FUTUR


KALA JENUH MENERPA
MENATA KEMBALI RUH BERJUANG
Futur….. adalah salah satu penyakit yang kerap kali menyerang aktivis dakwah.
DR. Sayyid Muhammad Nuh, dalam buku Terapi Mental Aktivis Harakah menuliskan bahwa futur secara bahasa memiliki 2 makna yaitu putus setelah bersambung atau tenang setelah bergerak ; dan malas, pelan setelah rajin dan bersungguh sungguh. Adapun menurut istilah futur adalah suatu penyakit yang dapat menimpa sebagian aktivis, bahkan menimpa mereka secara praktis ( dalam bentuk perbuatan ). Beliau membagi ke dalam tingkatan2. Tingkatan yang paling rendah berupa kemalasan, suka menunda nunda. Sedangkan puncaknya adalah terputus atau berhenti sama sekali setelah sebelumnya rajin dan terus bergerak.
Rasulullah bersabda “Al imanu yazid wa yankus”. Iman itu naik dan turun. Layaknya keimanan manusia yang naik dan turun, pada semangat pun dapat terjadi hal tersebut.
Memang, semangat dan keimanan memiliki suatu hubungan yang dekat. Seseorang yang sedang turun keimanannya pasti akan turun pula semangatnya untuk beribadah, belajar, ataupun segala macam perbuatan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula sebaliknya.
Merupakan hal yang sangat maklum ketika kita duduk di suatu majelis ilmu mendengarkan ceramah atau kajian dari sang ustadz kemudian hati kita menjadi “sangat” bersemangat. Setelah bangkit dari majelis kita akan ‘berencana’ menjalankan kebaikan disetiap detik kehidupan dan menjauhi atau menghancurkan segala bentuk kemaksiatan dan keburukan sebelum ajal menghadang. Tapi setelah beberapa menit setelah bangkit …(Selanjutnya terserah anda) yang pasti, hampir semua dari kita sering mendapati penurunan motivasi bahkan amal (ilmu yes, amal not yet)
Tapi jangan salah lho walaupun baru rencana, itu merupakan indikasi bahwa hati kita masih dalam kondisi ‘iman’, sebab salah satu ciri manusia beriman adalah jika disiram ilmu maka akan bertambah faham dan semakin yakin.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (QS.08 : 2)
Seorang pelari marathon mempunyai satu tujuan. Sampai di pita finish dan memenangi pertandingan. Pelari yang professional mempunyai teori dalam memanage staminanya, sangat mungkin pada kilometer pertama bukanlah yang terdepan tetapi menginjak step-step terakhir akan mengeluarkan semua kemampuan untuk berlari menjadi nomor satu dan mempertahankannya dari peserta lain.


Dalam menjaga stamina iman, ada beberapa kaidah yang harus difahami :
1. Semua manusia mempunyai potensi untuk “salah”. Maka Allah memberi penghargaan kepadanya dengan aturan “sebaik-baik orang yang berlaku salah adalah bertobat dan memperbaiki diri”. Dan sejelek-jelek manusia yang bersalah adalah … (tahu sendiri khan!). Silahkan baca QS. 25:70.
2. Semua manusia berpotensi untuk bosan dan jenuh (futur). Maka kenali ciri-ciri kondisi futur, macam penyebabnya dan cara-cara untuk memperbaikinya.
3. Hati manusia berkarakter ‘berubah-ubah’. So, bagaimana kita bisa mengkondisikan agar selalu lebih banyak berpihak dalam kebaikan. Salah satunya hadir di taman-taman ilmu dan memilih lingkungan yang sholeh. Jangan lupa! Selalu berdoa diberi ketetapan hati (minimal sesudah dzikir shalat.
Beberapa hal mendasar menjadi penyebab terjadinya FUTUR.
1. Pemahaman dan orientasi dakwah yang lemah
2. Berlebih lebihan dalam beramal
3. Lingkungan kerja yang tak kondusif
4. Komunikasi internal yang buruk
Kekuatan daya dorong keimanan yang ada dalam diri kita sangat tergantung dari ilmu dan amalan ibadah yang dimiliki dan yang sudah diamalkan. Perbanyaklah ilmu dan perbanyaklah ibadah (tidak hanya yang wajib saja) maka kekuatan dalam menjalani hidup sesuai perintah Allah & Rosul-Nya semakin kuat. Bukankah Iman akan naik dengan perbuatan ’baik’ dan turun karena berbuat ’maksiyat’?
W adalah Beban Hidup. Sering kali terjadi, seseorang yang terkenal alim (baca:sholeh) tapi dalam suatu waktu terbukti melakukan korupsi atau kecurangan. Hmm, mungkin inilah salah satu contoh bagaimana beban hidup (tuntutan kebutuhan duniawi) membuat laju keimanan menjadi berbelok.
Semua manusia mempunyai beban hidup dan tingkatnyapun berbeda-beda. Hanya Allah SWT yang tahu beban yang akan diberikan makhluk ciptaan-Nya, kita hanya bisa mengira-ngira dengan berpikir positif. Bukankah Allah SWT tidak akan memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya?
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya … (QS.02:286)
Singkatnya, beban hidup akan selalu ada. Kita harus yakin bisa mengatasinya, agar jalan hidup kebaikan tetap lurus.
Fs adalah gaya gesek. Gesekan akan selalu terjadi dalam hidup baik dari internal (hawa nafsu keburukan) atau eksternal (lingkungan). Pertentangan antara mengamalkan kebaikan dan menuruti keinginan nafsu pribadi atau pengaruh lingkungan akan selalu ada. Kondisi yang mengkhawatirkan adalah ketika kondisi internal (hawa nafsu kejelekan) cocok dengan eksternal (lingkungan yang jahat).
Terjadinya seorang berlebih-lebihan dalam beragama dikarenakan banyaknya tugas yang diemban oleh ikhwah tersebut dan tidak dibantu dalam sebuah team. Tampaknya sudah menjadi suatu kebiasaan atau rahasia umum dikalangan kita bahwa apabila seorang ikhwah yang mendapatkan amanah sebagai ketua dalam jabatan struktural maka biasanya ketua tersebut yang akan dituntut untuk tugas-tugas yang ada dan ikhwah yang lain sibuk dengan tugas-tugas luar struktur.

Hal lainnya adalah suka menyendiri atau meninggalkan jamaah, biasanya seorang ikhwah lebih menyukai kesendirian dikarenakan tidak lagi merasakan manisnya semangat ukhuwah dalam berjamaah serta tidak menemukan adanya nuansa ruhiyah ketika melakukan aktivitas ibadah dalam kesunyian. Dalam kesunyian ini, apabila ada saudaranya yang membiarkannya dalam kondisi tersebut, lambat laun namun pasti akan menjerumuskan akh tersebut dalam kelesuan beraktivitas dakwah. Beliau akan lebih suka dalam kemanisan beribadah daripada kesusahan aktivitas dakwah.

Lesu akan menjadi tingkat yang paling berbahaya dalam kondisi futur bagi seorang ikhwah, karena apabila seorang al-akh sudah mengalami kelesuan biasanya lebih suka untuk Uzlah. Uzlah bisa dijadikan alasan seorang ikhwah karena lebih merasakan manisnya nilai ruhiyah daripada berdakwah ke masyarakat. Adapula yang beralasan bahwa dengan bergaul dengan manusia dapat menganggu konsentrasi beribadah dengan melupakan pengertian ibadah yang sebenarnya.
Ada beberapa penyikapan yang bias kita lakukan untuk menghindari FUTUR .
1. Merancang ibadah harian
2. Mengenali kemampuan diri
3. Menentukan ibadah unggulan
4. Membuat variasi-variasi dalam beraktivitas
5. Rihlah
Kefuturan ini sangat erat dengan hati nurani. Oleh karena itu kecerdasan hati nurani akan menjadi bagian yang paling penting untuk diperhatikan. Sedapat mungkin selalu berada dalam jama’ah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar