MUSIBAH DI MATA MEREKA dan KITA



Rasulullah SAW dalam riwayat Turmudzi dan Nasa’I “… Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah dan kedukaan kami itu pada urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai obsesi kami dan keimanan kami yang paling besar. Jangan engkau jadikan dunia sebagai pucuk ilmu pengetahuan kami. Dan jangan Engkau kuasakan atas kami, seseorang yang tidak memiliki belas kasih atas kami.”

Do’a ini mengajarkan tentang hakekat kedudukan dan sejatinya musibah yang harus kita sadari. Kita, dalam do’a ini, meminta agar kita tidak ditimpakan musibah dalam urusan agama.

Qadhi Syuraih ra mengatakan “ Aku tertimpa musibah dan aku memuji Allah atas musibah ini atas empat Allah. Pertama karena musibah itu tidak lebih besar dari apa yang terjadi. Kedua , karena musibah itu telah mendatangkan kesabaran untuk menghadapinya. Ketiga, aku bias memohon pahala atas kesulitan dari musibah yang aku terima. Dan keempat, Allah swt tidak menjadikan musibah dalam urusan agama, tapi dalam urusan dunia.”

Karena itulah, para orang-orang shalih memiliki sudut pandang yang berbeda tentang musibah. Bagi mereka selama musibah itu tidak mempengaruhi urusan agama, dan masih dalam lingkup dunia, mereka tidak menganggapnya berat.

Di antara musibah dalam agama adalah ketika kita meninggalkan momentum kedekatan kepada Allah, tapi justru melakukan kemaksiatan dan memperturutkan hawa nafsunya yang bertentangan dengan keridhaan Allah swt. Meninggalkan sholat adalah dosa, terlebih bila seseorang meninggalkannya untukmelakukan kemaksiatan. Bagi orang-orang shalih, meninggalkan sholat jama’ah dipandang musibah. Salah seorang mereka yang ketinggalan takbiratul ihram dari sholat berjama’ah lalu ia meminta sahabatnya agar mendapat ta’ziyah selama tiga hari.

Saudaraku,
Waktu kita pendek. Usia kita hanya hitungan waktu yang tidak banyak. Ibnul Jauzi ra mengatakan, “ Usia itu sedikit saja. Apakah engkau berlaku zalim terhadap perintah Tuhanmu, tapi engkau mohon pertolonganNya? Ia memerintahkanmu untuk bersungguh sungguh, tapi engkau melakukan kebalikannya. Engkau lari dari medan perang, tapi bukan untuk kembali berperang. Engkau ingin mendapatkan ketinggian, padahal tingkatan dirimu tak sesuai keseriusanmu. Apakah engkau ingin memanen tanpa menanam?.”

Mari kita bersama introspeksi diri. Sebab kita yang paling tahu tentang diri kita. Kitalah yang mampu meraba kasatnya hati, kelamnya jiwa dan pikiran dibandingkan kehalusan dan terang benderangnya jiwa orang-orang shalih itu. Jia kita tahu dan sadar diri, semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki kebaikan.
Dahulu, Nabiyullah Musa as diriwayatkan mengatakan kepada Bani Israil, “ Datangkan kepadaku orang yang paling baik di antara kalian.” Lalu datanglah mereka bersama dengan seorang pemuda. Nabi Musa as bertanya,” Apakah engkau orang yang terbaik di kalangan Bani Israil ? Orang itu mengatakan, “ Seperti itulah kata mereka tentang aku.”

Musa as kemudian berkata lagi kepada orang itu, “ Datangkan kepadaku orang yang paling buruk di antara Bani Israil.” Tapi ketika kembali, orang itu tak membawa orang lain kecuali dirinya sendiri.
“ apakah engkau membawa orang yang paling buruk di antara mereka ?” Tanya Musa kepadanya. Orang itu mengatakan , “ Ya saya sendiri orangnya.” Ia melanjutkan, “ Aku tidak tahu ada orang dari mereka yang lebih mengetahui tentang keburukanku sendiri.” Musa as lalu mengatakan, “ Kalau begitu, benar, engkaulah orang yang paling baik di antara mereka.”

Lalu Siapakah kita ?

Sumber : Tarbawi Edisi 208, tahun 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar