Secerah Pewarna
JANGAN PERNAH LELAH, BELAJAR RELA
Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika Rasulullah saw menemui sahabat-sahabat Anshar, beliau bersabda,”Apakah kalian orang-“,orang mukmin?” Mereka terdiam, lalu berkatalah Umar,”Ya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda lagi,” Apakah tanda keimanan kalian?” Mereka berkata,”Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan rela dengan ketentuan Allah.” Nabi saw kemudian bersabda lagi,” Orang-orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’bah.”
Rela adalah satu hal penting yang disampaikan Rasulullah dalam riwayat ini. Dia adalah sikap menerima semua realita takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, ikhlas, lapang da.da, bahagia, tanpa merasa kecewa atau marah. Kita yang menyimpan
Bersikap rela tidaklah mudah. Karena pada kenyataannya, banyak di antara Kita yang menyimpan sedih, duka, kecewa dan bahkan amarah, oleh sebab yang diinginnkannya berlawanan dengan realita. Takdir Allah tak sama dengan keinginannya. Keputusan Allah berbeda dengan rencananya. Di sinilah ujian berat itu. Tapi kemudian, ada banyak hal yang penting yang mengharuskan kita untuk tidak pernah lelah belajar rela agar Allah pun rela dengan kita.
Cara kita menjalani rela, harus memiliki dasar yang benar dan kuat. Karena itu rela harus menjadi pilihan untuk terus kita belajar tentangnya, tanpa batas ruang dan waktu. Sebagai orang mukmin, rela merupakan pelajaran yang harus kita dalami dengan kerangka iman. Kita pelajari dalam konteks iman, kita dalami bersama iman. Maka belajar rela harus terhubung dengan Allah SWT.
Dalam hal ini, Ibnu Qayyim membaginya menjadi dua.
1. Rela Dengan Allah
Artinya kita rela menerima eksistensi, keberadaan, kuasa Allah dan konsekuensi atas kerelaan itu. Rela secar Dzat, Sifat, dan Asma-asmaNya untuk kita jadikan Tuhan satu-satunya. Yang kita sembah, kita pasrahkan kepadaNya penghambaan dan ibadah.
Pada jenis rela ini, banyak di antara kita yang gagal menjadi rela. Karena kerelaannya dengan Allah sebagai Tuhan, hanya berhenti pada tataran pengakuan saja. Tidak meningkat menjadi penghambaan. Rela pada tataran pengakuan , mengantarkan kita pada tauhid, bahwa Allah kita yakini Tuhan sebagai Tuhan kita yang menciptakan, mengadakan dan dan member kehidupan. Padahal kita memerlukan lebih dari itu, yaitu ‘rela penghambaan’, bahwa kita menyembah, beribadah, dan taat serta tunduk hanya kepada Allah SWT.
Rela secara pengakuan akan ketuhanan Allah lebih mudah. Dan itu bias lebih mudah ketika terbantu oleh akan. Karena itu, bahkan orang-orang musyrik sekali pun, mengakui Allah sebagai pencipta, yang menurunkan air, yang menciptakan bumi, tapi tidak membuat mereka beriman dan menyembahNya,
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘ALLAH’, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” ( QS. Al Ankabut : 61 ). Rela dengan Allah, adalah ikrar, pengakuan, yang berimplikasi kepada ketundukkan beribadah. Karena itu, di pagi hari dan petang hari, kita diajari wirid dan do’a yang bias membantu kita bagaimana meresapkan rela dengan Allah, bersanding dengan kerelaan dengan Islam, dan dengan Muhammad sebagai Rasul Allah. Ada janji balasan yang sangat luar biasa di balik kerelaan yang utuh itu : surga, ampunan, dan kerelaan dari Allah SWT.
2. Rela kepada Allah
Yaitu kerelaan kita untuk menerima apa yang diberikan Allah kepada kita. Rela menerima apa yang ditetapkan Allah untuk kita. Kerelaan yang diliputi dengan kesadaran dan pemahaman yang baik kenapa kita harus rela untuk dan atas semua itu. Ini masuk dalam pengertian rela dan ridha dengan ketetapan dan takdir Allah atas kita semua. Sebagian ulama menyebut kerelaan ini dengan istilah rela dengan segala perbuatan Allah atas kita dan para makhlukNya.
Antara ‘rela dengan Allah’ dan ‘rela kepada Allah’ saling berkaitan. Kualitas rela yang pertama mempengaruhi kualitas rela yang kedua. Pasang surut salah satunya, harus kita sokong dengan penguatan yang satunya lagi. Bila kerelaan kita dengan Allah menurun, kita harus menguatkannya dengan kerelaan kepada Allah. Caranya , memperbanyak menghayati apa-apa yang telah diberikan Allah kepada kita, betapa luas kasih sayangNya, kebaikanNya. Dan sebaliknya, jika rela kepada Allah menurun, kita sulit menerima takdir, berat menghadapi ujian, maka kita harus memperbaikinya melalui penguatan rela dengan allah. Caranya bias dengan khusus memperbanyak ibadah ritual, puasa, sholat lail dan lain-lain. Hal ini akan member penguat pada kerelaan kita kepada ketetapan Allah.
Rela adalah buah dari cinta. Kepada siapa saja yang kita cintai, kita akan rela atas pemberiannya. Terlebih kepada Allah. Rela adalah buah cinta kita kepadaNya. Dialah kedudukan dan prestise tertinggi yang dimiliki orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, yang mencintaiNya di atas segalanya. Rela itu adalah kemuliaan yang hakekatnya tak terlihat bagi banyak orang. Dialah pintu yang paling agung menuju Allah, tempat beristirahatnya orang-orang yang mengenalNya, taman yang Indah di dunia. Karena itu, sudah selayaknya bagi orang-orang yang menasehati dirinya untuk meningkatkan keinginannya mendapatkan kerelaan itu, agar jiwa dan hatinya tidak ditempati hal-hal yang lain, selain cinta kepada Allah.
Rela tidak sekedar soal persepsi. Rela bukan semata soal logika. Ada banyak hal yang kita timbang, kita pandang, dan kita pahami secara rasional, tetapi begitupun tidak selalu bisa kita relakan. Tetapi argumentasi yang kita nalar dengan pikiran, bisa membantu kita belajar dengan cara yang lebih baik untuk menjadi rela. Menaklukkan diri untuk mengerti bagaimana rela lepada Allah, tidak memiliki mekanisme pemaksaan. Sebab pemaksaan itu sendiri sudah berlawanan dengan makna kerelaan. Tidak aka nada kerelaan di dalam keterpaksaan, sebagaimana tidak mungkin ada keterpaksaan, bila benar-benar ada kerelaan. Karena itu, proses menjadi rela merupakan jalan panjang yang harus ditempuh.
Sungguh indah ungkapan seorang di antara mereka,” Hamba memiliki kegelisahan dan Allah memiliki ketentuan, hari-hari pasti berganti dan rezeki telah terbagi. Kebaikan itu berkumpul di dalam apa yang telah Sang Pencipta pilihkan untuk kami, karena menolak pilihan hanya akan meninggalkan celaan dan kesialan.”
Yaaah kita memerlukan waktu dan proses yang panjang untuk samapi ke derajat rela ; rela dengan Allah, maupun rela kepada Allah.
Sumber : Tarbawi Juli 2010
14 April 2011
MEMBERDAYAKAN KERISAUAN
“Seorang mukmin merasa risau di pagi hari dan di sore hari. Dan memang sudah seharusnya bergitu. Karena dia berada di antara dua hal yang mengkhawatirkan. Antara dosa yang telah lalu. Dia tidak tahu apa yang akan Allah putuskan. Dan antara usia yang tersisa. Dia tidak tahu musibah apalagi yang akan menimpanya.”
(Hasan Al Bisri)
Setiap orang pasti pernah mengalami risau. Risau berawal dari suara hati. Risau bagian dari pernik pernik kehidupan manusia sehari-hari. Namun masalahnya, apakah risaunya itu positif atau negatif. Risau yang positif adalah risau yang menghasilkan energy, motivasi dan semangat baru. Sebaliknya risau negatif, hanya menghasilkan rasa resah, berkeluh kesah, kemalasan dan bahkan tindakan yang salah.
Terkadang, sebuah risau terjadi pada tempat yang kurang pas. Seperti merisaukan sesuatu yang yang tidak perlu dirisaukan. Soal rejeki, misalnya. Manusia diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, tetapi ia tidak boleh risau dengan jatahnya. Ia bisa risau tentang bagaimana perjalanan usahanya. Tetapi jatah yang semestinya menjadi hak dirinya tidak akan berkurang, tidak juga bertambah. Masalah lainnya misalnya jodoh yang tak kunjung datang. Masalahnya jodoh itu sudah merupakan wilayahnya Allah yang mengatur, tak perlu dirisaukan. Yang terpenting adalah ikhtiar dalam perbaikan diri tuk dapatkan yang terbaik dari Allah.
Kawan, risau janganlah sampai memasuki wilayah-wilayah yang sudah permanen. Tentunya dimensinya di sini adalah aqidah, keyakinan dan kepasrahan. Sementara dimensi ikhtiar memiliki tempatnya dalam alam nyata. Artinya, secara bentuk dari risau ini adalah merisaukan hal-hal yang sudah dibagikan oleh Allah, setelah segala usaha maksimal dilakukan. Padahal kerisauan itu tidak akan mengubah apa yang telah dijatahkan pada kita oleh Allah.
Ibrahim bin Adham, pernah memberi nasehat kepada seseorang yang risau, ia mengatakan,”Aku tahu rezekiku tak akan dimakan orang lain, karenanya aku tidak risau. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku pun bersungguh mengerjakannya.”
Rasa risau sangat kita perlukan. Meski tak berarti selamanya kita harus risau. Ia berfungsi sebagai penyeimbang bagi seluruh langkah-langkah hidup kita. Agar tidak terlena. Terlena oleh kenikmatan hidup hingga membuat kita lupa diri. Ibarat perjalanan, sekali-kali diperlukan turunan, agar tenaga tak terkuras untuk tanjakan.
Lalu apa yang harus dilakukan kala risau menghampiri diri.
Berikut tips agar risau mendatangkan manfaat dan kekuatan.
1. Saat risau, duduklah sejenak tuk berdialog dengan hati
Di balik setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Seorang mukmin diperintahkan untuk selalu berfikir positif dalam mensikapi setiap peristiwa yang terjadi. Saat risau melanda, hendaknya kita lalui dengaan renungan. Sesungguhnya sebuah bencana, ujian, kesulitan diberikan sebagai pertanda Allah masih mencintai kita. Dengan menyegerakan akibat dosa di dunia. Tidak menumpuk semuanya di akherat kelak. Kita tak kan snaggup jika semua dampak dosa ditangguhkan sampai akherat tiba. Sebuah musibah yang terjadi tidak akan bisa ditiadakan. Kerisauan itu hanya sebatas kemanusiawian, tidak sampai melanggar seperti menyalahkan ketentuan Allah.
2. Disaat risau, isilah waktu malam
Pada hari biasa, mungkin bangun malam bagi sebagian orang mungkin tidaklah mudah. Tetapi saat risau itu ada, biasanya mata tak terpejam walau waktu telah larut. Saat sepeerti inilah, justru saat-saat yang sangat berharga. Lakukanlah hal-halyang bermanfaat. Inilah saat yang tepay tuk mengambil air wudhu. Air wudhu yang membasuh muka akan membersihkan raut wajah kita. Kemudian ucapkan takbiratul ihram, karena dengan takbiratul ihram akanmengecilkan semua permasalahan. Karena allah Maha besar dan kita begitu kecil di hadapanNYa. Semua masalah yang dianggap besar oleh kita, tidak bagi Allah. Dalam sujud yang panjang, adukanlah semuanya. Perbanyaklah permohonan, karena saat sujud merupakan saat terdekat seorang hamba dengan Allah SWT. Mungkin air mata menetes bersama do’a-do’a yang dipanjatkan, taka pa mungkin sudah lama kita tak menangis. Rasakan kelegaan bersama tetesan air mata.
3. Di saat risau, lihatlah kerisauan yang lebih besar
Salah satu cara menghadapi risau, adalah denga melihat lebih jauh orang-orang disekitar kita. Lihatlah orang-orang yang tak semujur diri kita. Selalu ada sisi lebih yang diberikan Allah kepada setiap orang, atas orang lainnya, dalam bentuk. Karena itulah, Rasulullah menganjurkan kita untuk melihat orang-orang yang di bawah kita dalam urusan rejeki. Di atas segala yang pahit, masih ada yang lebih lebih pahit. Tak lain agar kerisauan jangan sampai berubah menjadi pemicu untuk melakukan tindakan yang salah. sebaliknya, ia akan menjadi kekuatan untuk pandai bersyukur dan pandai menghargai karunia.
4. Di saat risau perkuat keyakinan
Memang, tidak mudah untuk bisa berpikir sehat tatkala risau sedang pada puncaknya. Maka tunggulah. Hingga risau sedikit melemah. Segeralah membangun keyakinan dan harapan kembali. Keyakinan bahwa satu atau dua kesulitan, bahkan berpuluh, bukanlah akhir segalanya. Masih banyak jalan yang tersedia, hanya saja mungkin kini kita belum mendapatkannya. Perkuat keyakinan bahwa masih ada masa depan yang menanti. Dari keyakinan akan lahir kemauan. Dari kemauan akan ada dorongan untuk berbuat, bertindak dan memilih jalan.
Maka pada akhirnya, kita bisa memilih sendiri, dengan apa kerisauan akan kita sikapi. Sebagaimana kita bisa memilih untuk dan atas nama apa sebuah kerisauan kita jalani.
Ma’raji : Tarbawi 2003
Created By : Nuna
MINTALAH FATWA PADA HATIMU
Adakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa.
Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati. Sebab dari hatilah, banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar. Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh : niat dan orientasi yang lurus. Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah panglima. Bila benar maka ia sehat, sehat pula seluruh aktivitas fisik pemiliknya. Sebaliknya, bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya.
Hati, memiliki energi yang luar biasa, sekaligus sumber kedamaian yang tiada tara. Di sanalah bersemayam fitrah dan jati diri ketundukan kita sebagai hamba kepada Allah SWT.
Fitrah kemusliman dan ketundukkan itu merupakan warna asli dari keseluruhan tabiat fisik dan psikis kita. Fitrah, yang denganya manusia dititahkan, member kita sensor diri dan pelita penerang jalan. Dalam batasan kemanusiaan, petunjuk itu diberikan oleh suara hati nurani yang jujur.
“Istafti qalbak”. Mintalah fatwa pada hatimu. Begitulah Rasulullah mengajarkan kepada sahabatnya. Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang. Sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang memunculkan keraguan dan kegelisahan dalam dada….” Itu jawaban Rasulullah saat ditanya tentang definisi kebaikan. Secara singkat, Rasul memberi definisi tegas. Untuk membedakan baik dan buruk. Timbangannya ada pada suara hati, ada pada nurani. Hati memiliki kedudukan strategis sehingga setiap muslim dianjurkan untuk mendengarkan, dan mengikuti suara hatinya dalam menentukan sikap.
Seringkali suara hati nyaris tak terdengar lantaran tersumbat oleh hawa nafsu. Atau terselimuti oleh dosa dan kemaksiatan. Mungkin, di antara kita pernah menjumpai hari-hari yang terasa gersang, kering, dan tak ada setespun kesegaran. Hidup seperti tak berdenyut dan nyaris tanpa gairah. Begitulah hati menjadi air muka kita, pahit atau manisnya. Ia juga menjadi ruh kehidupan.
Maka, mengotori hati dengan dosa, sama dengan artinya dengan memadamkan cahayanya. Seperti ditegaskan Rasulullah SAW,”Sesungguhnya, dosa-dosa itu bila terus menerus menimpa hati, maka ia akan menutupinya. Dan bila hati sudah tertutup, akan dating kunci dan cap dari Allah SWT. Bila sudah demikian, tak ada lagi jalan baginya, tak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya, tidak juga jalan kekafiran untuk keluar darinya.”
Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membuat hati bercahaya :
1. Manfaatkan momen-momen sunyi untuk mendengarkan suara hati.
Duduk dan bertafakurlah di waktu malam. Istirahatkan lidah, telinga dan mata kita sejenak, setelah kita gunakan selama puluhan jam dalam seharinya. Jika tak satupun yang terdengar, itulah saat terbaik bagi kita untuk menyadari bahwa hati kita telah ditutupi oleh debu yang tebal. Sehingga ia tak mampu memantulkan gelombang cahaya kebenaran. Kawan, berkhalwatlah denganNya. Menangislah jika perlu, mungkin dengan menangis mampu mengurangi karat-karat hati sehingga mampu menyibak sepercik cahaya tuk kembali padaNya.
2. Luangkan waktu untuk terlepas dari kegiatan rutin.
Seringkali kita terlalu sibuk hingga menjadikannya seperti tak pernah terlepas dari belenggu keduniawian. Padahal bagaimanapun jiwa sebagaimana fisik, perlu istirahat dan ketenangan. Allah SWT sebenarnya telah menyediakan waktu-waktu itu. Kesempatan itu ada pada saat setiap diri kita menunaikan sholat lima waktu. “Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu” ( TQS 2 : 153 ) dan bahkan Rasulullah pernah meminta salah seorang sahabatnya dan berkata “Wahai bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”. Tenangkan pikiran, tundukkan hati dan pandangan, satukan perhatian, penuh hanya untuk beribadah dan berdialog kepada Allah SWT.
Dialah yang menciptakan kehidupan dan segala dinamika hidup. Melalui sholatlah, seseorang memiliki terminal peristirahatan yang nyaman.
3. Biasakan berpikir sebelum bertindak.
Jangan terbiasa melakukan sesuatu dengan harus mengorbankan suara hati nurani. Muhammad bin Kunasah mengatakan “Semakin terbiasa jiwa mengikuti haw nafsu, semakin berat memutusnya dari ketergantungan hawa nafsu..”
4. Lakukanlah perenungan dan penyelaman ayat-ayat Al Qur’an.
Membaca Al Qur’an dan menyelami maknanya, akan semakin mempertajam suara
Hati, untuk tetap berada pada rel fitrah Allah. Dengan Al Qur’an akan membiasakan jiwa untuk selalu mengukur segala sesuatu dengan apa yang diridhai Allah.
5. Hindari terlalu banyak bicara yang bisa menyebabkan pengotoran hati. Sikap menyedikitkan bicara dan memperbanyak amal, menandakan seseorang lebih banyak berpkir dan berdialog serta mendengarkan suara hatinya.
6. Dan banyak lagi yang sebenarnya bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap bersih. Seperti melakukan ibadah sunnah, shaum, zakat dan lain-lain
KINI…. Saatnya kita sesering mungkin mendengarkan suara hati, dengan tulus, jujur dan penuh kelapangan. Suara hati kita, kata hati kita, adalah jati diri keaslian kita. Akankah kita mengkhianatinya ????
Sumber : Tarbawi, 2001
Nuna
Halte Kehidupan
“Berhentilah sejenak. Renungkanlah perjalanan yang telau kau lalui. Siapkan persimpangan-persimpangan dalam hidupmu agar dapat membuatmu kembali menentukan arah perjalanan”.
Kawan… Waktu tak pernah berhenti berjalan, meski manusia di dalamnya tak bergerak sekali pun. Beruntunglah orang-orang yang selalu mengisi kehidupannya dengan kegiatan dan amal kebaikan.
Ketika yakin bahwa hidup ini cuma sekali dan dunialah tempat menempa amal, mempersiapkan bekal yang terbaik sebelum akhirnya memasuki akherat yang kekal, maka sepatutnya faham bahwa tiada waktu yang boleh disia-siakan. Begitu banyak yang bias dan harus dikerjakan.
Berlomba-lomba dalam kebaikan, karena sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang dikerjakan. Tapi terkadang ketika begitu sibuk mengerjakan amanah, ada hal-hal yang terabaikan.
Mencoba bertanya pada diri sendir,jujur pada nurani. Sudahkan hak-hak diri ditunaikan?
Apakah ibadah tetap terjaga? Atau justru tilawah semakin berkurang dan malam selalu terlewat tanpa sempat sujud meskipun hanya 2 rakaat di sepertiga malam ?
Ibarat orang yang sedang melakukan perjalanan jauh, sesekali perlu berhenti untuk beristirahat atau mengisi bahan bakar kendaraan. Seprti itulah layaknya perjalan hidup ini.
Time For Change
Kita sering amat berharap dan menuntut orang lain berubah, namun apakah kita telah sungguh-sungguh menuntut diri kita sendiri untuk berubah ?
Kita sering berpikir dan berupaya keras untuk merubah orang lain, namun apakah kita telah habis-habisan berupaya merubah diri?
Kita sering jengkel dan kecewa melihat yang lain kurang berubah, namun pernahkah kita amat kecewa dan sedih melihat diri sendiri tak kunjung berubah ?
Ketahuilah kita tak akan kuasa merubah hati orang lain, karena setiap hati ada dalam genggamanNya, karena hanya DIA yang kuasa membolak balik hati. Kewajiban ber-Amar Ma'ruf Nahi Mungkar adalah dengan memberi tauladan dan mengingatkan dengan cara yang hikmah.
Tugas terpenting kita adalah menjaga amanah tentang diri kita sendiri, siapa lagi yang bertanggung jawab merubah diri kita selain diri sendiri ?
Kita harus berupaya membantu orang berubah, namun jangan mengabaikan tugas utama kita yaitu memperbaiki diri sendiri.
Percayalah siapapun yang gigih memperbaiki diri karena Allah, pada saat yang sama dia sudah berbuat sesuatu untuk memperbaiki yang lain.
Mudah bagi Allah memilih diri kita jadi jalan perubahan bagi yang lain, sebagai karunia bagi hamba-NYA yang bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Kesabaran Hati
BUKTI KESABARAN HATI
Sufyan Ath-Thauree pun pernah mengatakan tentang ‘bukti kesabaran hati'
Tiga hal tanda engkau telah bersabar : Jangan bicarakan tentang musibah yang menimpamu, jangan diumbar prihal sakit dan lukamu, serta jangan memuji dirimu sendiri.
“Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berdzikir kepada-Nya.” (QS. Al-Hadid [57] : 16)
“Ada secuil catatan tentang si hati…
Bilangan tahun adalah seperti pohon, bulan adalah dahannya,
Hari-hari merupakan cabang-cabangnya, jam adalah daunnya,
Dan nafas ibarat buahnya
Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk taat kepada Allah,
Maka buah pohon itu akan baik, lezat dan murni manisnya
Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk mendurhakai Allah,
Tentu buahnya akan jahat, busuk dan jelek
Waktu panen adalah pada hari kiamat
Yang pada saat itu buah akan ditampilkan,
Apakah itu manis atau asam
Ketulusan dan Tauhid adalah pohon dalam hati
Cabang-cabangnya adalah perbuatan
Dan buahnya adalah kenikmatan hidup selama ini
Kehidupan duniawi dan kebahagiaan abadi di akhirat
Buah tauhid dan ketulusan dalam kehidupan dunia adalah sama
Allah limpahkan berkah kepada hamba –Nya nan ikhlas
Balasan kebaikan berlipat ganda
Kemusyrikan, berbohong, dan kemunafikan juga pohon dalam hati
Buahnya adalah selama hidup tak tentram
Diliputi rasa takut, tertekan, kesedihan, dan sesak dalam dada
Kegelapan hati, dan di akhirat menelan az-zaqqum jua siksaan permanen
Allah ta’ala menyebutkan dua pohon tersebut dalam ayat-ayat cinta-Nya Surah Ibrahim."
“Ya Allah, yang selalu membolak-balikkan hati, mantapkanlah hati kami dalam agama-Mu dan dalam ketaatan pada-Mu, amiin”. Wallahu a'lam bish-shawab.
RAHASIA OMBAK
Pantai yang perkasa adalah kekasihku,Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkankan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba
Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.
Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa
Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.
~ Khalil Gibran
Langganan:
Komentar (Atom)

