Merasa Diawasi



Merasa Diawasi…
Sebuah kisah yang mungkin tidak terjadi, kecuali dizaman ketika orang-orang shalih mengisi kehidupan bermasyarakat. Ketika rasa diawasi Allah swt (muraqabatullah) ada dalam diri banyak orang dan terwujud nyata melalui sikap-sikap yang mengagumkan.

Saudaraku,
Mari dengarkan sejenak saja, sepotong kisah kehidupan mereka yang merasa terawasi dan terpantau oleh Allah swt dalam setiap gerakan. Kisah ini diriwayatkan dalam sejumlah versi, salah satunya diurai dalam kitab Hiyatul Al Auliya, karya Abu Na’im Al Asfihani.

Saudaraku,
Dahulu, ada sorang kaya bernama Nuh Bin Maryam yang dihormati masyarakatnya, selain kaya ia juga dikenal sebagai orang yang berpegang teguh pada prinsip dan ajaran Islam dengan baik. Nuh bin Maryam dikaruniai seoranga anak perempuan yang cantik, dan juga baik akhlaknya. Ia mempunyai seorang pembantu, Mubarak namanya, seorang pembantu jelas bukan dari seorang yang berada, dan tak memiliki banyak harta. Kehidupan umumnya mereka bisa dibilang sangat sederhana, tapi kelebihannya sebagaimana tuannya, pembantu Nuh Bin Maryam itu juga seorang yang kuat berpegang pada nilai Islam dan memiliki prilaku akhlak yang terpuji. Suatu ketika Nuh Bin Maryam memerintahkan memerintahkannya untuk memelihara dan menjaga kebun angggur miliknya. “Mubarak pergilah ke kebun itu, dan jagalah buah-buahnya. Peliharalah buah-buah itu sampai aku nanti akan datang ke sana” ujur Nuh Bin Maryam.
Sampai beberpa bulan kemudian, saat musim panen menjelang, Nuh Bin Maryam datang ke kebunnya. Hari siang nan terik membuat Nuh ingin beristirahat dikebunnya, di bawah bayang-bayang daun dan pohon anggur miliknya. Ia duduk dibawah pohon sambil mengatakan “Mubarak, tolong bawakan setangkai anggur yang sudah masak dan manis” Mubarak lalu menghampirinya dengan membawa setangkai anggur. Setelah dicicipi, Nuh Bin Maryan terkejut dan mengatakan. “Mubarak, tolong bawakan saya yang lainnya, ini masih muda dan asam”, Mubarak lalu datang kembali dengan membawa anggur. Tapisetelah dirasakan anggur itu tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, yaitu masih terlalu muda dan asam. Beberapa kali Nuh Bin Maryam meminta hal yang sama tapi Mubarak kembali membawakan anggur tidak sesuai permintaannya.

Saudaraku,
Nuh Bin Maryam hampir marah. Ia merasa perintah-perintahnya tak dikerjakan sebagaimana mestinya, ia mengatakan “Mubarak, saya minta kepadamu untuk dibawakan setangkai anggur yang sudah matang dan manis, tetapi engkau datang membawa anggur yang masih muda dan rasanya asam. Apakah engkau tidak tahu mana anggur yang manis dan asam?”
Karena akhlaknya yang baik, Nuh Bin Maryam tetap memberi kesempatan untuk mendengarkan jawanban pembantunya yang kemudian membuatnya tercengang. “Pak dahulu anda tidak meminta saya untuk memakan buah-buah anggur ini, anda hanya meminta saya untuk menjaga dan memeliharanya. Demi zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, saya tidak pernah mencicipi buah-buah itu sedikitpun…” inilah jawaban Mubarak. Ia belum selesai dan melanjutkan jawabannya, “Demi Allah, aku tidak merasa diawasi olehmu, dan tidak merasa diawasi oleh siapapun makhluk di bumi ini, tapi aku merasa diawasi oleh Allah yang tidak ada sesuatu yang rahasia bagi-Nya di langit dan di bumi”.

Saudaraku,
Nuh Bin Maryam benar-benar tekejut dengan jawaban itu, jawaban yang begitu memukau karena menyebutkan pembantunya dalah orang yang shalih dan berakhlak mulia. Ia mengatakan, ?
“Mulai sekarang saya akan berkonsultasi denganmu, dan orang yang saya ajak konsultasi haruslah orang yang terpercaya” tak lama kemudian ia mengucapkan sesuatu yang tak diduga oleh Mubarak. “Mubarak, ada orang yang memperistri putriku. Orang itu adalah orang yang berharta, berkedudukan dan memiliki jabatan, kepada siapa kira-kira aku menikahkan putriku?” tanya Nuh Bin Maryam.
Mubarak menjawab “Dahulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri mereka karena pertimbangan kekayaan dan keturunan saja. Orang-orang Yahudi menikahkan putri-putri mereka berdasarkan pertimbangan harta. Orang nasrani menikahkan karena kecantikan. Dan di zaman Rasulullah saw, kaum muslimin menikahkan anak-anak mereka karena pertimbangan agama dan akhlak. Lalu di zaman kita sekarang, orang menikahkan anak perempuan karena harta dan kedudukan. Sesungguhnya seseorang itu dinilai dari orang yang ia cintai, barang siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti mereka termasuk golongan itu.”

Nuh Bin Maryam tertegun denganjawaban itu, kemudian mengatakan “Lalu apa nasihat dan masukkanmu?” ia terus berfikir tentang kecerdasan, kesalihan, ketajaman pandangan, yang dimiliki Mubarak belum pernah ia temui dalam diri orang selainnya. Sebelum Mubarak menjawab Nuh Bin Maryam mengatakan, “Anda saya merdekakan karena Allah..” lalu ia menyambung lagi, “Saya telah pertimbangkan masak-masak, dan saya menilai andalah orang yang paling tepat untuk saya nikahkan dengan anak perempuan saya”.

Saudaraku,
Setibanya di rumah Nuh Bin Maryam pun bercerita kepada putrinya tentang peristiwa yang terjadi, “ Setelah ayah pertimbangkan secara mendalam, ayah memilih dia untuk menikahimu..” Putrinya mengatakan “Apakah ayah ridha aku menikah dengannya?” Nuh Bin Maryam mengatakan, “Ya” putrinya menjawab, “Kalau begitu, akupun ridha menerimanya sebagai suamiku, karena aku merasa diawasi oleh Allah Yang tak mungkin ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya di langit dan di bumi”
Apa buah dari pernikahan kedua hamba Allah swt yang shalih dan shalihah ini? Ketika istri Mubarak hamil dan melahirkan anak laki-laki, mereka namakan anaknya Abdullah.

Saudaraku,
Kita pasti tahu siapa Abdullah?
Ya..Abdullah Bin Mubarak rahimatullah, seorang ulama, ahli hadits, zuhud, ahli ibadah yang namanya menghiasi sejarah Islam di zaman tabi’it tabi’in. itulah buah dari rasa diawasi oleh Allah swt dalam segala keadaan, rasa diawasi dan dipantau oleh Allah swt dalam segala keadaan, pasti memberi yang terbaik untuk hidup.
Oleh: M. Lili Nur Aulia (Tarbawi, edisi 216 Th.11, Dzulhijah 1430 , 3 Desember 2009 )
* * *
Saudaraku,
Ada banyak sekali cara yang bias kita lakukan agar semakin bisa menanamkan rasa Muraqabatullah ( merasa diawasi ). Rasulullah saw bersabda, “Saya wasiatkan kepadamu agar malu kepada Allah sebagaimana kamu malu terhadap orang shalih di antaramu.” ( HR. Ath Thabrani )

Cara lain untuk lebih mendalami rasa muraqabatullah adalah dengan memunculkan rasa malu kepada malaikat pencatat amal, yang selalu mencatat amal perbuatan. Yang tak pernah lupa dan tidur. Merekalah saksi atas kebaikan dan keburukan kita.

Saudaraku,
Duduklah di sini. Atau berdirilah. Atau lakukanlah apa yang ingin dilakukan. Namun, hadirkanlah bahwa Allah senantiasa hadir bersama kita. Allah swt, yang menjadikan kita ada di ala mini, dimana lebih mengutamakan kita di antara makhluk-makhlukNya yang lain. Dia Memperhatikan, Menjaga dan Melindungi. Kebutuhan
Rasakanlah kebutuhan kita untuk diawasi oleh Allah swt, karena itu tanda bahwa kita juga akan mendapat perlindunganNya.

Seperti kisah di atas, rasa takutnya pada Allah berbuah manis dunia dan akherat.
Subhanallah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar