya. Dan puncak kenikmatan akal adalah ‘ilmu. Selalu membiasakan diri melihat sesuatu dari sisi yang berbeda adalah satu dari banyak cara mengolah dan mengaktifkan akal dengan baik. Jika ada yang berkata “Kalau aku memiliki keinginan kuat, namun tetap saja tidak dikaruniai rezeki, , kalo aku udah usaha maksimal PeDeKaTe, tapi jodoh tak kunjung datang, lalu di mana salahnya?” Jawabnya,”Kalau rezeki itu tidak didapat dari satu jalan, maka pasti bisa diperoleh dengan jalan yang lain, kalo jodoh tak kan lari kemana, karena semuanya sudah tercatatdi laul mahfudz. Caranya mungkin kita perlu mengubah sudut pandang kita terhadap masalah itu, agar kita punya jalan buat memahaminya dan menyelesikannya dengan lebih bijaksana.

Sebagai muslim, kita dituntut untuk selalu memfungsikan akal. Sebab akal bukan perhiasan yang hanya buat disimpan. Tapi kita diperintahkan untuk selalu menggunakannya berpikir agar ketajamannya selalu terasah sehingga kita dapat memahami hakekat hidup dan kehidupan ini.

Ya… Melihat dari sisi yang berbeda, adalah proses pengayaan perspektif, penajaman mata hati, perluasan sudut pandang. Maka orang-orang yang memilih jalan ini dengan benar tetap bisa member i vonis terhadap keburukan itu buruk. Ia tidak menjaga citra dirinya yang selalu santun pada kejahatan sekalipun.
Hidup adalah pilihan-pilihan sikap, pilihan reaksi, pilihan tindakan. Tapi sebelum itu semua, hidup dimulai dari prasangka kita, pandangan kita, juga cara kita melihat hidup.
Di hari-hari yang kian tak mudah, di saat beban hidup kian menghimpit, segala upaya mencari jalan keluar harus kita lakukan. Tapi… itu tak ada artinya bila kita tidak juga belajar bagaimana melihat segalanya secara lebih luas, lebih mendalam. Kita harus belajar melihatnya dari sisi yang berbeda. Sebab hidup dimulai dari prasangka dan bagaimana cara kita memandang.

Created By. Nuna
Sumber : Tarbawi 2010
12 April 2011

Jangan Pernah Lelah, Belajar RELA



Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika Rasulullah saw menemui sahabat-sahabat Anshar, beliau bersabda,”Apakah kalian orang-“,orang mukmin?” Mereka terdiam, lalu berkatalah Umar,”Ya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda lagi,” Apakah tanda keimanan kalian?” Mereka berkata,”Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan rela dengan ketentuan Allah.” Nabi saw kemudian bersabda lagi,” Orang-orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’bah.”

Rela adalah satu hal penting yang disampaikan Rasulullah dalam riwayat ini. Dia adalah sikap menerima semua realita takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, ikhlas, lapang da.da, bahagia, tanpa merasa kecewa atau marah. Kita yang menyimpan
Bersikap rela tidaklah mudah. Karena pada kenyataannya, banyak di antara Kita yang menyimpan sedih, duka, kecewa dan bahkan amarah, oleh sebab yang diinginnkannya berlawanan dengan realita. Takdir Allah tak sama dengan keinginannya. Keputusan Allah berbeda dengan rencananya. Di sinilah ujian berat itu. Tapi kemudian, ada banyak hal yang penting yang mengharuskan kita untuk tidak pernah lelah belajar rela agar Allah pun rela dengan kita.

Cara kita menjalani rela, harus memiliki dasar yang benar dan kuat. Karena itu rela harus menjadi pilihan untuk terus kita belajar tentangnya, tanpa batas ruang dan waktu. Sebagai orang mukmin, rela merupakan pelajaran yang harus kita dalami dengan kerangka iman. Kita pelajari dalam konteks iman, kita dalami bersama iman. Maka belajar rela harus terhubung dengan Allah SWT.

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim membaginya menjadi dua.
1. Rela Dengan Allah
Artinya kita rela menerima eksistensi, keberadaan, kuasa Allah dan konsekuensi atas kerelaan itu. Rela secar Dzat, Sifat, dan Asma-asmaNya untuk kita jadikan Tuhan satu-satunya. Yang kita sembah, kita pasrahkan kepadaNya penghambaan dan ibadah.
Pada jenis rela ini, banyak di antara kita yang gagal menjadi rela. Karena kerelaannya dengan Allah sebagai Tuhan, hanya berhenti pada tataran pengakuan saja. Tidak meningkat menjadi penghambaan. Rela pada tataran pengakuan , mengantarkan kita pada tauhid, bahwa Allah kita yakini Tuhan sebagai Tuhan kita yang menciptakan, mengadakan dan dan member kehidupan. Padahal kita memerlukan lebih dari itu, yaitu ‘rela penghambaan’, bahwa kita menyembah, beribadah, dan taat serta tunduk hanya kepada Allah SWT.

Rela secara pengakuan akan ketuhanan Allah lebih mudah. Dan itu bias lebih mudah ketika terbantu oleh akan. Karena itu, bahkan orang-orang musyrik sekali pun, mengakui Allah sebagai pencipta, yang menurunkan air, yang menciptakan bumi, tapi tidak membuat mereka beriman dan menyembahNya,

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘ALLAH’, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” ( QS. Al Ankabut : 61 ).

Rela dengan Allah, adalah ikrar, pengakuan, yang berimplikasi kepada ketundukkan beribadah. Karena itu, di pagi hari dan petang hari, kita diajari wirid dan do’a yang bias membantu kita bagaimana meresapkan rela dengan Allah, bersanding dengan kerelaan dengan Islam, dan dengan Muhammad sebagai Rasul Allah. Ada janji balasan yang sangat luar biasa di balik kerelaan yang utuh itu : surga, ampunan, dan kerelaan dari Allah SWT.

2. Rela kepada Allah
Yaitu kerelaan kita untuk menerima apa yang diberikan Allah kepada kita. Rela menerima apa yang ditetapkan Allah untuk kita. Kerelaan yang diliputi dengan kesadaran dan pemahaman yang baik kenapa kita harus rela untuk dan atas semua itu. Ini masuk dalam pengertian rela dan ridha dengan ketetapan dan takdir Allah atas kita semua. Sebagian ulama menyebut kerelaan ini dengan istilah rela dengan segala perbuatan Allah atas kita dan para makhlukNya.

Antara ‘rela dengan Allah’ dan ‘rela kepada Allah’ saling berkaitan. Kualitas rela yang pertama mempengaruhi kualitas rela yang kedua. Pasang surut salah satunya, harus kita sokong dengan penguatan yang satunya lagi. Bila kerelaan kita dengan Allah menurun, kita harus menguatkannya dengan kerelaan kepada Allah. Caranya , memperbanyak menghayati apa-apa yang telah diberikan Allah kepada kita, betapa luas kasih sayangNya, kebaikanNya. Dan sebaliknya, jika rela kepada Allah menurun, kita sulit menerima takdir, berat menghadapi ujian, maka kita harus memperbaikinya melalui penguatan rela dengan allah. Caranya bias dengan khusus memperbanyak ibadah ritual, puasa, sholat lail dan lain-lain. Hal ini akan member penguat pada kerelaan kita kepada ketetapan Allah.


Rela adalah buah dari cinta. Kepada siapa saja yang kita cintai, kita akan rela atas pemberiannya. Terlebih kepada Allah. Rela adalah buah cinta kita kepadaNya. Dialah kedudukan dan prestise tertinggi yang dimiliki orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, yang mencintaiNya di atas segalanya. Rela itu adalah kemuliaan yang hakekatnya tak terlihat bagi banyak orang. Dialah pintu yang paling agung menuju Allah, tempat beristirahatnya orang-orang yang mengenalNya, taman yang Indah di dunia. Karena itu, sudah selayaknya bagi orang-orang yang menasehati dirinya untuk meningkatkan keinginannya mendapatkan kerelaan itu, agar jiwa dan hatinya tidak ditempati hal-hal yang lain, selain cinta kepada Allah.

Rela tidak sekedar soal persepsi. Rela bukan semata soal logika. Ada banyak hal yang kita timbang, kita pandang, dan kita pahami secara rasional, tetapi begitupun tidak selalu bisa kita relakan. Tetapi argumentasi yang kita nalar dengan pikiran, bisa membantu kita belajar dengan cara yang lebih baik untuk menjadi rela.

Menaklukkan diri untuk mengerti bagaimana rela lepada Allah, tidak memiliki mekanisme pemaksaan. Sebab pemaksaan itu sendiri sudah berlawanan dengan makna kerelaan. Tidak aka nada kerelaan di dalam keterpaksaan, sebagaimana tidak mungkin ada keterpaksaan, bila benar-benar ada kerelaan. Karena itu, proses menjadi rela merupakan jalan panjang yang harus ditempuh.

Sungguh indah ungkapan seorang di antara mereka,” Hamba memiliki kegelisahan dan Allah memiliki ketentuan, hari-hari pasti berganti dan rezeki telah terbagi. Kebaikan itu berkumpul di dalam apa yang telah Sang Pencipta pilihkan untuk kami, karena menolak pilihan hanya akan meninggalkan celaan dan kesialan.”
Yaaah kita memerlukan waktu dan proses yang panjang untuk samapi ke derajat rela ; rela dengan Allah, maupun rela kepada Allah.
Sumber : Tarbawi Juli 2010

PENGANTIN BIDADARI



Pengantin Bidadari
by scorpio in Kisah-kisah Kematian Yang Indah

Raudhah Al Muhibbin wa Al Musytaqin (Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu)
Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis. Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin. Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian.
***
Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.
Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.

“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata, “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan, “Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.
“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.
“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.” Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”
Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”
Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang. Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”
***
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid, ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya.

Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat.

Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya, Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
***
Senja datang Angin mendesau, sepi. Pasir-pasir beterbangan. Berputar-putar.
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid. Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau. Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah. “Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
“Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”
***
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.
Malam menjelang. Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata. Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu.”
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

Istri Zulebid, terdiam. Matanya basah. Ada sesuatu yang menggenang disana. Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi. Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir. Ia menggerakkan bibirnya.
“Suamiku, aku mencintaimu. Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita. Aku ikhlas.”
***
Somewhere over the rainbow, way up high
There’s a land that I heard of once on a lullaby
Somewhere over the rainbow, skied are blue
And the dreams that you dare to dream
really do come true..
Dan, akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendam
Kekasih yang terkasih
Pencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mata
Sedih, ataukah bahagia…..?
***
Untuk para pengantin bidadari

MUSIBAH DI MATA MEREKA dan KITA



Rasulullah SAW dalam riwayat Turmudzi dan Nasa’I “… Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah dan kedukaan kami itu pada urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai obsesi kami dan keimanan kami yang paling besar. Jangan engkau jadikan dunia sebagai pucuk ilmu pengetahuan kami. Dan jangan Engkau kuasakan atas kami, seseorang yang tidak memiliki belas kasih atas kami.”

Do’a ini mengajarkan tentang hakekat kedudukan dan sejatinya musibah yang harus kita sadari. Kita, dalam do’a ini, meminta agar kita tidak ditimpakan musibah dalam urusan agama.

Qadhi Syuraih ra mengatakan “ Aku tertimpa musibah dan aku memuji Allah atas musibah ini atas empat Allah. Pertama karena musibah itu tidak lebih besar dari apa yang terjadi. Kedua , karena musibah itu telah mendatangkan kesabaran untuk menghadapinya. Ketiga, aku bias memohon pahala atas kesulitan dari musibah yang aku terima. Dan keempat, Allah swt tidak menjadikan musibah dalam urusan agama, tapi dalam urusan dunia.”

Karena itulah, para orang-orang shalih memiliki sudut pandang yang berbeda tentang musibah. Bagi mereka selama musibah itu tidak mempengaruhi urusan agama, dan masih dalam lingkup dunia, mereka tidak menganggapnya berat.

Di antara musibah dalam agama adalah ketika kita meninggalkan momentum kedekatan kepada Allah, tapi justru melakukan kemaksiatan dan memperturutkan hawa nafsunya yang bertentangan dengan keridhaan Allah swt. Meninggalkan sholat adalah dosa, terlebih bila seseorang meninggalkannya untukmelakukan kemaksiatan. Bagi orang-orang shalih, meninggalkan sholat jama’ah dipandang musibah. Salah seorang mereka yang ketinggalan takbiratul ihram dari sholat berjama’ah lalu ia meminta sahabatnya agar mendapat ta’ziyah selama tiga hari.

Saudaraku,
Waktu kita pendek. Usia kita hanya hitungan waktu yang tidak banyak. Ibnul Jauzi ra mengatakan, “ Usia itu sedikit saja. Apakah engkau berlaku zalim terhadap perintah Tuhanmu, tapi engkau mohon pertolonganNya? Ia memerintahkanmu untuk bersungguh sungguh, tapi engkau melakukan kebalikannya. Engkau lari dari medan perang, tapi bukan untuk kembali berperang. Engkau ingin mendapatkan ketinggian, padahal tingkatan dirimu tak sesuai keseriusanmu. Apakah engkau ingin memanen tanpa menanam?.”

Mari kita bersama introspeksi diri. Sebab kita yang paling tahu tentang diri kita. Kitalah yang mampu meraba kasatnya hati, kelamnya jiwa dan pikiran dibandingkan kehalusan dan terang benderangnya jiwa orang-orang shalih itu. Jia kita tahu dan sadar diri, semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki kebaikan.
Dahulu, Nabiyullah Musa as diriwayatkan mengatakan kepada Bani Israil, “ Datangkan kepadaku orang yang paling baik di antara kalian.” Lalu datanglah mereka bersama dengan seorang pemuda. Nabi Musa as bertanya,” Apakah engkau orang yang terbaik di kalangan Bani Israil ? Orang itu mengatakan, “ Seperti itulah kata mereka tentang aku.”

Musa as kemudian berkata lagi kepada orang itu, “ Datangkan kepadaku orang yang paling buruk di antara Bani Israil.” Tapi ketika kembali, orang itu tak membawa orang lain kecuali dirinya sendiri.
“ apakah engkau membawa orang yang paling buruk di antara mereka ?” Tanya Musa kepadanya. Orang itu mengatakan , “ Ya saya sendiri orangnya.” Ia melanjutkan, “ Aku tidak tahu ada orang dari mereka yang lebih mengetahui tentang keburukanku sendiri.” Musa as lalu mengatakan, “ Kalau begitu, benar, engkaulah orang yang paling baik di antara mereka.”

Lalu Siapakah kita ?

Sumber : Tarbawi Edisi 208, tahun 2009

Merasa Diawasi



Merasa Diawasi…
Sebuah kisah yang mungkin tidak terjadi, kecuali dizaman ketika orang-orang shalih mengisi kehidupan bermasyarakat. Ketika rasa diawasi Allah swt (muraqabatullah) ada dalam diri banyak orang dan terwujud nyata melalui sikap-sikap yang mengagumkan.

Saudaraku,
Mari dengarkan sejenak saja, sepotong kisah kehidupan mereka yang merasa terawasi dan terpantau oleh Allah swt dalam setiap gerakan. Kisah ini diriwayatkan dalam sejumlah versi, salah satunya diurai dalam kitab Hiyatul Al Auliya, karya Abu Na’im Al Asfihani.

Saudaraku,
Dahulu, ada sorang kaya bernama Nuh Bin Maryam yang dihormati masyarakatnya, selain kaya ia juga dikenal sebagai orang yang berpegang teguh pada prinsip dan ajaran Islam dengan baik. Nuh bin Maryam dikaruniai seoranga anak perempuan yang cantik, dan juga baik akhlaknya. Ia mempunyai seorang pembantu, Mubarak namanya, seorang pembantu jelas bukan dari seorang yang berada, dan tak memiliki banyak harta. Kehidupan umumnya mereka bisa dibilang sangat sederhana, tapi kelebihannya sebagaimana tuannya, pembantu Nuh Bin Maryam itu juga seorang yang kuat berpegang pada nilai Islam dan memiliki prilaku akhlak yang terpuji. Suatu ketika Nuh Bin Maryam memerintahkan memerintahkannya untuk memelihara dan menjaga kebun angggur miliknya. “Mubarak pergilah ke kebun itu, dan jagalah buah-buahnya. Peliharalah buah-buah itu sampai aku nanti akan datang ke sana” ujur Nuh Bin Maryam.
Sampai beberpa bulan kemudian, saat musim panen menjelang, Nuh Bin Maryam datang ke kebunnya. Hari siang nan terik membuat Nuh ingin beristirahat dikebunnya, di bawah bayang-bayang daun dan pohon anggur miliknya. Ia duduk dibawah pohon sambil mengatakan “Mubarak, tolong bawakan setangkai anggur yang sudah masak dan manis” Mubarak lalu menghampirinya dengan membawa setangkai anggur. Setelah dicicipi, Nuh Bin Maryan terkejut dan mengatakan. “Mubarak, tolong bawakan saya yang lainnya, ini masih muda dan asam”, Mubarak lalu datang kembali dengan membawa anggur. Tapisetelah dirasakan anggur itu tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, yaitu masih terlalu muda dan asam. Beberapa kali Nuh Bin Maryam meminta hal yang sama tapi Mubarak kembali membawakan anggur tidak sesuai permintaannya.

Saudaraku,
Nuh Bin Maryam hampir marah. Ia merasa perintah-perintahnya tak dikerjakan sebagaimana mestinya, ia mengatakan “Mubarak, saya minta kepadamu untuk dibawakan setangkai anggur yang sudah matang dan manis, tetapi engkau datang membawa anggur yang masih muda dan rasanya asam. Apakah engkau tidak tahu mana anggur yang manis dan asam?”
Karena akhlaknya yang baik, Nuh Bin Maryam tetap memberi kesempatan untuk mendengarkan jawanban pembantunya yang kemudian membuatnya tercengang. “Pak dahulu anda tidak meminta saya untuk memakan buah-buah anggur ini, anda hanya meminta saya untuk menjaga dan memeliharanya. Demi zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, saya tidak pernah mencicipi buah-buah itu sedikitpun…” inilah jawaban Mubarak. Ia belum selesai dan melanjutkan jawabannya, “Demi Allah, aku tidak merasa diawasi olehmu, dan tidak merasa diawasi oleh siapapun makhluk di bumi ini, tapi aku merasa diawasi oleh Allah yang tidak ada sesuatu yang rahasia bagi-Nya di langit dan di bumi”.

Saudaraku,
Nuh Bin Maryam benar-benar tekejut dengan jawaban itu, jawaban yang begitu memukau karena menyebutkan pembantunya dalah orang yang shalih dan berakhlak mulia. Ia mengatakan, ?
“Mulai sekarang saya akan berkonsultasi denganmu, dan orang yang saya ajak konsultasi haruslah orang yang terpercaya” tak lama kemudian ia mengucapkan sesuatu yang tak diduga oleh Mubarak. “Mubarak, ada orang yang memperistri putriku. Orang itu adalah orang yang berharta, berkedudukan dan memiliki jabatan, kepada siapa kira-kira aku menikahkan putriku?” tanya Nuh Bin Maryam.
Mubarak menjawab “Dahulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri mereka karena pertimbangan kekayaan dan keturunan saja. Orang-orang Yahudi menikahkan putri-putri mereka berdasarkan pertimbangan harta. Orang nasrani menikahkan karena kecantikan. Dan di zaman Rasulullah saw, kaum muslimin menikahkan anak-anak mereka karena pertimbangan agama dan akhlak. Lalu di zaman kita sekarang, orang menikahkan anak perempuan karena harta dan kedudukan. Sesungguhnya seseorang itu dinilai dari orang yang ia cintai, barang siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti mereka termasuk golongan itu.”

Nuh Bin Maryam tertegun denganjawaban itu, kemudian mengatakan “Lalu apa nasihat dan masukkanmu?” ia terus berfikir tentang kecerdasan, kesalihan, ketajaman pandangan, yang dimiliki Mubarak belum pernah ia temui dalam diri orang selainnya. Sebelum Mubarak menjawab Nuh Bin Maryam mengatakan, “Anda saya merdekakan karena Allah..” lalu ia menyambung lagi, “Saya telah pertimbangkan masak-masak, dan saya menilai andalah orang yang paling tepat untuk saya nikahkan dengan anak perempuan saya”.

Saudaraku,
Setibanya di rumah Nuh Bin Maryam pun bercerita kepada putrinya tentang peristiwa yang terjadi, “ Setelah ayah pertimbangkan secara mendalam, ayah memilih dia untuk menikahimu..” Putrinya mengatakan “Apakah ayah ridha aku menikah dengannya?” Nuh Bin Maryam mengatakan, “Ya” putrinya menjawab, “Kalau begitu, akupun ridha menerimanya sebagai suamiku, karena aku merasa diawasi oleh Allah Yang tak mungkin ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya di langit dan di bumi”
Apa buah dari pernikahan kedua hamba Allah swt yang shalih dan shalihah ini? Ketika istri Mubarak hamil dan melahirkan anak laki-laki, mereka namakan anaknya Abdullah.

Saudaraku,
Kita pasti tahu siapa Abdullah?
Ya..Abdullah Bin Mubarak rahimatullah, seorang ulama, ahli hadits, zuhud, ahli ibadah yang namanya menghiasi sejarah Islam di zaman tabi’it tabi’in. itulah buah dari rasa diawasi oleh Allah swt dalam segala keadaan, rasa diawasi dan dipantau oleh Allah swt dalam segala keadaan, pasti memberi yang terbaik untuk hidup.
Oleh: M. Lili Nur Aulia (Tarbawi, edisi 216 Th.11, Dzulhijah 1430 , 3 Desember 2009 )
* * *
Saudaraku,
Ada banyak sekali cara yang bias kita lakukan agar semakin bisa menanamkan rasa Muraqabatullah ( merasa diawasi ). Rasulullah saw bersabda, “Saya wasiatkan kepadamu agar malu kepada Allah sebagaimana kamu malu terhadap orang shalih di antaramu.” ( HR. Ath Thabrani )

Cara lain untuk lebih mendalami rasa muraqabatullah adalah dengan memunculkan rasa malu kepada malaikat pencatat amal, yang selalu mencatat amal perbuatan. Yang tak pernah lupa dan tidur. Merekalah saksi atas kebaikan dan keburukan kita.

Saudaraku,
Duduklah di sini. Atau berdirilah. Atau lakukanlah apa yang ingin dilakukan. Namun, hadirkanlah bahwa Allah senantiasa hadir bersama kita. Allah swt, yang menjadikan kita ada di ala mini, dimana lebih mengutamakan kita di antara makhluk-makhlukNya yang lain. Dia Memperhatikan, Menjaga dan Melindungi. Kebutuhan
Rasakanlah kebutuhan kita untuk diawasi oleh Allah swt, karena itu tanda bahwa kita juga akan mendapat perlindunganNya.

Seperti kisah di atas, rasa takutnya pada Allah berbuah manis dunia dan akherat.
Subhanallah....

Allah pun Tahu Kita Sibuk

Ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai pilihan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan tersebut (hubungan yang kokoh –quwwa-tush-shilah- dengan Allah).

Di dalam al mustakhlash fi tazkiyatil anfus, Sa’id Hawa rahimahullah menyebutkan 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Swt., mulai dari sholat, zakat-infak-sedekah, puasa, haji, tilawatul quran, dzikrullah, tafakur alam, dst.

Meskipun begitu, kita masih sering merasakan kekeringan rohani. Ini karena kita sangat jarang mengalirinya dengan siraman-siraman rohani berupa sarana-sarana tersebut, atau dalam istilah tekniknya, kita jarang men-charge aki dan baterai ruhani yang kita miliki dengan sarana-sarana islamiyah tadi.

Alasan yang kita kemukakan selalu sama dan klasik, yaitu : sibuk dan repot. Hal ini terjadi karena kita susah mengatur waktu dan mendapatkan waktu senggang untuk menyiram dan mengisi rohani.

Terkadang, ketika sedang berkumpul dengan sesama kader (da’wah -peny), kita ingat bahwa ruhani kita sedang sangat kekeringan. Namun begitu keluar dari majelis ikhwah, kita kembali lagi menjadi manusia-manusia yang sibuk.

Namun, perlu diingat bahwa dengan adanya kesibukan tidak berarti kita dapat meninggalkan langkah-langkah untuk melakukan siraman dan charge ruhani kita. Mari kita renungkan bersama firman Allah swt berikut ini :

“sesunguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saj ayang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Muzzammil:20)

Ayat ini menjelaskan bahwa :
1. Allah Swt mengetahui bahwa kemampuan kita dalam ber-qiyyamullail berbeda-beda. Ada yang hampir mampu mencapai dua per tiga malam, ada yang mampu setengah malam, ada yang sepertiga malam.
2. Allah Swt.lah yang membuat ukuran-ukuran siang dan malam.
3. Allah Swt. Mengetahui bahwa kita ini lemah dan tidak akan memenuhi kewajiba itu (waktu itu qiyamullail setengah malam adalah kewajiban kaum Muslimin).
4. Allah Swt. Mengetahui bahwa ada di antara kita ada yang sakit, ada yang sibuk mencari ma’isyah, ada yang sibuk berperang fi sabilillah.

Meskipun mengetahui kesibukan kita, Dia tetap memerintahkan kirta untuk :
1. Membaca Al Quran (bahkan diulang dua kali) sesuai dengan kemudahan kita.
2. Menegakkan shalat.
3. Membayar zakat
4. Mmeberikan pinjaman yang baik kepada Allah Swt. (sedekah dan semacamnya).
5. Banyak beristighfar
Artinya, betapapun kesibukan melanda kita, kita tidak boleh melupakan tugas menyirami ruhani kita dan men-chargenya dengan berbagai sarana yang ada.

Ada banyak cara yang ditawarkan oleh Islam agar kita tetap bisa mendapatkan kesempatan melakukan siraman dan charge ruhani kita. Diantaranya adalah :
1. Kita harus men-split waktu-waktu yang kita miliki agar menjadi berbagai macam saat, sehingga di hadapan kita akan muncul sederet waktu yang bisa kita daya gunakan.
Pada suatu hari, seorang sahabat yang bernama Hanzhalah bertemu Abu Bakar ash-SShiddiq r.a. Begitu bertemu, Hanzhalah berkata, “Nafaqa Hanzhalah” (Hanzhalah menjadi munafik). Mendengar pernyataan seperti itu, Abu Bakar kaget, lalu berkata, “Mengapa?”. Hanzhalah berkata, “Kalau kita berada di majelis Nabi saw, seakan kita melihat dengan kepala kita sendiri suasana surga dan neraka, akan tetapi begitu bertemu anak-anak, kita lupa semua yang kita rasakan tadi”. Mendengar penjelasan itu, Abu Bakar menjawab, “Kalau begitu sama dengan saya”
Singkat cerita, keduanya mendatangi Nabi saw. Setelah keduanya menceritakan apa yang dirasakannya, Nabi saw. Menjawab :
“…Akan tetapi, wahai Hanzhalah, sa-‘ah wa sa-‘ah.” Maksudnya, “Bagilah (split) waktumu agar ada saat untuk ini dan ada saat untuk itu.” (HR. Muslim).

2. Kita harus pandai memanfaatkan serpihan-serpihan waktu yang kita miliki dan mendayagunakannya untuk penyiraman dan charge ruhani kita.
Pada suatu hari, Rasulullah saw memperingatkan bahaya memaksakan diri untuk memperbanyak ibadah. Beliau bersabda :
“sesungguhnya agama in imudah dan tidak ada yang memberat diri sendiri kecuali agam itu akan mengalahkannya. Karenanya, luruskan langkah dan kokohkan, berusahalah untuk selalu mendekati (target ideal), bergembiralah (jangan pesimis), dan meminta tolonglha dengan waktu pagi, waktu sore dan sedikit malam”. (HR. Bukhari)

3. Terakhir, kita harus pandai-pandai membuat diversifikasi acara (keragaman acara) agar tidak cepat bosan. Ingatlah bahwa Rasulullah telah bersabda:
“Jangan begitu, laksanakanlah pekerjaan sesuai dengan kemampuan kalian! Maka demi Allah, Allah swt tidak bosan sehingga kalian bosan, dan agama yang paling Allah swt. Sukai adalah agama yang pemeluknya kontinue dalam melaksanakannya.” (H.R.Muttafaqun ‘alaih).
Semoga Allah Swt. mmberikan taufik , bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk istiqomah di atas jalan agama-Nya. Amin.

Sumber : Era Muslim

Give The Best



Pemberian Terbaik

Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana.

Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. "Inilah hartaku yang paling berharga", demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.

Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, "Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. "Ini perintah Raja!". Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan.

Petani itu lalu menjawab, "Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? "Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua. Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. "Tolonglah, kasihani anak dan istriku...berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku..."

Namun, pemimpi pasukan berkata lagi, "Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. "Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya." Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.

Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya. Mereka tampak bingung dengan keadaan ini. Hati bertanya-tanya, "Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu. Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.

Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah. Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana. Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja. Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. "Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duli Paduka, terimalah pemberian ini...."

Baginda Raja tersenyum. Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. "Pengawal, buka selubung itu!! Tiba-tiba,terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap.

Sang Petani tampak kebingungan. Baginda mulai berbicara, "Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya...."
Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja.

***

Teman, bisa jadi, tak banyak orang yang bisa berlaku seperti petani tadi. Hanya sedikit orang yang mau memberikan harta yang terbaik yang dimilikinya kepada yang lain. Namun, petani tersebut adalah satu dari orang-orang yang sedikit itu. Dan ia, memberikan sedikit pelajaran buat kita.

Sesungguhnya, Allah sering meminta kita memberikan terbaik yang kita punya untuk-Nya. Allah, sering memerintahkan kita untuk mau menyampaikan yang paling berharga, hanya ditujukan pada-Nya. Bukan, bukan karena Allah butuh semua itu, dan juga bukan karena Allah kekurangan. Namun karena sesungguhnya Allah Maha Kaya, dan Allah sedang menguji setiap hamba-Nya.

Allah sedang menguji, apakah hamba-Nya adalah bagian dari orang-orang yang beriman dan mau bersyukur. Allah sedang menguji, apakah ada dari hamba-hamba-Nya yang mau menafkahkan harta di jalan-Nya. Dan Allah, pasti akan memberikan balasan atas upaya itu dengan pemberian yang tak akan kita bayangkan. Imbalan dan pahala yang akan kita terima, sesungguhya akan mampu membuat kita paham, bahwa Allah memang Maha Pemberi Kemuliaan.

Dan teman, mari kita berikan yang terbaik yang kita punya kepada-Nya. Marilah kita tujukan waktu, kerja dan usaha kita yang terbaik hanya kepada-Nya. Karena sesungguhnya memang, kita tak akan pernah menyadari balasan apa yang akan kita terima atas semua itu.

Allah selalu punya banyak cara-cara rahasia untuk memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya. Dan Dia akan selalu memberikan pengganti yang lebih baik untuk semua yang ikhlas kita berikan pada-Nya. So.... jangan takut memberikan yang terbaik. ^_^

Jika Itu Cinta




Jika Ia Sebuah Cinta

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak mendengar...
Namun senantiasa bergetar...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak buta...
Namun senantiasa melihat dan merasa...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak menyiksa...
Namun senantiasa menguji...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak memaksa...
Namun senantiasa berusaha...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak cantik...
Namun senantiasa menarik...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak datang dengan kata-kata...
Namun senantiasa menghampiri dengan hati...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak terucap dengan kata...
Namun senantiasa hadir dengan sinar mata...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak hanya berjanji...
Namun senantiasa mencoba memenangi...

Jika ia sebuah cinta...
Ia mungkin tidak suci...
Namun senantiasa tulus...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak hadir karena permintaan...
Namun hadir karena ketentuan...

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan...
Namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..


Sumber : Unknown

5 Bola Kehidupan


5 Bola Kehidupan

Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara.

Bola-bola tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit dan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara.

Kita akan segera mengerti bahwa ternyata "Pekerjaan" hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali.

Tetapi empat bola lainnya yaitu Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping.
Dan ingatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya. Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya

Bagaimana caranya?
• Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special.

• Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti


• Jangan biarkan hidup kita terpuruk di 'masa lampau' atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupmu.

• Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.

• Janganlah takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.

• Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.

• Jangan berusaha untuk mengunci cinta dalam hidupmu dengan berkata "tidak mungkin saya temukan". Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya 'sayap'.

• Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.

• Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat kita bawa kemanapun tanpa membebani.

Dan akhirnya :
MASA LALU adalah SEJARAH , MASA DEPAN merupakan MISTERI dan SAAT INI adalah KARUNIA. Itulah kenapa dalam bahasa Inggris SAAT INI disebut "The Present".

Sumber : Resensi.net

Beda anatara Suka, Cinta dan Sayang


BEDA ANTARA SUKA, CINTA DAN SAYANG

Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah

Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat

Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam

Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya

Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan
rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.

"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada
perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang
secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah.

Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.

Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan."

Bayangan


BAYANGAN

Di sebuah daerah nan jauh dari kota, seorang pemuda terhinggap penyakit aneh. Ia begitu gusar dengan keadaannya. Selalu gelisah. Karena penyakit itu, sang pemuda tak berani keluar rumah siang hari. Takut. Sangat takut.

Sebenarnya, penyakit itu tampak sederhana. Sang pemuda begitu merinding ketakutan ketika melihat bayangan hitam dirinya akibat sorotan cahaya. Tiap kali menemukan bayangan hitam yang mengikuti geraknya, si pemuda berteriak histeris. "Takut! Takut!" Mungkin, bayangan itu terlihat lain olehnya. Seperti sosok hitam misterius yang terus membayangi ke mana pun ia bergerak.

Beberapa tabib telah didatangkan. Ada yang ahli gangguan setan. Ada yang ahli jiwa. Ada juru nasihat. Dan seterusnya. Tapi, semua belum menggembirakan. Sang pemuda masih saja takut. Ia seperti tak akan pernah sembuh.

Hingga suatu kali, seorang guru berkunjung. Dari balik rumahnya nan gelap, sang pemuda mempersilakan kakek tua itu masuk. "Silakan masuk, Guru!" ucapnya pelan. Kakek dan pemuda itu pun duduk dalam ruang gelap. Nyaris, tak seberkas sinar pun bisa menelusup dari celah bilik rumah itu. Ruang-ruang di situ begitu rapat. Gelap dan pengap.

"Ada apa, anakku? Kenapa kau mengurung diri seperti ini?" suara sang kakek memulai pembicaraan. Wajahnya nan teduh bisa terasa jelas oleh sang pemuda. Pertanyaan itu seperti mengungkit-ungkit rasa kesadarannya yang tertimbun takut.

"Aku takut, Guru! Takut!" jawabnya singkat. "Takut apa?" tanya sang guru lagi. "Aku takut dengan bayangan hitam yang terus membuntutiku. Ia seperti menunggu saat aku lengah. Mungkin, sosok hitam itu akan membunuhku!" ungkapnya sambil sesekali menahan tangis.

"Anakku. Tahukah kamu kalau bayangan hitamlah yang mengantarku ke sini. Kini, ia tak dapat masuk bersamaku di ruang ini. Padahal, ia sahabat terbaikku. Kemana pun aku pergi, ia selalu menemani," ucap sang guru tenang.

"Tapi guru, ia begitu menyeramkan!" sergah sang pemuda bersemangat. Sang kakek pun tersenyum. Ia memegang pundak pemuda itu, lembut. "Anakku. Jangan terpengaruh dengan bayangan hitam. Karena itu pertanda kalau seseorang sedang tersorot cahaya," suara sang kakek sambil menahan nafas.

"Anakku," suaranya lagi agak lebih berat. "Songsonglah sumber cahaya, kau akan bahagia. Jangan terus menatap bayangan gelapnya. Karena kau akan takut melangkah!" ucap sang guru meyakinkan.

***
Dinamika hidup kerap menawarkan dua sisi. Satu sisi menawarkan peluang, dan sisi lain memunculkan ancaman. Ibarat cahaya, peluang selalu memberikan harapan. Dan cahaya yang menyorot sebuah benda, pasti akan membentuk bayangan. Itulah sisi gelap sebuah ancaman.

Persoalannya, orang kadang lebih sering melihat sisi gelap ancaman daripada harapan. Mau nikah, takut cerai. Mau bisnis, takut rugi. Mau jadi pejabat, takut kena hujat. Dan seterusnya. Orang pun terkungkung pada rasa takut bayangan hitam yang sebenarnya sisi lain dari sebuah peluang.

Menarik apa yang pernah diajarkan seorang ulama seperti Ibnu Qayyim soal cahaya harap dan ancaman takut. Beliau mengatakan, "Harap dan takut tak ubahnya seperti dua sayap pada seekor burung." Kepakan keduanya akan menerbangkan burung kemana pun ia pergi.

Mungkin benar apa yang dikatakan kakek guru di atas. Songsonglah cahaya harap, dan jadikan bayangan ancaman sebagai teman pengawas. Insya Allah, kita bisa terbang ke puncak cita-cita.

tetaplah bersemangat !!!!

DELAPAN KADO TERINDAH


DELAPAN KADO TERINDAH

Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat,dan tak perlu membeli ! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.
1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.

2. MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang Lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar denganbaik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

3. D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai Untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.

4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, " Kau bebas berbuat semaumu." Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat,berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.

7. KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai Menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado " kesediaan mengalah" Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.

8. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

Mencari Sakinah dengan MAWADDAH DAN ROHMAH


Mencari Sakinah dengan Mawaddah dan Rohmah
Oleh Dwi Asri Anggianasari

Bismillahirrahmanirrahim..
Mudah-mudahan tulisan ini akan berguna buat teman-teman yang akan melangsungkan pernikahan, mengadakan perjanjian mitsaqon Gholizho yang suci, menggenapkan Ad-din. Kita senasib lhooo hee. Yuk baca bareng-bareng
Well, it means nothing without preparation. Setidaknya ada 3 hal yang harus dipersiapan dan terus diperbaharui sebelum dan sesudah pernikahan, kata Teman Karibku: Iman, Ilmu, dan Amal.
Saya boleh menambahkan satu poin lagi? Silaturahim. Karena dengan silaturahim kita bisa mendapatkan banyak doa kemudahan dan keberkahan. Toh ukhuwah yang lahir dari silaturahim akan membawa kebaikan untuk kita kan? Asiiiik!
Tapi di tulisan ini, saya akan lebih mengangkat tentang salah satu ilmu atau informasi dasar terkait pernikahan. Dasaaaaaar banget. Bahkan ini bisa menjadi prinsip yang kuat, tekad bersama, visi yang terus dikejar. Apa hayooooo... Heee..
Gak jauh-jauh dari kata-kata yang biasa didoakan teman-teman kepada kita yang mau nikah kok. Yup, betul! Sakinah.. mawaddah.. rohmah.. (dan di akhir bisa ditambah dengan dakwah).
3 kata doang. Simpel. Gampang pula ngucapinnya dalam setiap doa. Menjadi 3 rangkaian kata yang indah dan membahagiakan bagi kita yang di doakan. Tapi apa kita benar-benar sudah memaknai kata-kata ini di dalam hati? Menjadi prinsip, tekad dan visi yang menghujam teguh? Sudah kita
persiapkan untuk menjadi dinding-dinding rumah tangga yang akan kita bina nanti?
Bentar, saya menghelas nafas dulu. Mencoba meresapi kembali makna dari 3 kata itu sebelum saya ejawantahkan ke dalam tulisan (gaya!). Well, tapi kayaknya tulisan dari ASMA NADIA di buku SAKINAH BERSAMAMU bakal lebih mudah diartikan. Jadi saya kopas aja yah heee.. (Udah sok sok menghela napas tetep aja jatohnya kopas! Dasar (mantan) mahasiswa :P ).
Yaaaaah, kecewa deh pembaca hee.. Gak usah mikirin kopas-nya yaaah, yang penting isinya insya Alloh bermanfaat. Kan mau bagi-bagi ilmuuuu *(geles aje kayak bajaj, Ang!)
Tentang “Sakinah”
Ini bukan tentang Ukhti Sakinah yah! (Gak lucu, Ang! Buruan deh jelasin!). Nah, begini nih kata Mba Asma Nadia..
“Alloh berfirman: Litaskuunuu ilaiha, artinya agar kau berteduh walai para suami kepada istrimu. Litaskuunuu berasal dari kata sakana yaskunu (berdiam atau berteduh). Dari kata sakana muncul istilah sakinah yang berarti tenang. Dalam firman yang lain, Alloh SWT. Berkata: “alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang (QS. Ar-Ra’d: 28).”
Ya udah begitu deh Sakinah! Kayaknya udah jelas bahwa makna sakinah adalah ketenangan, rasa teduh, nyaman. Ini adalah hal yang diidamkan para suami kepada istrinya kan yah? “Ketika melihatnya menentramkan hati”, kata seorang lelaki saat mengutarakan ciri-ciri istri idamannya.
Terus istri seperti apa yang menjadi idaman? Jawabannya adalah istri yang suka ngegosip, cemburuan tanpa alasan, gak bisa ngurusin rumah, anak ditinggalin, ngomel-ngomel mulu! Itu dia jawabannya!!!
Protes? Gak suka sama jawabannaya? ALHAMDULILLAAAAAH, berarti hati pembaca ‘berontak’ yah saat mendapatkan jawaban yang gak seharusnya? Hee, setidaknya secara gak sadar kita tahu bahwa seorang istri idaman yang bikin tenang jika dipandang SAMA SEKALI BUKAN YANG SEPERTI ITU. BETUL, KAMU WAJIB PROTES. Memang bukan itu jawabannya, saya hanya mengetes kejujurna hati *jiah! Jitakin Anggi!
Hati manusia sebenarnya gak bisa berbohong. Sungguh! Karena hati adalah corong satu-satunya Alloh terhadap kita. Ada bagian kecil dari hati kita yang gak bisa diganggu gugat sama kebohongan. Melihat yang bathil dikit, dia langsung meng-alarm-kan diri. Cuman kadang manusianya yang tuli. Bukan hati yang sudah kotor, tapi kita yang gak jujur pada hati kita sendiri.
Nah, kebahagiaan adalah ketika hati kecil kita merasa tenang. Lalu bagaimana itu tenang? Yah itu, kembali kepada QS. Ar-Ra’d ayat 28. Itu aja! Titik! Ketika kita merasa jauh dari Alloh, maka di situlah hati kita merasa gusar. Jujur aja gak apa-apa kok. Gak usah tengsin. Kan jujur sama diri sendiri, gak pake konferensi pers kok. Iya kan? Bener kan? Dosa itu emang membuat hati menjadi gak tenang. Itu Pasti!
Nah, terkait dengan sakinah dalam rumah tangga, maka rumus untuk mewujudkannya adalah yah itu.. mengingat Alloh. Menjadikan Alloh sebagai darah dalam setiap tubuh rumah tangga. Tanpanya kita akan lemas tak berdaya, pucat pasi, dan lama-lama akan mati. Mengingat Alloh itu banyak.. banyaaaaak!
Rukun Islam itu ibadah-ibadah mengingat Alloh. Sholat terutama dan yang paling utama karena di dalamnya terdapat dzikrullah dan ayat-ayat-Nya (Ingat ibadah yang pertama kali diperhitungkan oleh Alloh itu sholatnya lhoo). Trus apa lagi? Mau yang paling ringan? Senyum! Itu juga ibadah! Tapi senyum yang bagaimana? Tentu saja senyum yang diniatkan untuk beribadah pada Alloh.
Bukan senyum yang sengaja dipasang buat ngedapetin perhatian seseorang yaaah. Lurusin niatnya booo. Sebenarnya apa saja menjadi bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat lurus karena Alloh koook. Insya Alloh mengandung pahala, dan yang namanya pahala pasti membahagiakan hati, sebesar apapun pengorbanan yang sudah dilakukan. Insya Alloh. Seperti cerita putri tercinta Rasulullah, Fatimah, yang sempat mengeluh saat harus menggiling dan menumbuk padi (ampe menangis karena saking beratnya). Tau ceritanya gak? Gak?!
Lalu siapa yang harus berperan dalam menciptakan sakinah dalam rumah tangga? Semua. Termasuk khodimat kalau kita punya. Ya suami, Ya istri, ya anak-anak, ya orang tua, ya mertua. Kata Mba-mba yang sudah berpengalaman bertahun-tahun dalam pernikahan, insya Alloh kebagaiaan dan ketenangan hakiki itu nyata ketika kita melihat suami atau anak-anak kita rajin ibadahnya.
Apalagi kalau dilakukan bersama-sama. Subhanallah... Kalau bisa dikatakan, mungkin sakinah ini menjadi dasar harapan bagi suami-istri dalam menjalankan rumah tangganya yang bahagia yah.. bahagia lahir bathin (mauuuuu). Makanya mungkin karena makna yang begitu mendasar itunya “sakinah” diletakan paling awal daripada dua saudara kembar lainnya: Mawaddah, Rohmah.
Tentang Mawaddah
Lets baca kopas-an dari Mba Asma Nadia di bukunya Sakinah Bersamamu..
“Mawaddah, berarti cinta. Tanpa mawaddah kehidupan keluarga akan terasa hampa dan menjenuhkan. Mawaddah biasanya sangat bersifat pribadi. Ia terlepas dari persoalan fisik. Itulah sebabnya Alloh memberikan penyeimbangnya, yakni Rohmah agar saat cinta mulai kehilangan cahaya, masih ada semangat rahmah yang menjaganya”
Hmm... mungkin maksud mawaddah di sini seperti cinta pada umumnya kali yah. Cinta-cinta yang biasa dijadikan tema paling yahud di dunia persinetronan, dunia permusikan, dunia pergosipan, dunia persilatan (?). Tapi yah itu kan, tiada yang abadi. Kadang cinta yang ada semakin membesar, semakin mantap dan indah.
Namun suatu hari bisa juga menyusut seiring dengan perjalanan waktu. Bisa jadi karena bosan atau apalah saya belum tahu. Tapi memang seperti itu, katanya, dalam sebuah penikahan (“katanya” karena pan aye belum nikah).
Cinta yang sudah ada, harus di jaga, di update, di scan dari virus-virus, di healing, diperbaharui, diinovasikan (caranya selama tetep syar’i), karena kalau kagak ia bisa saja berkurang.
Thats why, kewajiban istri itu bukan hanya melayani suaminya tapi juga menjaga pandangan suaminya (karena dari mata jatuhnya ke hati). Huuuu berat yah? Belum tahu sih karena saya belum nikah (akan! Bismillah,, perlancar ya Rabb #numpangdoa :P).
Yah, kita anggap saja peran ini tantangan. Toh suami juga manusia kan? (lagi-lagi kata mba Asma Nadia hee. Soalnya saya sih berharapnya suami saya nanti sadar diri kalau dia sudah beristri jadi awas aja kalo macam-maca :P). Ya udah segini aja tentang mawaddah, soalnya dia harus dijabarkan bersama dengan rohmah, si penyeimbangnya.
Tentang Rohmah
Di bukunya Mba Asma Nadia, “Rohmah artinya kasih sayang, diambil dari kata rohima yarhamu. Kata rohmah lebih bermakna kesungguhannya untuk berbuat baik, apalagi kepada keluarga.
Kata rohmah lebih mencerminkan sikap saling memahami kekurangan masing-masing lalu berusaha untuk saling melengkapi. Sikap ini menekankan adanya saling tolong menolong dalam bersinergi, sehingga kekurangan berubah menjadi kesempurnaan. Sikap rahmah pun lebih sering berperan ketika semangat cinta mulai menurun.
Nah, itulah mengapa mawaddah dan rohmah bagai romeo dan juliet yang jika keduanya ada, maka romantika rumah tangga menjadi sempurna. Tanpa Juliet, Romeo rela bunuh diri. Tanpa Romeo, Juliet rela pura-pura mati.
Mungkin maksudnya Asma Nadia, jikalaupun mawaddah itu sedang menurun, setidaknya tidak ujug-ujug menjadi cuek pada suami dan anak-anak, sehingga kesempatan cinta kembali bersemi akan selalu ada. Jadi cinta yang dimiliki tidak seenak jidat pindah ke lain hati. Hooo gitu yah.. Hmmm baiklah..
Tentang Dakwah
Simpel! Kalau kata guru ngajiku, pada dakwah inilah letak amal kita setelah menikah. Jadi jangan membayangkan amal itu hanya untuk kita dari dari kita (baca: keluarga), tapi dari dari kita, untuk masyarakat. Kan kita gak ingin masuk ke surga tanpa tetangga.
Nah, itulah mengapa Alloh menyerukan kita untuk berdakwah: menyampaikaan apa-apa yang benar. Misalnya menjadi tauladan keluarga muslim yang baik, atau menjadi ustadz di daerah tempat tinggal kita. Kan biasanya kalau ustadz lebih didengar tuh sama ibu-ibu hee. Yah intinya begitu, setelah kita mendapat kebaikan, maka sebarkan lagi kebaikan itu. Kita dapet pahala juga. Bisa jadi amal jariyah karena bentuknya ilmu.
.“Well,.. sebentar lagi.”
“Bahagia?”
“Of Course!!!”
“Deg-deg-an gak?”
“Iyalah!”
“Kenapa?”
“Karena takut”
“Lho takut apa?”
“Takut tidak mampu menjadi istri dan ibu yang shalehah.”
Ia pun tersenyum sambil memelukku.
Katanya, “husnudzon, Ang. Alloh menurut prasangka hamba-Nya. Ikhtiar dan luruskan niat menikahmu.”
Aku menatapnya dalam. Ah, Terimakasih hati.. Terima kasih ya Rabb..
.Maha Besar Alloh yang menciptakan laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan.
Maha Besar Alloh yang mempertemukan dan mengaitkan tali suci pada kita dan jodoh kita.
Maha Besar Alloh yang telah menumbuhkan cinta diantara keduanya.
Maha besar Alloh yang telah mengaruniai kasih dan sayang pada hati-hati kita.
Maha besar Alloh yang telah mengkaruniai kita keturunan-keturunan yang sholeh-sholehah.
Maha besar Alloh yang telah menjadikan kita keluarga yang sakinah, mawaddah mawarohmah.. dakwah.
Maha besar Alloh yang selalu ada pada jiwa-jiwa yang terbuka.

Cinta adalah hamdalah, karena tanpanya ia hanya akan menjadi duka (Ang, 2011)

Filosofi dari Sebuah Tempayan Retak
by scorpio in Kisah-Kisah Inspirasi

Seorang tukang air India memiliki dua tempayan besar, Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan
Yang dibawa menyilang pada bahunya.
Satu dari tempayan itu retak,
Sedangkan tempayan satunya lagi tidak.
Jika tempayan yang tidak retak itu selalu membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya. Tempayan itu hanya dapat air setengah penuh,
Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari.
Si tukang air hanya dapat membawa
Satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.
Tentu saja si tempayan yang tidak retak
Merasa bangga akan prestasinya,
Karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.
Namun si tempayan retak yang malang itu
Merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya
Dan merasa sedih sebab ia hanya dapat
Memberikan setengah dari porsi yang seharusnya
Dapat diberikannnya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini,
Tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,
“Saya sungguh malu pada diri saya sendiri,
dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”
“Kenapa?” tanya si tukang air,
“Kenapa kamu merasa malu?”
“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini,
membawa setengah porsi air dari yang seharusnya
dapat saya bawa karena adanya retakan
pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor
sepanjang jalan menuju rumah majikan kita.
Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi.”
Kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak,
Dan dalam belas kasihannya, ia berkata,
“Jika kita kembali ke rumah majikan besok,
aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah
di sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka naik ke bukit,
Si tempayan retak memperhatikan
Dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah
Di sepanjang sisi jalan,
Dan itu membuatnya sedikit terhibur.
Namun pada akhir perjalanannya, Ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor,
dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu,
“Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga
di sepanjang jalan di sisimu
tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan
di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu
Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu.
Dan aku memanfaatkannya.
Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu,
Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air,
Kamu mengairi benih-benih itu.
Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga
Indah itu untuk menghias meja majikan kita.
Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang. “
Setiap dari kita memiliki
Cacad dan kekurangan kita sendiri.
Kita semua adalah tempayan retak.
Namun jika kita mau,
Tuhan akan menggunakan kekurangan kita
Untuk menghias-Nya.
Di mata Tuhan yang bijaksana,
Tak ada yang terbuang percuma.
Jangan takut akan kekuranganmu.
Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun
Dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.
Ketahuilah, didalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

Mentari Senja: Wanita Pertama Masuk Surga

Mentari Senja: Wanita Pertama Masuk Surga: "Wanita Pertama Masuk Syurga by scorpio in Kisah Wanita Muslim Pernahkah terbersit dalam pikiran anda untuk bertanya “Siapa sih wanita yan..."

Wanita Pertama Masuk Surga


Wanita Pertama Masuk Syurga
by scorpio in Kisah Wanita Muslim

Pernahkah terbersit dalam pikiran anda untuk bertanya “Siapa sih wanita yang pertama masuk surga di akhirat kelak?”. Sebuah pertanyaan iseng yang kalo dipikir-pikir sih ternyata membuat kita penasaran juga ya. Jika anda penasaran (seperti juga aku ketika itu), maka anda sama penasarannya dengan Siti Fatimah, putri Rasulullah Saw. Ia berniat menanyakan hal ini kepada ayahandanya.
Lalu, apakah anda menduga bahwa wanita yang pertama masuk surga itu adalah Siti Fatimah? Atau ibunda beliau Siti Khadijah, atau Siti Aisyah ataukah salah satu dari keluarga Rasulullah Saw lainnya? Mmm. Jika iya, jawaban anda ternyata salah. Inilah hebatnya Islam, tidak mengenal istilah ‘nepotisme’ (hehehe). Dalam sebuah ceramah agama, akhirnya aku tahu, ternyata wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Anda kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.
Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Mmm, pencarian pun dimulai, sodare-sodare…
Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah tersebut. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa. Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali.
Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”
“Masya Allah… Subhanallah…”

KALO CINTA MELEKAT, GULA JAWA SERASA COKLAT
Sobat, tentunya kamu pernah punya “teman khusus” khan !!!?. Tempat kamu curhat, berbagi rasa, yang bikin kamu sama dia makin lengket aja kayak prangko. Pasti merasakan dunia milik berdua yang lain nyewa, dan dia bagai satu tubuh yang tak bias dipisahkan dari anggota tubuh lainnya. Ya gak seh ???
Kata kak Doel Sumbang “ cinta itu anugerah, maka berbahagialah sebab kita sengsara bila tak punya cinta…” hemmmm ^_^
Benar, cinta itu emang anugerah dari Allah yang dikaruniakan kepada manusia dan seluruh penghuni jagat ini. Dengan cinta kehidupan jadi lebih bermakna dan berwarna, yang dengannya manusia merasa bahagia. Kenapa berbahagia ? padahal tak sedikit yang menjadi korban cinta. Merana, bunuh diri, pergi ke dukun kalo orang bilang “ cinta ditolak, dukun bertindak” wuihh serem juga ya… hemm belum lagi mereka yang tepaksa hidup dalam lilitan depresi karena terserang virus HIV. Kalo begini bukan lagi cinta merupakan anugerah, melainkan “anu” yang bikin gerah !
Kenapa cinta mempunyai dua wajah, yang satu merupakan anugerah dan yang lainnya bikin resah? Yang jelas itu bukan kesalahan cinta, apalagi kesalahan yang menganugerahkan cinta, nazubillah!
Sebagai makhluk yang mulia dan sempurna, Allah telah mengkaruniakan kepada manusia perasaan untuk saling berhubungan dengan manusia lain. Ini kemudian menjadi fitrah insani, kalo dalam ilmu sosial ini disebut Makhluk Sosial. Dengan demikian, bergaul dengan setiap manusia dari berbagai ras dan suku bangsa adalah ciri khas manusia.
“ Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbagsa-bangsa, dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertakwa”. ( Qs 49 : 13 )
Nah, dari hubungan interaksi antarmanusia itulah akhirnya kemudian muncul emosi yang saling mengikat satu sama lain. Emosilah yang kemudian memunculkan perasaan cinta dalam diri manusia. Cinta apakah itu ? tergantung dengan siapa manusia itu bergaul. Cinta kepada orang tua, akan memunculkan sikap birrul walidain ( berbakti ), cinta kepada saudara, akan menciptakan saling ukhuwah, cinta kepada tetangga akan memunculkan sikap Tasamuh ( Tenggang Rasa ), cinta kepada fakir miskin, akan memunculkan kepekaan atau kepedulian sosial. Berawal dari sinilah cinta kepada lawan jenis juga menjadi bagian dari hasil hubungan interaksi, mulai dari ingusan ( cinta monyet ) sampai yang udah lanjut usia (selingkuh). Dua jenis cinta yang terakhir inilah yang sering meminta banyak korban.
So, kenapa ada jenis cinta terakhir tadi?. Because…. Ketika menjalin hubungan dengan sesama manusia, seseorang akan bertemu secara fisik, dan bahkan kalo trendnya sekarang bahkan melalui dunia maya pun tanpa kontak fisik dapat menumbuhkan rasa itu. Bisa jadi berawal dari koment-koment yang diberikan ketika teman membuat status. Kontak ini lah yang akan menjadi password cinta artinya perantara tumbuhnya “ rasa itu”.
Lantas… cinta sejati itu yang seperti apa, mengingat kita kan jelas nggak mungkin berhubungan dengan orang lain, apa lagi lawan jenis?
Saudaraku… karena sumber cinta adalah Allah, maka awal dari setiap rasa cinta kepada siapapun haruslah berpangkal dariNya. Hal ini sangat penting artinya sebab pengekspresian cinta yang hakiki yang berpangkal dari Allah, akan melahirkan keaslian sikap, tindakan dan gaya hidup. Tidak ada kepura-puraam didalamnya. Bahkan dalam hal mengekspresikan cintanya kepada lawanjenis, rujukannya adalah keridhaan Allah. Apa yang Allah sukai dari ekspresi cinta seseorang kepada lawan jenisnya ? NIKAH, inilah password cinta yang hakiki. Setelah mereka disatukan dalam ikatan pernikahan, keaslian sikap akan menjadi jaminan terbebasnya mereka dari kasus-kasus cinta kampungan seperti tertulis di atas . Tak ada sifat yang disembunyikan atau didramatisasi, sebab mereka sudah menikah. Sudah sah, susah dan senang ditanggung bersama, sehingga aroma cinta demikian kental terasa. Satu yang perlu diingat… Menikah itu bukan mencari kekurangan pasangan tetapi saling melengkapi.
Kalo udah cinta, gula jawa terasa coklat Swiss…. ^_^
Sumber Inspirasi “ An Nida “