Menjadi Lilin atau Kunang kunang ???
Menjadi lilin atau kunang kunang ?
Sering kita mendengar jadilah lilin. Dengan cahayanya, lilin mampu memberikan terang pada sekitarnya. Namun sayang, pada saat yang bersamaan dia tak mampu menjaga dirinya agar tak habis terbakar. Tak bersisa, lalu gelappun kembali datang. Dalam hal tertentu, banyak orang yang mengagumi pengorbanan lilin. Ia rela mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain. Tapi ketika aku menulis dengan tujuan mengingatkan dan mengajak pada kebaikan, apakah aku harus mengabaikan diri sendiri? Tidakkah seharusnya aku juga melakukannya, bahkan sebelum orang lain?
"Perumpamaan orang alim yang menyeru kebaikan kepada manusia, tetapi ia sendiri tidak berbuat baik, bagaikan lampu lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri." Seorang sahabat Rasulullah SAW, Usamah bin Zaid RA pernah mengatakan demikian. Seperti itukah aku? Ini menjadi tanda tanya besar yang harus segera kucari jawabannya.
Sangatlah rugi bila ternyata aku larut dalam keasyikan menyusun kata-kata hingga lupa dan terlena untuk berbenah, memperbaiki diri, dari hari ke hari. Sungguh celaka bila aku sibuk mengajak orang lain untuk menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan rosul Nya sementara aku justru sedikitpun tak bergerak. Atau penuh semangat aku mengingatkan orang lain agar meninggalkan sejauh-jauhnya segala yang menjadi larangan Allah dan rosul-Nya, tapi aku tak pernah malu dan malas melanggarnya. Astaghfirulloh!
Sudahkah aku menjadi orang pertama sebelum orang lain —yang membaca tulisanku— melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar? Atau justru aku akan tertinggal di belakang tanpa punya jaminan apakah masih ada kesempatan. Sungguh, aku tak ingin demikian.
"Apakah kalian menyuruh orang-orang berbuat baik, padahal kalian melupakan diri sendiri. Sedang kalian membaca kitab Allah, apakah kamu tidak berakal." (QS. Al-Baqarah [2] : 44)
Terlalu besar bila diumpamakan matahari, terlalu indah jika disamakan rembulan dan terlalu tinggi untuk dikatakan seperti bintang-bintang. Cukuplah aku seperti kunang-kunang, meski terang yang dibagikan hanya sebuah kerlipan, tapi dimanapun ia berada, kemanapun ia menuju, ia mampu memberikan sentuhan keindahan pada gelapnya malam. Ia —dalam dan beserta kelompoknya— mampu memberikan secercah cahaya hingga terlihat jalan kebaikan menuju perbaikan. Tak hanya sesaat, terang sebentar lalu gelap sama sekali. Dan yang jelas, kunang-kunang tetap bisa membagikan cahayanya tanpa harus dirinya terbakar binasa —sia-sia— seperti halnya lilin.
Jauh lebih penting —yang harus aku ingat dan perhatikan— aku harus siap mempertanggungjawabkan apa yang telah aku tuliskan dengan segala kekurangan dan kelemahan yang ada. Seperti yang pernah kutulis, bahwa berbicara memang tidak selalu harus bayar. Itu di dunia. Tapi di akhirat kelak, apa yang kita ucapkan di dunia harus kita bayar —pertanggungjawabkan— baik dengan harga dasar —sesuai yang kita ucapkan— atau bahkan lebih dari itu karena efek yang ditimbulkan.
Sekecil apapun, sesederhana apapun, semoga aku bersama orang-orang yang membaca bisa mengambil pelajaran, menjadi ingat untuk terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan dari waktu ke waktu. Masih banyak hal yang harus kubenahi untuk bisa menjadi pribadi yang bermakna dan bermanfaat tuk diri juga orang lain, dan sungguh ku tak bisa sendiri… karena itu saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan mentaati kebenaran, penting adanya, MUTLAK….
So, sudah dapat memilih mau menjadi apakah kita???
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar