MEMBERDAYAKAN KERISAUAN
“Seorang mukmin merasa risau di pagi hari dan di sore hari. Dan memang sudah seharusnya bergitu. Karena dia berada di antara dua hal yang mengkhawatirkan. Antara dosa yang telah lalu. Dia tidak tahu apa yang akan Allah putuskan. Dan antara usia yang tersisa. Dia tidak tahu musibah apalagi yang akan menimpanya.”
(Hasan Al Bisri)
Setiap orang pasti pernah mengalami risau. Risau berawal dari suara hati. Risau bagian dari pernik pernik kehidupan manusia sehari-hari. Namun masalahnya, apakah risaunya itu positif atau negatif. Risau yang positif adalah risau yang menghasilkan energy, motivasi dan semangat baru. Sebaliknya risau negatif, hanya menghasilkan rasa resah, berkeluh kesah, kemalasan dan bahkan tindakan yang salah.
Terkadang, sebuah risau terjadi pada tempat yang kurang pas. Seperti merisaukan sesuatu yang yang tidak perlu dirisaukan. Soal rejeki, misalnya. Manusia diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, tetapi ia tidak boleh risau dengan jatahnya. Ia bisa risau tentang bagaimana perjalanan usahanya. Tetapi jatah yang semestinya menjadi hak dirinya tidak akan berkurang, tidak juga bertambah. Masalah lainnya misalnya jodoh yang tak kunjung datang. Masalahnya jodoh itu sudah merupakan wilayahnya Allah yang mengatur, tak perlu dirisaukan. Yang terpenting adalah ikhtiar dalam perbaikan diri tuk dapatkan yang terbaik dari Allah.
Kawan, risau janganlah sampai memasuki wilayah-wilayah yang sudah permanen. Tentunya dimensinya di sini adalah aqidah, keyakinan dan kepasrahan. Sementara dimensi ikhtiar memiliki tempatnya dalam alam nyata. Artinya, secara bentuk dari risau ini adalah merisaukan hal-hal yang sudah dibagikan oleh Allah, setelah segala usaha maksimal dilakukan. Padahal kerisauan itu tidak akan mengubah apa yang telah dijatahkan pada kita oleh Allah.
Ibrahim bin Adham, pernah memberi nasehat kepada seseorang yang risau, ia mengatakan,”Aku tahu rezekiku tak akan dimakan orang lain, karenanya aku tidak risau. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku pun bersungguh mengerjakannya.”
Rasa risau sangat kita perlukan. Meski tak berarti selamanya kita harus risau. Ia berfungsi sebagai penyeimbang bagi seluruh langkah-langkah hidup kita. Agar tidak terlena. Terlena oleh kenikmatan hidup hingga membuat kita lupa diri. Ibarat perjalanan, sekali-kali diperlukan turunan, agar tenaga tak terkuras untuk tanjakan.
Lalu apa yang harus dilakukan kala risau menghampiri diri.
Berikut tips agar risau mendatangkan manfaat dan kekuatan.
1. Saat risau, duduklah sejenak tuk berdialog dengan hati
Di balik setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Seorang mukmin diperintahkan untuk selalu berfikir positif dalam mensikapi setiap peristiwa yang terjadi. Saat risau melanda, hendaknya kita lalui dengaan renungan. Sesungguhnya sebuah bencana, ujian, kesulitan diberikan sebagai pertanda Allah masih mencintai kita. Dengan menyegerakan akibat dosa di dunia. Tidak menumpuk semuanya di akherat kelak. Kita tak kan snaggup jika semua dampak dosa ditangguhkan sampai akherat tiba. Sebuah musibah yang terjadi tidak akan bisa ditiadakan. Kerisauan itu hanya sebatas kemanusiawian, tidak sampai melanggar seperti menyalahkan ketentuan Allah.
2. Disaat risau, isilah waktu malam
Pada hari biasa, mungkin bangun malam bagi sebagian orang mungkin tidaklah mudah. Tetapi saat risau itu ada, biasanya mata tak terpejam walau waktu telah larut. Saat sepeerti inilah, justru saat-saat yang sangat berharga. Lakukanlah hal-halyang bermanfaat. Inilah saat yang tepay tuk mengambil air wudhu. Air wudhu yang membasuh muka akan membersihkan raut wajah kita. Kemudian ucapkan takbiratul ihram, karena dengan takbiratul ihram akanmengecilkan semua permasalahan. Karena allah Maha besar dan kita begitu kecil di hadapanNYa. Semua masalah yang dianggap besar oleh kita, tidak bagi Allah. Dalam sujud yang panjang, adukanlah semuanya. Perbanyaklah permohonan, karena saat sujud merupakan saat terdekat seorang hamba dengan Allah SWT. Mungkin air mata menetes bersama do’a-do’a yang dipanjatkan, taka pa mungkin sudah lama kita tak menangis. Rasakan kelegaan bersama tetesan air mata.
3. Di saat risau, lihatlah kerisauan yang lebih besar
Salah satu cara menghadapi risau, adalah denga melihat lebih jauh orang-orang disekitar kita. Lihatlah orang-orang yang tak semujur diri kita. Selalu ada sisi lebih yang diberikan Allah kepada setiap orang, atas orang lainnya, dalam bentuk. Karena itulah, Rasulullah menganjurkan kita untuk melihat orang-orang yang di bawah kita dalam urusan rejeki. Di atas segala yang pahit, masih ada yang lebih lebih pahit. Tak lain agar kerisauan jangan sampai berubah menjadi pemicu untuk melakukan tindakan yang salah. sebaliknya, ia akan menjadi kekuatan untuk pandai bersyukur dan pandai menghargai karunia.
4. Di saat risau perkuat keyakinan
Memang, tidak mudah untuk bisa berpikir sehat tatkala risau sedang pada puncaknya. Maka tunggulah. Hingga risau sedikit melemah. Segeralah membangun keyakinan dan harapan kembali. Keyakinan bahwa satu atau dua kesulitan, bahkan berpuluh, bukanlah akhir segalanya. Masih banyak jalan yang tersedia, hanya saja mungkin kini kita belum mendapatkannya. Perkuat keyakinan bahwa masih ada masa depan yang menanti. Dari keyakinan akan lahir kemauan. Dari kemauan akan ada dorongan untuk berbuat, bertindak dan memilih jalan.
Maka pada akhirnya, kita bisa memilih sendiri, dengan apa kerisauan akan kita sikapi. Sebagaimana kita bisa memilih untuk dan atas nama apa sebuah kerisauan kita jalani.
Ma’raji : Tarbawi 2003
Created By : Nuna
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar