YANG KUINGINKAN
Yang Kuinginkan
Oleh Ayu_shafiyah
Kala cinta menyapa dengan kondisi diri belum siap menyambutnya, yang ada hanyalah keresahan. Kala cinta menyapa dengan bahagia yang ditawarkannya, yang ada hanyalah kebimbangan.
Hari ini, mentari dengan hangat sinarnya menerangi seluruh jagad, tak terkecuali hatiku yang penuh akan rindu dan harap. Mawar di taman pun merekah menambah indahnya gelora yang kurasa.
Malam tadi, purnama tersenyum dengan putih cahayanya, membuat diri ini merasa tak sendiri dalam kelam dan pekatnya malam. Bintang pun berkelap kelip menambah pesona dan keanggunan langit malam.
Rabb, mengapa Kau titipkan sebuah rasa untuknya dalam hatiku yang lemah tanpa daya?
Rabb, mengapa Kau hadirkan bayang dirinya dalam relung-relung jiwaku yang rapuh?
Rabb, mengapa Kau selipkan getaran sayang di setiap kata yang terucap dari bibir kelu?
Rabb, mengapa Kau lantunkan senandung cinta dalam bisikan hati yang masih ingin terbang bebas?
Kurangkum satu demi satu perasaan itu, kurajut hingga ia menyatu. Kucoba pahami makna dibalik sikap dan perilakunya, kucoba berkelana menembus maksud hatinya.
Rabb, Kau Maha Tahu. Bahwa pesonanya membelenggu kalbuku, bahwa hadirnya menghilangkan rinduku. Bahwa sapanya merekahkan senyumku, bahwa setiap katanya menancap dalam samudera hatiku.
Rabb, Kau Maha Tahu. Jika bukan dia sang pemilik tulang rusuk ini, kikislah pesonanya dari pelupuk mataku. Jika bukan dia pangeran dengan kencana keridhaan-Mu, hapus bayangannya dari ingatanku.
Jika bukan dia nahkoda dalam perahu kehidupanku, bawa pergi dia jauh dari dermaga hatiku.
Yang ku inginkan hanyalah cinta-Mu, Ya Rabbi....
SURAT TUK HATI
Sepucuk Surat Untuk Hati Kecil Yang Bersedih...
________________________________________
Kutulis surat usang ini untukmu duhai hati yang sedang bersedih. Untuk hati yang jerih bercinta lagi. Demi hati yang sering merasa sendiri. Hati dari seseorang yang baru bisa didekati setelah lama hanya bisa bermimpi. Ah, aku tidaklah pandai merayu. Tidakpula pandai menghiburmu. Karena aku tahu aku hanyalah seorang asing. Asing yang tidak pandai berkata-kata dan mengusapkan jarinya untuk menghapus air matamu. Maka sungguh pandanglah surat ini sebagai penebus. Penebus? Ya penebus akan ketidak mampuanku. Penebus akan absensi ku. Penebus akan fakta bahwa aku hanya mampu memberikan berderet-deret tulisan tanpa kehadiran langsung ragaku.
Duhai hati. Aku bertanya kepadamu yang sedang bersedih. Bersedih akan kehilangan. Kehilangan dirinya. Yah aku tahu fakta yang membuat air mata itu menggenang di pelupuk matamu. Aku disini bukanlah untuk mengukur dan menebak seberapa dalam kesedihanmu. Sungguh aku tidaklah mampu mengukur itu. Seberapa hebatnya aku dalam ilmu ukur sekalipun aku tetaplah tidak mampu. Aku hanya ingin mengingatkan sesuatu kepadamu. Tentang suatu hal yang dinamakan siklus. Perputaran kehidupan. Dua sisi yang berlawananan. Sama seperti gelap melawan terang. Maka sisi-sisi itu akanlah selalu ada. Berulang-ulang terjadi silih berganti. Maka izinkanlah untuk kali ini aku sedikit bercerita. Bercerita untuk mu. Bercerita tentang datang dan pergi.
Tahukah kamu bahwa suka atau tidak, cepat atau lambat, maka kita selalu mendapatkan kebalikan dari apa yang kita punya. Semua hal dalam hidup yang singkat ini hanyalah berdasarkan hukum itu. Cantik dan buruk rupa. Kaya dan miskin harta. Pandai dan bebal otaknya. Hukum itulah yang selalu didengungkan oleh berbagai pujangga dari zaman lama. Aku tahu ini lagu tua, seringkali kau dengar pula. Tapi apakah kau sadar wahai hati? Bahwa itu juga terjadi untuk pergi dan terganti kedatangan baru lagi. Kita sering kali (atau malah selalu) bersedih karena kehilangan dan kepergian. Yah aku tahu itu, sangat paham malah. Bukankah selalu menyakitkan kehilangan orang yang telah datang dan memberi warna dalam hidup ini. Selalu mengiris saat tahu bahwa tiba-tiba mereka telah pergi. Terkadang malah tanpa alasan sama sekali. Laksana penyulap yang tiba-tiba mengeluarkan merpati dari saputangannya. Begitu pula kepergian itu, terjadi begitu saja layaknya sulap biasa. Tapi aku mau engkau mengingat wahai hati, ingatlah satu hal dari pertanyaan ku ini. Saat sesuatu itu datang dan berada di genggaman, apakah itu datang dengan suatu alasan? Orang cerdik pandai sering membantah dan menjawab dengan pongahnya, “iya saya dapatkan itu dengan usaha dan tenaga. Jadi wajarlah pula sesuatu itu datang kepadaku!”
Tapi lupakah kita bahwa adakalanya kita mendapatkan suatu hal tanpa alasan sama sekali. Ambil contoh dalam hal jatuh cinta. Iya cinta yang berbait-bait ditembangkan, ditulis dalam manuskrip-manuskrip tua, menciptakan pujangga-pujangga abadi sepangjang massa. Apakah cinta itu datang dengan alasan? Mungkin engkau ingin meniru kata-kata orang yang mengatakan, iya aku cinta dia karena fisiknya yang menarik. Atau karena kepandaiannya. Atau pula malah karena kebaikannya. Tapi apakah engkau lupa satu hal? Apakah hatimu benar-benar bisa mendeskripsikan kenapa engkau jatuh cinta dengannya? Sadarkah engkau, bahwa terlepas dari kebaikan, kepandaian, fisiknya maka engkau merasa jatuh cinta kepadanya karena sesuatu hal yang tidak bisa dimengerti. Tiba-tiba saja kok bisa engkau tersipu malu hanya dengan mengingat namanya? Bagaimana bisa engkau memangkukan tangan terpana hanya karena melihat sosoknya dari kejauhan saja? Bagaimana bisa engkau sumringah, buncah oleh perasaan bahagia hanya karena satu dua katanya dalam pesan singkat yang baru saja engkau terima darinya? Apakah engkau sungguh mengerti kenapa engkau bisa bertingkah ganjil seperti itu?
Aku yakin seyakin-yakinnya. Bahwa engkau tidak tahu alasan itu. Yang engkau tahu hanyalah bahwa engkau sedang jatuh cinta. Tanpa alasan tiba-tiba saja datang hinggap dan membelit erat sebegitu kuatnya. Tidak percaya? Duhai hati lihat lah baik-baik ke zaman-zaman dibelakangmu. Apakah engkau bisa menghitung berapa juta arti, berapa juta larik puisi, berapa juta catatan torehan hati yang menyangkut akan jatuh cinta dari berbagai filsuf, pujangga, ilmuwan, raja, sufi bahkan orang miskin hina sekalipun. Semuanya mendeskripsikan kenapa jatuh cinta dengan bahasanya sendiri-sendiri dan bagaimana bisa hal itu terjadi? Karena semua orang tidak pernah tahu alasan jatuh cinta. Mereka hanya tahu dan menikmati kedatangannya. Tidak lebih. Tidak kurang.
Nah satu hal yang harus engkau ingat adalah satu fakta bahwa kedatangan jatuh cinta itu akan dipisahkan oleh kepergian. Dan sebagaimana hal yang terjadi dengan kedatangan jatuh cinta. Maka alasan kepergiannya pun tidak dimengerti. Ah, disini aku tidak mau berdebat tentang apa alasan kepergian itu (toh bisa saja karena sakit, khianat murah karena tergoda “barang” lain yang lebih terlihat mulus rupa, atau malah karena kesepakatan tertentu..seribu satu alasan ada untuk itu). Aku hanya ingin engkau mencoba ingat lagi.
Ingat bahwa datang itu pasti disusul oleh pergi (dan pergipun akan disusul lagi oleh datang yang baru lagu). Sama sederhananya seperti bayi yang pastinya akan berubah menjadi dewasa dan mati (bahkan manusia pun datang dan akhirnya pergi bukan?). Ingatlah satu hal bahwa, HAL ITU TIDAKLAH TERELAKKAN. Pasti terjadi! Pasti menghantam diri. Dan sungguh, sungguh aku tidak mau berdebat akan alasan itu terjadi. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa, sebagaimana kita menikmati suatu kedatangan (mempestakannya malah) maka nikmati pula kepergian. Nikmatilah dengan cara yang sama tapi sedikit berbeda seperti kedatangan. Satu cara yang diajarkan oleh pak haji di televisi, ikhlas saja itulah kuncinya.
Ingatlah bahwa engkau selalu ikhlas akan kedatangan sesuatu yang baik bukan? Entahlah apakah itu kedatangan nasib baik, kedatangan harta, atau kedatangan orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan bersuka ria. Maka ingatlah bahwa engkau pun harus ikhlas akan kepergian. Entahlah apakah itu kepergian nasib buruk, kepergian harta, atau kepergian orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan sedikit berbeda dengan kedatangan, maka engkau tidaklah bersuka ria, tetapi mafhum dan menyadari bahwa waktu kepergian memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian dan melepas. Melepas sesuatu yang memang bukan milik kita (karena bukankah faktanya semua hanya titipan_Nya? Jadi bagaimana pula kita bisa mengeluh untuk semua hal yang jelas-jelas bukan milik kita?).
Aku ingin engkau percaya bahwa hal itu sesederhana ini. S-E-D-E-R-H-A-N-A. Hati kitalah yang memperumitnya. Memperumit dengan suatu bantahan yang selalu keluar, bantahan yang intinya menyangkal bahwa kepergian itu terjadi. Kenapa? Bagaimana bisa? Apa yang salah? Sungguh duhai hati. Tidak ada alasan lebih. Tidak ada pula ada yang salah. Sesungguhnya semua terjadi karena memang sudah waktunya. Memang waktunya bahwa pergi itu akan datang. Maka bersyukurlah, berdoalah, mintalah kekuatan dari_Nya dan relakanlah. Karena waktunya memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian itu datang memangku jiwa.
Maka percayalah wahai hati yang bersedih. Yakinlah duhai hati yang sering merasa sendiri. Relakanlah oh hati yang jerih untuk bercinta lagi. Bahwa siklus itu selalu terjadi, berkebalikan. Dua sisi yang selalu berlawanan tapi pasti terjadi. Ingatlah bahwa hal itulah yang sesungguhnya menempa kita. Mengajarkan kepada kita arti untuk memperbaiki diri, mengajarkan kita kepada arti untuk selalu meresapi moment-moment yang terjadi, menikmati tiap detiknya, dan tidak menyia-nyiakannya. Karena cepat ataupun lambat maka itu akan terjadi. Terus berputar seperti roda pedati.
Pesanku hanya satu wahai hati kecil yang sedang bersedih, saat sesuatu itu datang maka nikmatilah sebenar-benarnya. Syukuri semuanya. Karena engkau harus tahu bahwa sesuatu itu akan pergi juga akhirnya. Dan saat pergi itu datang wahai hati kecil yang sedang bersedih, maka relakanlah hal itu. Sunggingkan senyum dan yakinlah bahwa kepergian itu nanti akan digantikan oleh_Nya dengan suatu kedatangan kembali. Kedatangan yang jauh lebh indah dari awalnya. Jauh lebih berarti dari awal mula. Karena bukankah siklus itu selalu terulang. Beratus-ratus kali sampai kita tua dan mati. Jadi percayalah. Yakinlah. Tersenyumlah.
Yakinlah pula bahwa tuhan selalu tersenyum dengan caranya kepada kita. Mempersiapkan segala yang kita butuhkan dengan misteriusnya jalanNya. Jadi sekali-sekali wahai hati berhentilah bertanya, terimalah dengan lapang dada. Bersiaplah untuk rencana baru yang dipersiapkan oleh_Nya. Karena aku yakin, bahwa Dia tidak akan mempersiapkan hal yang buruk untuk makhlukNya, semuanya indah walau kita tidaklah tahu jelas jalan pikiranNya. Berhentilah bersedih. Semoga tulisan sederhana ini membuatmu bersemangat kembali. Sampai tua dan akhirnya juga “pergi”.Hanya inilah tulisan untuk mu wahai hati kecil, smoga bisa menebus keterbatasanku selama ini. Kelalaianku karena tida k bisa sering bersamamu. Izinkan untuk sementara tulisan ini menghiburmu. Sampai aku benar-benar bisa datang untukmu. Nanti saat takdir akan kedatanganku kembali dan ingat, ingatlah bahwa engkau sama sekali tidaklah sendiri. Sampai nanti wahai hati, sampai kita berjumpa kembali.
MAWAR
Kisah Bunga Mawar
Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.
Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.
Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, “Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini.”
Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.
Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada ‘mawar’ yang tertanam. Tuhan yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Tuhan lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.
Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat “duri” yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk menyirami” hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.
Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.
Jika kita bisa menemukan “mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.
Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan “mawar-mawar” ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.
Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.
KEBIASAAN POSITIF
Kebiasaan yang Memperkaya Hidup
1. Kebiasaan mengucap syukur.
Ini adalah kebiasaan istimewa yang bisa mengubah hidup selalu menjadi lebih baik. Bahkan agama mendorong kita bersyukur tidak saja untuk hal-hal yang baik , tapi juga dalam kesussahan dan hari-hari yang buruk.. Ada rahasia besar dibalik ucapan syukur yang sudah terbukti sepanjang sejarah. Hellen Keller yang buta dan tuli sejak usia dua tahun , telah menjadi orang yang terkenal dan dikagumi diseluruh dunia. Salah satu ucapannya yang banyak memotivasi orang adalah “Aku bersyukur atas cacat-cacat ini aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku”. Memang sulit untuk bersyukur,namun kita bisa belajar secara bertahap. Mulailah mensyukuri kehidupan, mensyukuri berkat , kesehatan, keluarga, sahabat dsb. Lama kelamaan Anda bahkan bisa bersyukur atas kesusahan dan situasi yang buruk.
2. Kebiasaan berpikir positif.
Hidup kita dibentuk oleh apa yang paling sering kita pikirkan. Kalau selalu berpikiran positif, kita cenderung menjadi pribadi yang yang positif. Ciri-ciri dari pikiran yang positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang, harapan dan suka cita. Sering-seringlah memantau apa yang sedang Anda pikirkan. Kalau Anda terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera kearah yang positif. Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif yang akan Anda alami.
3. Kebiasaan berempati.
Kemampuan berhubungan dengan orang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh banyak orang sukses. Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati, kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain.Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain . Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya dan menangkap motif dibalik sikap orang lain. Ini berlawanan sekali dengan sikap egois , yang justru menuntut diperhatikan dan dimengerti orang lain. Meskipun tidak semua orang mudah berempati , namun kita bisa belajar dengan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang empatik. Misalnya, jadilah pendengar yang baik, belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain, belajarlah melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukankepada Anda, dsb.
4. Kebiasaan mendahulukan yang penting.
Pikirkanlah apa saja yang paling penting, dan dahulukanlah!. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yang penting dan mana yg tidak, kebiasaan mendahulukan yang penting akan membuat hidup Anda efektif dan produktif dan meningkatkan citra diri Anda secara signifikan.
5. Kebiasaan bertindak.
Bila Anda sudah mempunyai pengetahuan , sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai dan sudah mempunyai kesadaran mengenai apa yang harus dilakukan , maka langkah selanjutnya adalah bertindak. Biasakan untuk mengahargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif. Banyak orang yang gagal dalam hidup karena hanya mempunyai impian dan hanya mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.
6. Kebiasaan menabur benih.
Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya Anda akan menuai yang Anda tabur. Bayangkanlah , betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih ‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur keburukan.
7. Kebiasaan hidup jujur.
Tanpa kejujuran , kita tidak bisa menjadi pribadiyang utuh, bahkan bisa merusak harga diri dan masa depan Anda sendiri. Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada diri sendir tapi juga terhadap orang lain. Mulailah mengatakan kebenaran, meskipun mengandung resiko. Bila Anda berbohong , kendalikanlah kebohongan Anda sedikit demi sedikit
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur
by KUMPULAN KISAH NYATA PEMBERI INSPIRASI DAN MOTIVASI HIDUP
Pertama :
Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan,bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi target dan keinginan.
Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yg mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan ..
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.
Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ''kaya''.
Orang yang ''kaya'' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yg sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini perwujudan rasa syukur.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.
Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah.
Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar.
Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ''Lulu, Lulu.'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.
Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu''. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.''
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ''Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.''
Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki sgl sesuatu yg kamu inginkan....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ...
Di masa itulah kamu tumbuh ...
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif ...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu ...
HOW to PACKAGE
Bagi sebagian orang, pemasaran identik dengan sales/tenaga penjual. Apabila mendengar kata pemasaran, pikiran langsung melayang pada sosok sales, membawa barang dagangan di kanan kiri motor, menawarkan produk sana sini, dikejar-kejar target,wuah, pasti dalam hati langsung berkata “No!!!!masa sekolah tinggi-tinggi hanya jadi sales”. Hal ini didukung dengan para orang tua yang menanamkan bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak-anak mereka nantinya sebagai bekal menjadi orang kantoran, duduk di belakang meja, ruangan ber-ac plus gaji gede. Wuah, impian semua orang kalau memang harapan tersebut bisa semuanya terkabul. Tapi ??benarkah kenyataan itu dirasakan. Banyak sekali keluhan-keluhan yang mampir di telinga .
“Pekerjaan hanya di kantor, ruangan ac tapi kenapa gak bosan-bosannya aku dihinggapi rasa cemas ??” seorang teman datang sambil mengeluh. “ Perlu refreshing, mungkin bisa membuatmu tenang!!” saran saya. “Sama saja, lagian mana ada waktu buat refreshing toh sepulang dari refreshing juga kayak gini lagi”.
Senyum dan doa semoga kawan saya tersebut menemukan solusi yang tepat bagi dirinya sendiri. Sedikit kejam mungkin sebagai kawan saya tidak membantu apa-apa, sekedar saran refreshing semua orang pasti bisa. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa saya berharap kawan saya menemukan solusi yang tepat bagi dirinya sendiri merupakan hal yang paling tidak mudah. Tapi itu adalah kunci dari semua yaitu DIRI SENDIRI.
Coba kita renungkan. Saat kita bayi, bukankah belajar tengkurap adalah kemauan kita sendiri karena ingin punya variasi gerak selain telentang sambil terkekeh kekeh apabila ayah dan ibu menggoda dengan mainan kesukaan kita. Kemudian ketika kita belajar berjalan, itu juga kemauan kita sendiri.
Mulai dari berpegangan pada tepian meja lalu berdiri kemudian berjalan, tiba-tiba Gubrakk!!ibu menjerit. Tapi kita tetap pantang menyerah, terus dan terus belajar hingga bisa berlari menikmati luasnya dunia ini. Masih banyak lagi hal-hal yang seringkali tidak kita sadari telah kita lakukan hingga saat ini. Saya rasa tentang diri sendiri cukup anda sendiri yang bisa memahami. Ada baiknya kita kembali ke topik pemasaran. Ternyata sebagian besar hidup kita, terdiri atas peristiwa yang berkaitan dengan pemasaran.
Entah anda setuju atau tidak sebagai contoh kawan saya tadi, dia menjual kemampuan dan ilmu pengetahuannya untuk pekerjaan di kantor, ruangan ber-ac, gaji gede bahkan menjual waktu refreshingnya demi mendapatkan satu kata cemas. Kadang saya sendiri juga bingung, kalau dikategorikan sukses, saya bukan orang sukses. Kalau dikategorikan sebagai penulis, saya cuma iseng-iseng saja di waktu longgar. Tapi apakah saya juga harus kejam pada hidup saya, haruskah saya menjual hidup dan hanya mendapatkan kecemasan. Anda mungkin juga sependapat dengan saya, semoga.
Kalau begitu dalam keseharian kita jadi pemasar??jadi sales dong??kalau saya jawab bukan,jelas saya pembohong publik dan saya tidak mau jadi pembohong yang menjual rayuan. Pasti anda berkata dalam hati, menjual lagi, menjual lagi. Apa benar sehari-hari menjadi sales bagi diri kita sendiri ?? Mungkin itu jawaban yang lebih bijak buat kita semua sehingga pandangan tentang pemasaran tidak lagi mengarah hanya pada sales (tenaga penjual) tapi lebih kepada aplikasi dalam kehidupan yang lebih luas cakupannya.
Bukan saya ingin memberikan pledoi terhadap pemasaran tetapi apa yang dibahas di atas hanya untuk membukakan cakrawala tentang pemasaran sehingga nantinya kita tidak lagi menjual hidup kita pada hal-hal yang tidak perlu bahkan mungkin merusak diri kita sendiri.
saya memberi judul artikel ini HOW to PACKAGE (Bagaimana Mengemas) sehingga kita bisa mengatur hidup lebih bermakna bukan sekedar kemas jual. Semua orang bisa mengemas tapi mengemas yang berkualitas belum tentu semua orang mampu.
Dengan sudut pandang/cakrawala yang telah terbuka luas kita dapat meraba-raba hidup kita mulai dari bangun tidur, beraktivitas sampai dengan tidur lagi. Percaya atau tidak dalam rangkaian satu hari beraktivitas anda dan saya banyak melakukan kegiatan mengemas dan tentunya menjual. Sebagai contoh saat bangun tidur kemudian mandi dan berganti baju, ini adalah contoh sederhana yang menjadi rutinitas kita sehari-hari. Kegiatan sesederhana itu kita lakukan bukan tanpa tujuan, salah satunya agar kita tampak menarik. Usaha untuk tampak menarik adalah cara kita mengemas diri kita sehingga apabila nanti berkomunikasi dengan kawan atau orang-orang sepanjang perjalanan kita tampil penuh percaya diri tanpa rasa cemas.
Lagi-lagi kata cemas, tapi jujur bila mengakui lebih sering hidup kita, kita jual pada kecemasan. Dengan kegiatan mengemas kita tampil percaya diri. Mengemas sendiri mendapatkan percaya diri. Simpel dan tidak ada kata-kata cemas di sana. Bukankah itu lebih baik. Secara sederhana memang gampang diuraikan tapi hidup kan bukan sekedar mandi, dandan terus pergi aktivitas ? mungkin itu yang menjadi pertanyaan anda. Tanpa perlu melotot, daripada bola mata mencolot. Coba kita cermati, bukankah dengan hal sesederhana itu kita bisa menikmati aktivitas kita.
Bukankah dengan berdandan kita tampil percaya diri bahkan bila di kaca sering kita merasa paling tampan/cantik (bila di kaca). Itu baru yang sederhana untuk aktivitas biasa, bagaimana jika kita tiba-tiba mendapatkan kesempatan bertemu dengan Bapak Presiden. Pasti heboh luar biasa.
Ternyata kunci mengemas hidup adalah hal-hal kecil yang kita lakukan untuk diri kita sendiri dalam menghadapi kehidupan, seperti yang saya utarakan berupa doa untuk kawan saya tadi.
How to Package your life, It’s all about yours. Bagaimana mengemas hidup anda, semuanya tergantung anda sendiri. Pilihannya mau menjual hanya kepada kecemasan atau pada percaya diri yang anda mulai dari diri sendiri. Saya hanya mengingatkan hal yang besar akan tiba jika anda mampu mengemas sendiri hal yang kecil dengan kualitas nomor 1, dipadu dengan rasa syukur kepada Allah menjadikan semuanya luar biasa. Salam Ukhuwah.
BELAJAR DARI KERANG
KERANG
PADA suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh kepada ibunya kerana sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembik itu.
“Anakku, Tuhan tidak memberikan kepada kerang seperti kita sepasang tangan, sehingga ibu tak mampu menolongmu,” kata si ibu dengan bercucuran air mata. Kemudian menyambung setelah mendengar si anak terus merintih kesakitan, “Ibu tahu ia menyakitkan, anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang dapat kau perbuat.”
Anak kerang menurut saja nasihat ibunya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disedarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus.
Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, berkilau dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus atau bakar di restoran.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahawa penderitaan dan ujian adalah jalan untuk menjadikan ‘kerang biasa’ menjadi ‘kerang luar biasa.’ Dengan itu, ujian dan penderitaan dapat mengubah ‘orang biasa’ menjadi ‘orang luar biasa’ yang penting perlu tabah dan bijak dalam mengahadapi ujian yang menimpa kita
Jangan menjadi orang yang terlalu cepat mengeluh kerana ia tidak memberikan apa-apa malah boleh menjadi racun kepadadiri. Jadi jika anda sedang menderita,sedang diuji hari ini, apa pun sebabnya, bersiap-siaplah untuk menjadi ‘orang luar biasa.’ Insya-Allah….
CINTA DAN KEBAHAGIAN
Tentang Kebahagiaan dan Cinta
Oleh Fathelvi Mudaris
Kita barang kali tidak perlu rumit untuk memikirkan bagaimana mekanisme bahagia. Bahagia, sesungguhnya hanyalah sebuah perkara sederhana. Namun, tak banyak yang cuma-cuma mendapatkannya.
Jika kita telik dan telusuri, maka sesungguhnya, setiap perilaku manusia akan menuju pada satu ordinat kecil saja. Yah, kebahagiaan itu sendiri. Jika banyak yang memikirkan, bahwa dengan memperoleh uang banyak akan melahirkan kebahagiaan, maka sebanyak itu pula orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan uang, yang pada akhirnya menuju ordinat kebahagiaan itu sendiri. Pertanyaannya, apakah benar uang akan menjanjikan kebahagiaan? Belum tentu! Jika yang menjadi titik goal dari kebahagiaan itu adalah serentetan gelar di ujung dan pangkal nama, maka kita melihat begitu banyak pula orang yang mengejarnya. Ordinatnya apa? Lagi-lagi kebahagiaan. Lalu, apakah benar ia menjanjikan kebahagiaan hakiki?
Pada sisi lain, banyak orang yang mengakhiri hidupnya, dengan cara yang begitu tragis. Juga karena, sisi kebahagiaan yang tiada lagi bersemayam di hati mereka. Maka, sesungguhnya, lagi-lagi, arus gradient itu terkonsentrasi pada kata sederhana bernama kebahagiaan!
Coba, kita renungkan sejenak. Dahulu, jika kita masih duduk di bangku sekolah dasar, kita membayangkan, “bagaimana yah, nanti kalo sudah SMP?” Lantas, ketika sudah SMP, semua terasa biasa-biasa saja. Euporianya, hanyalah sesaat saja. Pun begitu seterusnya. Sama halnya dengan ketika kita bertanya, bagaimana sih rasanya mendapat gelar sarjana, magister atau bahkan professor? Barang kali, bahagianya hanya sesaat saja. Namun, setelahnya, semua kembali terasa biasa-biasa saja. Hal senada, barang kali juga kita rasakan ketika dahulu kehidupan kita serba susah. Lalu, ketika Allah mulai melapangkan rizki.
Euphoria yang sesaat lalu kemudian semuanya terasa biasa-biasa saja. Hal ini semua sudah cukup menjelaskan betapa uang, kedudukan, gelar dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya hanyalah menjanjikan kebahagiaan sesaat. Hanya sesaat saja. Bahkan, barangkali ia kemudian menjadi begitu adiktif, selalu minta lebih dan lebih, yang katanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi, jika memang demikian, terlalu sempit makna bahagia itu.
Lalu, bagaimana sebenarnya buffer kebahagiaan itu, hingga ia tetap “long term” di dalam hati? Bagaimanakah?
Hanya ada satu kata dalam mengkatalis terjadinya kebahagiaan. Yaitu, CINTA!
Karena, cinta adalah energi yang begitu menggerakkan. Mungkin, adalah hal klise jika dikatakan, “seorang pemalas tiba-tiba menjadi rajin, karena jatuh cinta. Dan, seorang yang begitu kasar dan keras, tiba-tiba menjadi lembut dan puitis karena cinta.” Tapi, memang begitulah adanya cinta. Kekuatan besar yang mengubah. Tak lekang oleh zaman, dan tak mengenal kata klise.
Coba, kita rasakan sejenak. Bukankah adalah kebahagiaan, ketika kita bisa membuat orang yang kita cintai bahagia? Ketika kita mencintai ayah dan ibu kita, maka adalah kebahagiaan ketika kita bisa membuat beliau berdua bahagia, tak peduli diri kita berpeluh payah? Dan, itu juga sebaliknya —bahkan, barangkali secara eksponensial sudah berpangkat tak berhingga— seorang ayah, atau ibu, tidak pernah peduli dengan peluh payahnya, bahkan berdarah-darah, hanya karena ia ingin, anak yang ia cintai bahagia! Lagi-lagi, sebenarnya, kata kunci atas bahagia adalah cinta!
Seorang pencinta, akan selalu ingin membuat apa yang dicintainya bahagia. Bahagia. Yah, bahagia! Ia, akan begitu cemas dan khawatir, jika sedikit saja ia melukai seseorang yang ia cintai itu. Apa yang ia cintai itu.
Dan, cinta pula yang menjawab, kenapa seorang Bilal bin Rabbah RA, budak Ethiopia itu rela menerima siksaan yang amat pedih. Karena, kebahagiaan yang ia rasakan atas cintanya pada Allah, jauh di atas kebahagiaan semu ketika ia dilepaskan dengan siksaan itu. Kebahagiaan yang merdeka dan letaknya di hati. Cinta pula yang membuat sosok Agung Rasulullaah SAW tidak pernah rela menukar da’wah beliau dengan tawaran harta, kedudukan dan wanita-wanita. Bahkan, beliau membuat metaphor yang jauh lebih dahsyat. “Andai matahari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku, maka aku takkan rela meninggalkan da’wah ini.” Semuanya karena cinta. Dan, cintalah yang kemudian melahirkan kebahagiaan.
Cinta yang tak terjamah logikalah, yang menghadirkan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang takkan pernah terjajah, dan ia tak pernah lekang. Kenapa para syuhada’ itu justru sangat bahagia, jika ia terkena panah, padahal sesungguhnya secara logika itu menyakitkan? Karena, ada kebahagiaan hakiki atas cinta itu.
Iman itu sesungguhnya menjanjikan kebahagiaan. Karena, hanya dengan imanlah, seseorang bisa menangis, kala ia tak terbangun malam. Hanya karena imanlah. Dan, kunci semua itu adalah cinta.
Rahasianya adalah “...dan orang-orang yang beriman SANGAT BESAR CINTANYA kepada Allah...” (QS. Al-Baqaroh [2] : 165)
Cinta yang di atas segala cinta. Dan, bahagia yang di atas segala kebahagiaan. Yap, inilah rahasianya. Ada pada surat cinta-Nya ini...^_^
MENUJU CINTA SEJATI
Menuju Cinta Sejati
Oleh SusWoyo
Berkali-kali aku kandas dalam menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Terakhir kali aku sempat kecewa sangat berat ketika adik kelasku di sekolah juga memutuskan pilihannya kepada seorang prajurit muda yang masih menjalani latihan kemiliteran di suatu kota. Peristiwa ini menambah deretan panjang kekecewaanku dalam sejarah hubunganku dengan mahluk yang bernama perempuan.
Sejak itu aku tak betah di rumah. Sejak itu aku merasa bahwa semua mahluk yang ada di sekelilingku membenci. Orang-orang yang lewat, hewan-hewan piaraan, rumpun-rumpun bambu, tanaman padi yang sedang menguning, seperti memandangku tak bersahabat.
Aku melangkah pergi. Kukatakan “selamat tingal” kepada kampung yang amat kusayangi. Kutinggalkan aroma pedesaan yang akrab sejak aku dilahirkan. Rasanya berat sekali meninggalkan tanah kelahiran. Tapi apa boleh buat, karena semua mahluk di kampungku seolah tak henti-henti untuk membenciku.
Kucoba menenggelamkan diri dengan menjadi “mahasiswa” di universiatas kehidupan. Aku “kuliah” di pasar, terminal, pabrik-pabrik, tempat-tempat pelacuran, dan terahir aku sempat “ngangsu kawruh” di Malioboro, sebuah tempat yang makin hari makin terkenal karena penghuninya sangat heterogen.
Aku berguru kepada para pedagang asongan, pedagang kaki lima, penjual koran, tukang becak, seniman jalanan, pengemis, mahasiswa, orang cacat dan juga para dosen. Tak lupa juga kutemui teman-teman yang ada di pesantren-pesantren dan di bangku-bangku perguruan tinggi.
Sampai suatu saat aku bertemu dengan seseorang yang mengenalkanku dengan orang-orang shaleh, dengan para pemburu cinta Illahi. Dia memperkenalkanku dengan sahabat Rasul, para Imam Madzab, tokoh-tokoh pergerakan Islam, bahkan juga dengan para Sufi yang kadang agak kontroversial dalam memandang cinta dan kehidupan, seperti Rabi’ah Al Adawiyah dan Abu Yazid Al Bustami. Sampai tak tanggung-tanggung, ia bahkan menyelipkan puisi Rabi’ah kepadaku.
Engkaulah Sahabatku, Kerinduanku dan keselamatanku
Tanpa Diri-Mu, wahai hidup dan cinta-Mu
Takkan pernah aku mengembara melintasi
negri-negri tak terbatas ini
Betapa banyak rahmat, anugrah, karunia dan nikmat
telah Kau tunjukan padaku
Cinta-Mu-lah yang kucari
Dan di dalamnya aku menemukan berkat
Aku mulai belajar untuk menghilangkan kekecewaan karena cinta yang kandas. Aku mencoba terus belajar dan belajar memburu cinta sejati, cinta pada Illahi seperti yang dicontohkan para “pemburu” Illahi Rabbi.
Bertahun-tahun aku menenggelamkan diri dalam aktifitas usaha. Lama aku mencoba melupakan cinta kepada lawan jenis. Hingga seorang sahabat mengajakku ke rumah seseorang. Dan di tempat itu aku mendapati ada seorang gadis muda sedang sakit. Tubuhnya amat lemah, sorot matanya tak bersemangat dan seolah sudah tak ada harapan menyenangkan baginya seperti teman-teman seusianya yang sedang indah-indahnya menapaki masa-masa remaja.
Aku iba melihatnya. Bahkan hampir saja air mata ini tumpah di depannya. Dalam hati aku berdoa padaNya. Semoga ia cepat sembuh dan cepat-cepat di karunia jodoh seseorang yang bisa menghiburnya. Itu doa singkatku dalam hati.
Lama kemudian aku tak bertemu dengan gadis itu. Dan ketika bertemu kembali, aku mendapati dia sudah sembuh dari penyakitnya. Alhamdulillah, aku besyukur. Ia sudah kembali beraktifitas seperti layaknya remaja masa itu. Bahkan dengan semangat ia masih mau meneruskan sekolahnya yang sempat terbengkalai.
Entah kenapa, kami makin akrab. Entah kenapa ahirnya timbul kembali hasrat dalam hati ini untuk mencintai lawan jenis, setelah sekian lama kutenggelamkan bahkan ingin kukembalikan saja pada pemilik cinta itu sendiri. Sebab aku masih trauma, bahwa setiap kali aku mencintai seorang perempuan, maka kekecewaanlah yang akan kudapat.
Aku mencoba menghimpun kekuatan untuk mengatakan ”sesuatu” padanya. Harapan yang ada dalam benakku adalah: semoga aku diterima. Dan seandainya ditolak, aku sudah siap untuk menerimanya dan tak akan kecewa seperti masa-masa lalu.
Alhamdulillah, aku diterima. Dan aku tak menyangka jika doaku ketika ia sakit, sekarang sudah terkabul. Dan sama sekali tak menyangka jika ternyata jodoh yang diberika Allah padanya adalah diriku sendiri yang mendoakan dia.
Sekarang ia menjadi istriku, menjadi pendampingku dan sudah memberiku seorang keturunan. Aku tak menyangka kalau cintaku kepada seorang perempuan harus melewati proses yang pahit getir. Dan jika kehidupan itu bisa di refresh tentu aku tak mau mengulanginya lagi.
Barangkali, jika dulu cintaku diterima dengan mulus oleh gadis pujaanku, aku belum tentu bisa mengenal para “pemburu” cinta sejati. Mungkin aku masih buta dengan sirah para nabi, tak tahu jejak indah para sahabat, tak akan mengenal bagaimana semangatnya para sufi mencintai Sang Khalik.
Kejadian yang menimpaku di masa-masa lalu, mengajari dan mengajak diri yang lemah ini, agar tak pernah berhenti berproses dalam mendapatkan cinta yang sejati. Cinta kepada sekeliling, cinta kepada mahluk, cinta kepada suami, istri, anak, sahabat, saudara dan lain-lainnya adalah proses awal untuk menuju cinta yang sebenarnya. Cinta yang agung, cinta yang tiada batas, tak lain dan tak bukan adalah cinta kepada Sang Pemilik Cinta itu sendiri, yaitu Allah SWT.
JATUH CINTA ATAU MEMBANGKITKAN CINTA
Jatuh Cinta Atau Membangkitkan Cinta?
Oleh Rifki
Dari mana datangnya lintah
dari sawah turun ke kali
dari mana daangnya cinta
dari mata turun ke hati
Sebait pantun tersebut sudah sejak lama sudah dikenal. Sebuah bait yang menggambarkan bagamaina proses munculnya cinta. Dari sebuah pandangan mata kemudian memunculkan perasaan di hati. Mungkin karena berawal dari pandangan, maka muncullah istilah cinta pada pandangan pertama.
Kenapa harus ada kata "jatuh" sebelum kata "cinta"? Padahal dua kata itu sangat berlawanan maknanya. Kata "jatuh" beraura negatif. Siapa pun yang terjatuh pasti akan terluka atau merasakan rasa sakit. Sementara kata "cinta", beraura positif. Siapa pun yang merasakannya pasti akan bahagia.
Kanapa kata "jatuh" dan "cinta" itu digabung? Apa mungkin untuk menggambarkan dua perasaan yang saling betolak belakang? Jika cinta seseorang berbalas cinta pula dari orang yang dicintainya, maka kisahnya akan berujung sebuah kebahagiaan. Namun sebaliknya, jika cinta seseorang bertepuk sebelah tangan, maka kisahnya mungkin berujung sebuah kesedihan yang mungkin akan berlanjut kisah pejuang cinta dengan semangat bahwa cinta harus diperjuangkan atau dengan kisah keikhlasan melepas sang pujaan dengan alasan bahwa cinta tak harus memiliki.
Kembali ke bagian awal, bahwa cinta itu berawal dari pandangan mata, maka biasanya, yang menyebabkan jatuh cinta adalah segala sesuatu yang bisa dirasakan secara fisik semisal ketampanan atau kecantikan, kecocokan sifat, dan sebagainya. Namun sudah menjadi sunnatullah bahwa segala sesuatu di dalam hidup ini pasti berubah-ubah. Maka penyebab jatuh cinta yang berupa fisik itu pastinya akan berubah pula. Yang cantik dan tampan, lambat laun akan hilang. sifat dan sikap pun mungkin akan berubah secara perlahan mengikuti situasi dan kondisi. Karenya mungkin jatuh cinta akan jauh lebih mudah daripada mempertahankannya.
Membangkitkan cinta mungkin kebalikan dari jatuh cinta. Jika jatuh cinta penyebabnya dari luar diri seseorang berupa apa yang dilihat atau dirasakan, maka membangkitkan cinta bersumber dari dalam diri seseorang tanpa terpengaruh apa yang dilihat dan apa yang dirasakan. Tak kan jatuh cinta seseorang yang tak menemukan keindahan dan merasakan keindahan. Sedangkan seseorang yang membangkitkan cinta akan selalu menemukan bahwa apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya adalah keindahan dan kebaikan. Jika tidak, dia akan berusaha untuk menjadikannya indah dan baik dengan cara yang indah dan baik pula.
Seandainya kita sudah bisa membangkitkan cinta, mungkin kita kan mudah untuk mengamalkan bait-bait ini ...
aku mencintaimu, maka kau menjadi cantik
tak perlu lagi aku melirik
apalagi membidik
bila ada yang datang pun pasti kutampik
karena tak ada lagi ruang berbilik
di hatiku dan di waktuku yang terus berdetik
aku mencintaimu, maka kau terlihat anggun
membuatku selalu tertegun
menatapmu laksana tersiram embun
yang terkumpul dari ujung-ujung dedaun
pergi sudah gelisahku ke ilalang rimbun
yang tinggal hanya kebahagiaan menahun
aku mencintaimu, maka kau berparas jelita
tanpa perlu ada mahkota
tanpa perlu gaun para putri raja
tanpa perlu riasan pipi merona
karena apa yang kau punya
menenggelamkan segalanya
tak ingin aku mencintaimu karena kau cantik
karena sang waktu akan membuatmu menarik
tak ingin aku mencintaimu karena kau anggun
karena aku tak bisa menikmatinya lagi ketika mataku rabun
tak ingin aku mencintaimu karena kau berparas jelita
karena perjalanan masa kan segera memudarkannya
****
karena aku mencintaimu, maka kau menjadi tampan
tak perlu aku mengalihkan pandangan
apa lagi mengharap datangnya seorang pangeran
bila ada yang datang pun pasti kusingkirkan
karena tak ada lagi ruang yang tersisakan
di hatiku dan di waktuku yang terus berjalan
karena aku mencintaimu, maka kau terlihat sempurna
tanpa perlu kau mengenakan pakaian kebesaran raja
tanpa perlu kau bertahta di singgasana
tanpa perlu kau tinggal di istana
karena apa yang kau punya
ibarat dunia seisinya
karena aku mencntaimu, maka kau terlihat gagah
membuatku selalu terperangah
pandanganku seolah tak ingin berkedip atau pun pindah arah
hilang semua gundah gelisah
tersingkir jauh oleh air bah
bersamamu segalanya menjadi indah
tak ingin aku mencintaimu karena kau tampan
karena sang waktu akan membuatmu tak lagi rupawan
tak ingin aku mencintaimu karena kau sempurna
karena kesempurnaan bukanlah milik manusia
tak ingin aku mencintaimu karena kau gagah
karena perjalanan masa kan segera membuatnya punah
Yang ternyata sulit, tapi bukanlah mustahil.....
RAHASIA OMBAK
RAHASIA OMBAK
Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkankan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba
Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.
Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa
Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.
~ Khalil Gibran
UNTUKMU (CALON) SUAMIKU
Untukmu (calon) Suamiku
Oleh Aisyah
Bismillah....
Wahai seseorang yang telah tertulis dalam lauhul mahfudz-ku, imamku dan ayah dari anak-anakku, engkau yang membersamai perjalananku nanti...
Apakah yang sedang kau lakukan di sana?
Aku percaya kau sedang memperbaiki dirimu, memantaskan dirimu tuk menjadi imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak...
Aku percaya kau sedang menempa dirimu dalam beribu cobaan dengan menelantarkan dirimu sendiri pada medan dakwah dan problematika ummat... mencampakkan jauh egomu, membaktikan dirimu tuk ummat...
Aku percaya kau sedang mengkaji, kau sedang belajar, belajar ilmu dunia terutama ilmu akhirat, yang akan kau gunakan dalam mendidikku dan buah hati kita nanti...
Aku percaya Quran selalu ada dalam hatimu, selalu terucap dari bibirmu dan dzikir slalu melantun menemani langkah jihadmu...
Aku percaya kau sedang menundukkan pandanganmu, menjaga hatimu dan mencampakkan hawa nafsumu...
Aku percaya kau sudah merancang hidupmu, hidup kita, keluarga kita, nantinya juga untuk dakwah, untuk ummat, dan hanya karnaNya...
Aku percaya, kau sedang memantaskan diri dan terus memperbaiki diri di sana, di belahan bumi manapun kau berada...
Aku pun begitu sayang...
Aku sedang belajar... belajar menempa diri, menjauhkan egoku demi ummat, membaktikan diriku untuk orang lain, agar baktiku padamu pun sempurna...
Aku sedang belajar, meniti dakwahku, meniti cita-cita duniaku, meniti cita-cita akhiratku, agar kelak keluarga Islami dan kluarga Qur’ani yang aq inginkan nanti dapat kubangun bersamamu... karna kau tahu? meskipun kau imamku, ibu adalah madrasah pertama bagi mujahidah kecilnya nanti...
Aku sedang belajar menjaga diri, menjaga pandangan dan hatiku, agar ketika kau memiliki hati ini, hati ini masih utuh sempurna hanya untukmu...
Aku sedang menempa diri, untuk menjadi seorang Khadijah untukmu, yang menjadi tempatmu membagi resah... seseorang yang kau datang padanya, saat kau tak tahu lagi akan datang pada siapa... seseorang yang menguatkanmu dan menggenggam slalu tanganmu dalam perjalanan jihadmu...
Akupun ingin menjadi ‘Aisyahmu, seorang yang membuatmu tersenyum dan kembali ceria saat penatmu mulai datang, seorang yang menyerap ilmu darimu dengan sempurna dan membenarkan apa-apa yang salah dalam lakumu, seseorang yang mencintaimu dengan cemburunya, namun kau rasakan sakitnya, saat ia tersakiti, hingga kau katakan pada yang lain “janganlah kau sakiti aku dengan cara menyakti ‘Aisyah”...
Aku ingin menjadi Fatimah, yang tak kau bagi cintamu pada yang lain.. bukan karna aku tak percaya kau tidak dapat berlaku adil, tapi karna aku ingin mencintaimu dengan sempurna, tanpa diganggu oleh cemburuku, itu saja...
Tak kalah lagi, aku ingin menjadi seperti ibunda hajar, yang tak gentar saat kau tinggalkan di padang pasir tandus dengan seorang bayi mungil dipelukan.. tak takut akan kehilanganmu, karna keyakinanku pada Rabbku lebih besar daripada yakinku padamu... cintaku padamu, tak akan mengalahkan cintaku pada Rabbku...
Usahaku ini tidak mudah sayang, begitupun usahamu...kuyakin itu...
Maka tetaplah dalam jihadmu...tetaplah dalam usahamu...tetaplah dalam ikhtiarmu... aku yakin kau kuat di sana, dan doakanlah agar akupun kuat di sini dalam jihad dan ikhtiarku...bawalah aku dalam tiap doa dan sujudmu, kumohon... karna doa yang dapat menolongku...
Hingga saatnya, kita bertemu dalam ikatan suci menyempurnakan separuh dien... dan kita akan melanjutkan jihad kita bersama...
Dan nanti...terimalah aku apa adanya jika aku belum bsa mejadi khadijahmu, ‘aisyahmu atau bahkan menjadi seperti ibunda hajar... tapi bimbinglah aku menjadi seperti mereka... dan kita bimbing bersama mujahid muda kita nanti tuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah ini...
Teruntukmu yang ada di sana, kuatlah...dan bersabarlah...
Bawalah aku dalam doa dan sujudmu, agar cinta kita nanti, hanya karnaNya...aamiin...
DO'A
~* Do'a Pasangan Shaleh *~
Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,
jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Amin ya rabbal alamin.
WANITA PERLU DIPERHATIKAN
Perhatikanlah Aku!
Oleh Anung Umar
Ia terperangah dengan SMS yang dibacanya. Entah bagai mendapatkan durian runtuh atau justru tertimpa runtuhan durian. “Akhi, ana akhwat.. umur 23 tahun.. tinggi.. ativitas.. Apakah antum berminat menikah dengan ana?” Sedang mimpikah ia? Padahal siang itu matahari sangat terik dan cuaca sedang panas-panasnya. Meskipun tidak sepanas di gurun, namun suhu ketika itu sangat mendukung bagi seseorang untuk sulit memejamkan mata.
Tanpa bersorak dan tanpa pula berjingkrak-jingkrak, ia balas SMS itu sekaligus menanyakan identitas si pengirim sms itu. Setelah berlalu beberapa waktu, entah berapa minggu atau bulan, usut punya usut, selidik punya selidik, akhirnya terkuaklah identitas si pengirim SMS yang sebenarnya. Ia ternyata istrinya sendiri! Ada apa dengan istrinya?
‘Makar’ apa yang ingin ia lakukan terhadap suaminya sendiri? Padahal suaminya seorang yang saleh, baik din dan akhlaknya (dan hanya Allahlah yang lebih berhak menilainya, saya tidak bermaksud mendahului Allah dalam memberikan tazkiyah terhadap seorang pun). Ia juga penuntut ilmu syar’i di suatu universitas dan seorang hafizh Al-Quran 30 Juz, meskipun saya tidak tahu berapa hafalannya yang tersisa setelah menikah.
Dengan kondisinya seperti itu, ditambah padatnya rutinitas dia sehari-hari antara belajar dan mengajar, sangat kecil-menurut saya- peluang baginya untuk ‘ngelirik-lirik’. Kalau begitu, apa yang mendorong si istri ‘merelakan’ suaminya untuk ‘menduakannya’?
Ia memang seorang mahasiswa, bukan PNS atau pengusaha atau orang yang memiliki profesi lain yang ‘menjanjikan’ dari segi finansial. Akan tetapi, bukan berarti ia suami yang tidak bertanggungjawab. Setiap bulan ia tetap memberi nafkah yang ia peroleh dari hasil mengajar kecil-kecilan dan tunjangan dari kampus kepada istri dan satu anaknya yang ada di kampung. Lantas, mengapa si istri ‘berharap’ suaminya ‘melirik’ kepada wanita lain?
Kalau diperhatikan dari hari-hari sebelumnya, selalu ada ‘peperangan’ sengit antara mereka berdua di HP. Kalau hari ini ‘gencatan senjata’, besoknya ada ‘pertempuran’ lagi. Demikianlah. Itu terjadi hampir setiap hari. Sampai-sampai ia bertanya kepada saya, “Apa ana cerain aja dia ya?” Saya sarankan ia agar berkonsultasi saja dengan ustadz.
Datanglah ia ke salah seorang ustadz. Ia ceritakan seluruh masalahnya. Setelah konsultasi, saya tanya apa yang dinasehatkan ustadz kepadanya. Ia menjawab, “Kata ustadz, intinya sih, itu karena dia kurang (maaf) dibelai aja.” Dibelai? Apa korelasinya antara cekcok dengan belaian? Saya tidak yakin dengan saran itu. Saya meragukannya!
Suatu hari ketika sedang membongkar isi lemari buku di rumah, saya menemukan sebuah buku berjudul Mars And Venus On A Date karya John Gray, Ph.D. Entah buku siapa itu, apakah milik orang tua atau kakak. Pandangan saya tiba-tiba melekat di hal. 396 pada judul Mengapa Wanita Membutuhkan Pria.
Di situ penulis menyebutkan perbedaan wanita di masa lalu dan zaman sekarang. Bila di masa lalu seorang wanita benar-benar membutuhkan perlindungan pria dan dukungan fisik darinya, sedangkan sekarang, wanita dapat mengurus dirinya sendiri (ini menurut penulis, mungkin berdasarkan kebiasaan wanita barat, seperti wanita karier), maka kebutuhannya pun berubah.
Penulis berkata, “Wanita tidak lagi membutuhkan pria terutama untuk kelangsungan hidup dan perlindungan, melainkan untuk kenyamanan emosional dan mengemong. Semakin wanita ‘tidak’ membutuhkan pria dalam arti tradisional, semakin butuhlah dia akan perhatian dan kasih sayang pria yang bersifat romantis…Seluruh pemikiran wanita dalam tiga puluh tahun terakhir ini telah berubah secara dramatis. Roman merupakan hal yang paling utama.”
Pikir saya, inikah korelasi antara “belaian” dengan percekcokan itu? Mungkin saja. Karena dari sisi finansial si istri tidak terlalu ‘bergantung’ dengan teman saya itu. Ia juga bekerja di kampungnya (tentunya di tempat yang tidak banyak percampurbauran antara pria dan wanita).
Lalu pandangan saya terpaku lagi di hal. 403 pada judul Penyebab Kemurungan Yang Berbeda. Penulis menyebutkan, “Penyebab utama kemurungan pada wanita adalah merasa terisolasi. Ketika seorang wanita sedang dalam keadaan paling tidak bahagia, itu adalah ketika wanita merasa bahwa ia harus mengerjakan segala-galanya sendiri dan tidak seorang pun yang mendampinginya. Perasaan dibebani tanggung jawab untuk diri sendiri dan untuk orang lain ini menjadi sumber kemurungan.”
Lalu di di halaman berikutnya penulis menyebutkan, “Ironisnya bagi pria adalah sebaliknya. Ketika seorang pria merasa bahwa ia bertanggungjawab untuk dirinya sendiri, ia merasa besar hati tentang dirinya. Ketika ia merasa dapat melayani orang lain, ia semakin merasa besar hati tentang dirinya…Pria senang bila bisa membantu dan ‘dimanfaatkan’ oleh wanita. Sebaliknya, wanita menjadi sedih bila dia terlalu banyak ‘dimanfaatkan’.”
Saya berpikir lagi, mungkinkah ini korelasi antara “belaian” dan percekcokan itu? Sangat mungkin. Si istri mungkin MERASA seluruh beban tanggung jawab rumah tangga di antaranya membesarkan buah hatinya, ditanggung dia sendiri, tanpa ada perhatian suami.
Dan kemungkinan itu makin mendekati kebenaran. Sebab, sebagaimana dikabarkan teman itu kepada saya, setelah ia menyelesaikan studinya lalu berkumpul kembali dengan istrinya, ‘dua faksi’ yang selama ini bertikai, ternyata bisa rukun dan hidup tentram lagi. Dan tentunya, tak ada lagi setelah itu ‘pertempuran’ sengit di HP dan tak ada pula “sms kejutan” yang menawarkan pernikahan.
Benarlah apa yang dikatakan ustadz tadi. Konflik yang menimpanya bermuara dari kurangnya “belaian”, kurangnya perhatian, atau merasa kurang diperhatikan!
Bisa jadi, -wallahu a’lam- sebab itu pulalah mengapa Nabi kita صلى الله عليه وسلم dengan padatnya aktivitas beliau dalam mengurus umat, bila usai shalat Ashr, meluangkan waktu untuk menemui istri-istrinya. Beliau menyempatkan diri untuk mengecup istrinya sebelum menunaikan shalat di masjid. Beliau juga berkumpul dengan para istrinya setiap malam di rumah istri tempat beliau bergilir. Semua itu agar mengharmoniskan hubungan beliau dengan mereka, agar mereka merasa diperhatikan dan tidak diacuhkan!
Mungkin itulah yang perlu dipahami oleh para suami. Sebab jika seorang istri merasa kurang mendapatkan perhatian dari suaminya, bisa saja muncul darinya sesuatu yang ‘aneh bin ajaib’ demi mewujudkan keinginannya: “perhatikanlah aku!”. Entah dengan mengirim “sms kejutan” atau seperti yang dialami salah satu kerabat saya.
Suatu hari istrinya mengeluh sakit perut. Ia muntah-muntah dan terkena semacam diare. Akhirnya si suami membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa beberapa lama, ternyata tidak ditemukan penyakit apa pun, seluruh badannya normal. Padahal kelihatannya lemah lunglai istrinya itu.
Seorang suster bertanya dengan penuh keheranan kepada si suami, apakah ada masalah sebelumnya. Si suami menjawab bahwa tidak ada masalah apa-apa, hanya saja ia baru berkumpul bersama istri dan anaknya setelah beberapa bulan belakangan disibukkan dengan pekerjaan di luar kota. “Oh, itu mungkin masalahnya, Pak!” demikian komentar suster.
Walhasil, seorang suami memang harus tahu kebutuhan istrinya. Selalu memberikan perhatian serta sabar dalam meladeni tingkah lakunya yang mungkin saja bisa membuat manyun mulut, dahi berkerut, atau malah sakit perut. Itulah konsekuensi pernikahan. Bukan hanya “manis-manisnya” saja yang dirasakan, yang “pahit” pun perlu dicicipi. Makanya itulah ibadah, perlu pengorbanan dan kesabaran! ^_^
CINTAMU SEBATAS FITRAHMU
Cintamu Sebatas Fitrahmu
Imam Asy-Syafi’i berkata, “Siapa yang hafal syair, akan lembut perangainya. ” Atsar itu pernah disampaikan seorang dosen beberapa tahun lalu. Entah, mungkin itulah yang membuat saya akhir-akhir ini semangat baca syair, sajak dan puisi .
Memang ada kenikmatan tersendiri membaca beberapa karya sastra itu. Hati sering terasa terbawa oleh perasaan yang diungkapkan penyair atau penyajak dalam tulisannya. Kalau ia mengungkapkan kegembiraannya, hati pun seolah-olah ikut gembira. Bila ia mengungkapkan kesedihannya, hati pun seakan-akan ikut merasakan kesedihannya.
Namun, ketika sedang asyik-asyiknya menyelam dan menikmati beberapa karya sastra itu, tiba-tiba ada yang terkalang di mata dan terganjal di hati. Ada beberapa keganjilan dalam beberapa tulisan (terutama, syair, puisi dan sajak yang bertema percintaan) yang bisa menghilangkan atau mengurangi keindahan karya-karya sastra itu. Keganjilan itu mungkin sudah dianggap “biasa” bagi orang zaman sekarang, tapi belum tentu “biasa” bagi syariat.
Aku hidup untuk merindukanmu..
Semua yang ku lakukan hanya untukmu…
Karena kau segala-galanya bagiku..
Pada dua persimpangan laluan jalan hidup ku ini, aku cuma ada dua pilihan, hidup untuk terus mencintaimu atau mati !
Siang hingga malam tak terasa. Di fikirku hanya satu. Di anganku hanya satu. Dirinya..
Setiap detik detik waktuku selalu mengingat dirimu…entah mengapa…..
Tuhan telah mati, sejak aku mencintaimu!
Ada lagi perkataan-perkataan semisal yang saya dapatkan di internet. Intinya semua itu menggambarkan tentang gelora cinta yang (mungkin) dirasakan si penulis kepada orang yang ia cintai.
Rasa tertarik dan cinta terhadap makhluk (di antaranya lawan jenis) memang termasuk fitrah yang Allah tanamkan pada hati setiap anak Adam dan Hawa. Kadang ia datang tanpa diundang dan kadang tidak ditemui dengan dicari-cari. Walaupun lisan dan perbuatan mendustakan, jika cinta telah menyapa, hati tidak bisa ditipu. Sedikit-banyak, datang dan perginya cinta pasti memberikan warna dalam kehidupan orang yang merasakannya.
Kalau memang cinta kepada makhluk itu sesuatu yang fitri, anugerah dari Allah, maka sudah seharusnya seorang hamba menempatkan sesuatu yang fitri ini sesuai proporsinya, tidak berlebihan dan tidak pula mengurangi sehingga keluar dari batas fitrahnya itu sendiri.
Ketika seseorang menyadari bahwa eksistensi kehidupannya di dunia adalah milik Allah dan hanya untuk beribadah kepada-Nya, maka otomatis ia pun (seharusnya) menyadari bahwa cintanya pun semata-mata untuk-Nya. Adapun cinta kepada selain-Nya, ia tempatkan di bawah cinta kepada-Nya dan dalam kerangka cinta kepada-Nya. Maka, kecintaan kepada-Nya lah yang seharusnya diprioritaskan dan direalisasikan dengan perkataan dan perbuatan.
Demikian seharusnya. Namun, apa jadinya jika lisan ini menyatakan bahwa “si dia” lah yang menjadi “segala-galanya” bagi kita?
Dan apa jadinya jika hidup kita yang Allah firmankan untuk beribadah kepada-Nya digantikan “hidup untuk merindukan” “si dia” dan “Semua yang ku lakukan hanya untuk” “si dia”?
Bagaimana pula “Hidup untuk terus mencintaimu atau mati ! yang semestinya dipersembahkan kepada Dzat yang telah menciptakan dan mengaruniakan berbagai kenikmatan kepada kita, namun ternyata ditujukan kepada seorang makhluk yang tak memiliki andil dalam penciptaan dan penjagaan hidup kita sama sekali?!
Dan jika “Di fikirku hanya satu. Di anganku hanya satu. Dirinya” dan “Setiap detik-detik waktuku selalu mengingat dirinya”, lantas dimana Allah di hati ini? Di mana Allah dalam kesehari-harian kita? Apakah karena “Tuhan telah mati” sehingga tak ada di benak ini kecuali sosok “si dia” dan bayangannya?!
Suatu hari ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah, “Maa syaa Allah WA syi’ta (atas kehendak Allah DAN kehendakmu) “ beliau langsung menegur, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai tandingan Allah? seharusnya katakanlah, ‘Atas kehendak Allah semata!” (HR. An-Nasai: 2117)
Kalau menyandingkan kehendak Allah dengan kehendak Nabi dalam lafazh (yaitu dengan kata penghubung “dan”) saja, dianggap sebagai membuat tandingan untuk Allah, yang tentunya itu merupakan kemungkaran besar, lantas bagaimana jika menjadikan “hidup, kerinduan, mati, waktu, detik demi detik” hanya untuk “si dia”?! Allah memang tidak disandingkan, akan tetapi dinafikan sama sekali!
Kecintaan yang berlebihan terhadap seseorang memang berbahaya dan membawa malapetaka. Ibnul Qayyim dalam beberapa kitabnya menjelaskan bahwa panah asmara itu seperti khamr. Sebab bisa membuat jiwa mabuk kepayang, sehingga menghalanginya dari dzikir kepada Allah. Tatkala bunga asmara tumbuh pada hati seseorang lalu mekar, merekah di dalamnya, akan muncul sedikit pengagungan dan kepasrahan terhadap kekasihnya.
Jika kondisi ini dibiarkan terus bersemi sehingga segenap rasa itu kian meronai benak, menambat hati dan menawan jiwanya, akan sampai pada suatu titik kulminasi dimana hatinya menjadi penuh dengan luapan pengagungan, ketundukan dan kepasrahan terhadap kekasihnya. Tidak ada di hatinya ketika itu, di manapun dan kapanpun ia berada, kecuali hanya sosok kekasihnya. Tidak tersisa di dalamnya sedikitpun ruang untuk mencintai selain kekasihnya, tidak seorang makhluk pun dan tidak pula Rabbnya.
Maka, ketika itulah ia menjadi hamba kekasihnya. Ketika itulah kekasihnya menjadi ilahnya. Ketika itulah Allah “hilang” dari hidupnya. Kutukan di bumi dan di langit mengurungnya. Kehinaan menantinya. Ia menyekutukan Rabbnya. Ia membuat tandingan untuk-Nya. Ia berbuat kriminal besar terhadap Rabbnya. Ia tersungkur dalam kebinasaan terbesar di antara berbagai kebinasaan yang ada. Laa ilaaha illallah..
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. “ (Al-Baqarah: 165)
Ibnul Qayyim dalam Jawabulkaafi menceritakan tentang seseorang yang menjadi korban asmara. Ia seorang pria yang sangat mencintai seorang wanita. Akan tetapi sayangnya, sosok yang ia cintai itu ternyata tak membalas cintanya. Ia pun benar-benar merasa terpukul dengan sebab itu, sehingga menyebabkan kondisi tubuhnya melemah dan jatuh sakit, bahkan mengantarkannya menuju sakaratulmaut.
Di saat tanda-tanda kematian tampak begitu nyata di wajahnya, dan orang-orang yang ada di sampingnya tegang memandangnya, apa yang ia ucapkan? Ia ternyata menyanjung-nyanjung kekasihnya dan mengungkapkan kerinduan untuk bertemu dengannya, ia berkata, “Keridhaanmu (wahai kekasih) lebih diharapkan oleh hatiku ketimbang rahmat Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Mulia! “ setelah itu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir! Naudzubillah min suil khatimah..
Sebelum kita tutup tulisan ini ada baiknya kita renungi perkataan Ibnul Qayyim berikut ini. Beliau berkata, “Siapa yang mencintai sesuatu selain Allah dan tidaklah kecintaannya tersebut karena Allah, dan bukan pula karena bisa menolongnya untuk taat kepada Allah, melainkan ia akan disiksa dengan cinta tersebut di dunia, sebelum pertemuan (dengan-Nya di akhirat).” (Ni’mah Al-Ukhuwwah hal.18)
^ By. AnungUmar ^
YUUK MENIKAH
Menikah, Menjemput Janji Allah di Telaga Kenikmatan
Dalam rentang waktu satu minggu ini saja, saya mendapatkan setidaknya tiga buah undangan pernikahan. Mereka mau mengakhiri masa lajangnya, mengikuti sunnah Rosulnya dan menggenapkan separo Dien-nya, MENIKAH.
Semoga pernikahan kalian barokah, proses dan segala pernak-pernik pernikahannya juga barokah, dan tentunya masyarakat sekitar juga mendapatkan barokah atas pernikahan ini.
Menikah, sebuah kata yang selalu menarik untuk saya dengar dan bicarakan. Bukan karena saya sendiri telah menikah, bukan pula karena kita akan makan enak untuk perbaikan gizi dengan mendatangi wedding party-nya, dan juga bukan karena saya suka menikah, terlebih bukan karena saya ingin menikah lagi.
Wah kalau yang ini sih bakalan ada Perang Dunia Jilid III dalam keluarga saya. Lebih menarik lagi kalau yang menikah anak-anak muda, senang sekali rasanya mendengarnya. Jadi ingin muda lagi deh.
Dalam bukunya M. Fauzil Adzim-Kado Pernikahan Untuk Istriku-, saya pernah membaca sebuah kalimat “Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki”. Mungkin karena begitu banyaknya pintu rizki itu dan ternyata menikah adalah salah satu dari pintu-pintu itu.
Bisa jadi tidak ada bukti ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan untuk membuktikan hal ini, karena keyakinan ini akan didapat hanya dengan paradigma Iman, keyakinan yang utuh dan tidak ragu sedikitpun atas janji Allah sebagai Tuhan pemberi rizki pada semua makhluk-Nya.
Saat pertama kali dihadapkan dengan pertanyaan ‘menikah’ dalam hidup saya, perasaan ragu, bimbang, takut dan tidak percaya diri berkecamuk dalam pikiran, mengingat saya hanya seorang buruh berpenghasilan 500 ribuan perbulan.
Membayangkan bagaimana saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga, susah sekali saya menemukan keyakinan, apalagi bukti— bahwa seorang saya hanyalah menjadi perantara Allah memberi rezeki kepada makhluk-Nya yang ditakdirkan menjadi istri atau anak kelak.
Tapi pernikahan memang tidak bisa dihitung secara matematis, karena campur tangan Allah sungguh dominan disana. Jika kesiapan menikah diukur dari kemampuan materi, sungguh nestapanya orang-orang papa.
Apalagi setelah saya bekerja di negara orang seperti saat ini, saya menemukan banyak teman kerja dari Indonesia yang sudah mempunyai posisi bagus dan berpenghasilan di atas 50 juta tapi masih belum mampu menemukan keyakinan dalam hatinya untuk mengakhiri masa lajangnya.
Lalu apa sebenarnya janji Allah untuk orang-orang yang akan melangsungkan pernikahan? Sepanjang yang saya pahami inilah kira-kira janji Allah yag harus kita jemput.
“Dan nikah¬kanlah orang–orang yang sen¬dirian di an¬tara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba–ham¬ba sahayamu lelaki dan hamba-hamba sahaya yang per¬em¬puan, Jika mereka mis¬kin Allah akan meng¬ayakan mereka dengan karuniaNya. Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur [24] : 32)
Dari ayat ini dengan sangat jelas Allah Subhanahu wa ta’aala ber¬janji akan meng¬ayakan orang yang mis¬kin jika mereka menikah karena meng¬harapkan ridhoNya. Dimana janji Allah merupakan sesuatu yang pasti dan tidak per¬nah Ia ing¬kari.
Oleh karena itu tidak ada lagi yang mem¬buat kita ragu untuk menikah. Melang¬kah¬lah dengan pasti menuju keridhoan Allah Azza wa Jalla dengan men¬jalankan salah satu syari’at-Nya yaitu menikah.
Ada pula sabda Rasulullah, “Menikahlah maka kau akan menjadi kaya”. Mungkin secara logika akan sangat sulit dibuktikan statemen-statemen tersebut. Sebuah keniscayaan, akan banyak pertanyaan paling rewel dari makhluk bernama manusia, “Bagaimana mungkin saya akan menjadi kaya sedangkan saya harus menanggung biaya hidup istri dan anak?”
Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan interaksi sosial juga tidak bisa lagi saya sikapi dengan gaya para lajang yang simple, cuek serta penuh dengan konsep-konsep idealis. Contoh saja, kalau ada keluarga mertua, tetangga atau teman yang hajatan, menikah dan sebagainya.
Sunatullah berbanding lurus dengan keyakinan manusia, dengan sepenuh keyakinan hati dan iman, mari kita jemput janji Allah di telaga kenikmatan bernama MENIKAH.
Loh kenapa telaga kenikmatan? Menikahlah segera, niscaya anda akan tahu jawabnya. Wallahu'alam.
@ERA MUSLIM@
CINTA SEJATI
Sebuah Kisah Cinta Sejati Untuk Anda Semua
by scorpio in Kisah-Kisah Inspirasi
Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut.
Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.
“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…..”
Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama.
Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.
“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman.
Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa air mata suaminya mulai mengalir.
“Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya.
“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis di atas meja dan berkata dengan bahagia.
“Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.
Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu.
Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. “
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya…
Ia menunduk dan menangis…..
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya takperlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut.
Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk,mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ?
Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.
***
Diterjemahkan dari tulisan : Trevor Klein.
Langganan:
Komentar (Atom)














