MINTALAH FATWA PADA HATIMU

Adakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa.

Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati. Sebab dari hatilah, banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar. Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh : niat dan orientasi yang lurus. Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah panglima. Bila benar maka ia sehat, sehat pula seluruh aktivitas fisik pemiliknya. Sebaliknya, bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya.


Hati, memiliki energi yang luar biasa, sekaligus sumber kedamaian yang tiada tara. Di sanalah bersemayam fitrah dan jati diri ketundukan kita sebagai hamba kepada Allah SWT.
Fitrah kemusliman dan ketundukkan itu merupakan warna asli dari keseluruhan tabiat fisik dan psikis kita. Fitrah, yang denganya manusia dititahkan, member kita sensor diri dan pelita penerang jalan. Dalam batasan kemanusiaan, petunjuk itu diberikan oleh suara hati nurani yang jujur.


“Istafti qalbak”. Mintalah fatwa pada hatimu. Begitulah Rasulullah mengajarkan kepada sahabatnya. Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang. Sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang memunculkan keraguan dan kegelisahan dalam dada….” Itu jawaban Rasulullah saat ditanya tentang definisi kebaikan. Secara singkat, Rasul memberi definisi tegas. Untuk membedakan baik dan buruk. Timbangannya ada pada suara hati, ada pada nurani. Hati memiliki kedudukan strategis sehingga setiap muslim dianjurkan untuk mendengarkan, dan mengikuti suara hatinya dalam menentukan sikap.

Seringkali suara hati nyaris tak terdengar lantaran tersumbat oleh hawa nafsu. Atau terselimuti oleh dosa dan kemaksiatan. Mungkin, di antara kita pernah menjumpai hari-hari yang terasa gersang, kering, dan tak ada setespun kesegaran. Hidup seperti tak berdenyut dan nyaris tanpa gairah. Begitulah hati menjadi air muka kita, pahit atau manisnya. Ia juga menjadi ruh kehidupan.


Maka, mengotori hati dengan dosa, sama dengan artinya dengan memadamkan cahayanya. Seperti ditegaskan Rasulullah SAW,”Sesungguhnya, dosa-dosa itu bila terus menerus menimpa hati, maka ia akan menutupinya. Dan bila hati sudah tertutup, akan dating kunci dan cap dari Allah SWT. Bila sudah demikian, tak ada lagi jalan baginya, tak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya, tidak juga jalan kekafiran untuk keluar darinya.”

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membuat hati bercahaya :
1. Manfaatkan momen-momen sunyi untuk mendengarkan suara hati.
Duduk dan bertafakurlah di waktu malam. Istirahatkan lidah, telinga dan mata kita sejenak, setelah kita gunakan selama puluhan jam dalam seharinya. Jika tak satupun yang terdengar, itulah saat terbaik bagi kita untuk menyadari bahwa hati kita telah ditutupi oleh debu yang tebal. Sehingga ia tak mampu memantulkan gelombang cahaya kebenaran. Kawan, berkhalwatlah denganNya. Menangislah jika perlu, mungkin dengan menangis mampu mengurangi karat-karat hati sehingga mampu menyibak sepercik cahaya tuk kembali padaNya.

2. Luangkan waktu untuk terlepas dari kegiatan rutin.
Seringkali kita terlalu sibuk hingga menjadikannya seperti tak pernah terlepas dari belenggu keduniawian. Padahal bagaimanapun jiwa sebagaimana fisik, perlu istirahat dan ketenangan. Allah SWT sebenarnya telah menyediakan waktu-waktu itu. Kesempatan itu ada pada saat setiap diri kita menunaikan sholat lima waktu. “Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu” ( TQS 2 : 153 ) dan bahkan Rasulullah pernah meminta salah seorang sahabatnya dan berkata “Wahai bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”. Tenangkan pikiran, tundukkan hati dan pandangan, satukan perhatian, penuh hanya untuk beribadah dan berdialog kepada Allah SWT.
Dialah yang menciptakan kehidupan dan segala dinamika hidup. Melalui sholatlah, seseorang memiliki terminal peristirahatan yang nyaman.

3. Biasakan berpikir sebelum bertindak.
Jangan terbiasa melakukan sesuatu dengan harus mengorbankan suara hati nurani. Muhammad bin Kunasah mengatakan “Semakin terbiasa jiwa mengikuti haw nafsu, semakin berat memutusnya dari ketergantungan hawa nafsu..”

4. Lakukanlah perenungan dan penyelaman ayat-ayat Al Qur’an.
Membaca Al Qur’an dan menyelami maknanya, akan semakin mempertajam suara
Hati, untuk tetap berada pada rel fitrah Allah. Dengan Al Qur’an akan membiasakan jiwa untuk selalu mengukur segala sesuatu dengan apa yang diridhai Allah.

5. Hindari terlalu banyak bicara yang bisa menyebabkan pengotoran hati. Sikap menyedikitkan bicara dan memperbanyak amal, menandakan seseorang lebih banyak berpkir dan berdialog serta mendengarkan suara hatinya.
6. Dan banyak lagi yang sebenarnya bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap bersih. Seperti melakukan ibadah sunnah, shaum, zakat dan lain-lain

KINI…. Saatnya kita sesering mungkin mendengarkan suara hati, dengan tulus, jujur dan penuh kelapangan. Suara hati kita, kata hati kita, adalah jati diri keaslian kita. Akankah kita mengkhianatinya ????

Sumber : Tarbawi, 2001
Nuna





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar