JANGAN PERNAH LELAH, BELAJAR RELA

Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika Rasulullah saw menemui sahabat-sahabat Anshar, beliau bersabda,”Apakah kalian orang-“,orang mukmin?” Mereka terdiam, lalu berkatalah Umar,”Ya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda lagi,” Apakah tanda keimanan kalian?” Mereka berkata,”Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan rela dengan ketentuan Allah.” Nabi saw kemudian bersabda lagi,” Orang-orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’bah.”

Rela adalah satu hal penting yang disampaikan Rasulullah dalam riwayat ini. Dia adalah sikap menerima semua realita takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, ikhlas, lapang da.da, bahagia, tanpa merasa kecewa atau marah. Kita yang menyimpan
Bersikap rela tidaklah mudah. Karena pada kenyataannya, banyak di antara Kita yang menyimpan sedih, duka, kecewa dan bahkan amarah, oleh sebab yang diinginnkannya berlawanan dengan realita. Takdir Allah tak sama dengan keinginannya. Keputusan Allah berbeda dengan rencananya. Di sinilah ujian berat itu. Tapi kemudian, ada banyak hal yang penting yang mengharuskan kita untuk tidak pernah lelah belajar rela agar Allah pun rela dengan kita.

Cara kita menjalani rela, harus memiliki dasar yang benar dan kuat. Karena itu rela harus menjadi pilihan untuk terus kita belajar tentangnya, tanpa batas ruang dan waktu. Sebagai orang mukmin, rela merupakan pelajaran yang harus kita dalami dengan kerangka iman. Kita pelajari dalam konteks iman, kita dalami bersama iman. Maka belajar rela harus terhubung dengan Allah SWT.

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim membaginya menjadi dua.
1. Rela Dengan Allah
Artinya kita rela menerima eksistensi, keberadaan, kuasa Allah dan konsekuensi atas kerelaan itu. Rela secar Dzat, Sifat, dan Asma-asmaNya untuk kita jadikan Tuhan satu-satunya. Yang kita sembah, kita pasrahkan kepadaNya penghambaan dan ibadah.
Pada jenis rela ini, banyak di antara kita yang gagal menjadi rela. Karena kerelaannya dengan Allah sebagai Tuhan, hanya berhenti pada tataran pengakuan saja. Tidak meningkat menjadi penghambaan. Rela pada tataran pengakuan , mengantarkan kita pada tauhid, bahwa Allah kita yakini Tuhan sebagai Tuhan kita yang menciptakan, mengadakan dan dan member kehidupan. Padahal kita memerlukan lebih dari itu, yaitu ‘rela penghambaan’, bahwa kita menyembah, beribadah, dan taat serta tunduk hanya kepada Allah SWT.

Rela secara pengakuan akan ketuhanan Allah lebih mudah. Dan itu bias lebih mudah ketika terbantu oleh akan. Karena itu, bahkan orang-orang musyrik sekali pun, mengakui Allah sebagai pencipta, yang menurunkan air, yang menciptakan bumi, tapi tidak membuat mereka beriman dan menyembahNya,

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘ALLAH’, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” ( QS. Al Ankabut : 61 ). Rela dengan Allah, adalah ikrar, pengakuan, yang berimplikasi kepada ketundukkan beribadah. Karena itu, di pagi hari dan petang hari, kita diajari wirid dan do’a yang bias membantu kita bagaimana meresapkan rela dengan Allah, bersanding dengan kerelaan dengan Islam, dan dengan Muhammad sebagai Rasul Allah. Ada janji balasan yang sangat luar biasa di balik kerelaan yang utuh itu : surga, ampunan, dan kerelaan dari Allah SWT.

2. Rela kepada Allah
Yaitu kerelaan kita untuk menerima apa yang diberikan Allah kepada kita. Rela menerima apa yang ditetapkan Allah untuk kita. Kerelaan yang diliputi dengan kesadaran dan pemahaman yang baik kenapa kita harus rela untuk dan atas semua itu. Ini masuk dalam pengertian rela dan ridha dengan ketetapan dan takdir Allah atas kita semua. Sebagian ulama menyebut kerelaan ini dengan istilah rela dengan segala perbuatan Allah atas kita dan para makhlukNya.

Antara ‘rela dengan Allah’ dan ‘rela kepada Allah’ saling berkaitan. Kualitas rela yang pertama mempengaruhi kualitas rela yang kedua. Pasang surut salah satunya, harus kita sokong dengan penguatan yang satunya lagi. Bila kerelaan kita dengan Allah menurun, kita harus menguatkannya dengan kerelaan kepada Allah. Caranya , memperbanyak menghayati apa-apa yang telah diberikan Allah kepada kita, betapa luas kasih sayangNya, kebaikanNya. Dan sebaliknya, jika rela kepada Allah menurun, kita sulit menerima takdir, berat menghadapi ujian, maka kita harus memperbaikinya melalui penguatan rela dengan allah. Caranya bias dengan khusus memperbanyak ibadah ritual, puasa, sholat lail dan lain-lain. Hal ini akan member penguat pada kerelaan kita kepada ketetapan Allah.


Rela adalah buah dari cinta. Kepada siapa saja yang kita cintai, kita akan rela atas pemberiannya. Terlebih kepada Allah. Rela adalah buah cinta kita kepadaNya. Dialah kedudukan dan prestise tertinggi yang dimiliki orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, yang mencintaiNya di atas segalanya. Rela itu adalah kemuliaan yang hakekatnya tak terlihat bagi banyak orang. Dialah pintu yang paling agung menuju Allah, tempat beristirahatnya orang-orang yang mengenalNya, taman yang Indah di dunia. Karena itu, sudah selayaknya bagi orang-orang yang menasehati dirinya untuk meningkatkan keinginannya mendapatkan kerelaan itu, agar jiwa dan hatinya tidak ditempati hal-hal yang lain, selain cinta kepada Allah.

Rela tidak sekedar soal persepsi. Rela bukan semata soal logika. Ada banyak hal yang kita timbang, kita pandang, dan kita pahami secara rasional, tetapi begitupun tidak selalu bisa kita relakan. Tetapi argumentasi yang kita nalar dengan pikiran, bisa membantu kita belajar dengan cara yang lebih baik untuk menjadi rela. Menaklukkan diri untuk mengerti bagaimana rela lepada Allah, tidak memiliki mekanisme pemaksaan. Sebab pemaksaan itu sendiri sudah berlawanan dengan makna kerelaan. Tidak aka nada kerelaan di dalam keterpaksaan, sebagaimana tidak mungkin ada keterpaksaan, bila benar-benar ada kerelaan. Karena itu, proses menjadi rela merupakan jalan panjang yang harus ditempuh.

Sungguh indah ungkapan seorang di antara mereka,” Hamba memiliki kegelisahan dan Allah memiliki ketentuan, hari-hari pasti berganti dan rezeki telah terbagi. Kebaikan itu berkumpul di dalam apa yang telah Sang Pencipta pilihkan untuk kami, karena menolak pilihan hanya akan meninggalkan celaan dan kesialan.”
Yaaah kita memerlukan waktu dan proses yang panjang untuk samapi ke derajat rela ; rela dengan Allah, maupun rela kepada Allah.

Sumber : Tarbawi Juli 2010
14 April 2011





Tidak ada komentar:

Posting Komentar