AGAR TAK MENYERAH PADA LELAH
Tidak mudah melewati rasa lelah. Terlebih jika rasa lelah itu menjalar ke seluruh rongga kehidupan kita ; lelah fisik, lelah jiwa, dan lelah pikiran. Belum lagi beban lelah itu ditambah pula dengan tidak adanya visi dan orientasi yang benar dalam kerja-kerja yang kita lakukan. Tentu akan menyesakkan.
So, untuk bisa melewati siklus rasa lelah itu, kita perlu membangun beberapa pemahaman yang benar agar kita mudah melewati rasa lelah itu.
1. Tunduk pada rasa lelah, indikasi kekufuran
Dari setiap hal yang kita kerjakan, rasa lelah selalu menjadi beban yang menyertai. Ia semacam ujian yang hadir untuk menghambat ; apakah kita kuat tuk meneruskan, atau justru tunduk dan berhenti karena merasa tak nyaman dengan hambatan itu.
Berhenti atau meneruskan, tentu menjadi pilihan kita. Tapi ketahuilah, bahwa berhenti karena lelah itu adalah symbol dari kekalahan, menyerah dan putus asa, yang merupakan bagian dari kekufuran. Maka pilihan yang terbaik adalah meneruskan. Sebab rasa lelah itu tak selamanya dan pasti akan berlalu. Ingatlah dibalik kelelahan itu, ada kedekatan dengan Allah dan ada do’a-do’a yang dikabulkan. Allah berfirman,”Maka Kami tel;ah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (TQS 21 : 88)
2. Keputusan itu harus dijalani
Keputusan yang telah kita ambil dengan sebuah pertimbangan, haruslah dijalani dengan suka cita dan penuh tanggung jawab. Jangan pernah berhenti hanya karena rasa lelah mendera. Jangan pernah surut karena merasa tidak nyaman. Kekuatan kita bertahan melawan rasa lelah, itulah salah satu kunci keberhasilan. Hadapi walaupun resiko yang dihadapi tidak mudah.
3. Berserah diri, membuat pijakan kaki selalu kokoh
Ketika kita memilih untuk bertahan, tentu kita harus memiliki sandaran yang bisa menguatkan dan mengokohkan pijakan kaki kita. Sebab bertahan tanpa sebuah sandaran, tidak hanya akan memperlemah fisik, tetapi juga jiwa dan pikiran kita. Ketika rasa lemah menyerang maka tentu akan terasa sulit melewati yang hanya sekedar siklus itu. Takwa adalah jalan keluar terbaik ketika ikhtiar telah diupayakan dari segala bentuk kegelisahan dan kegoncangan jiwa. Oleh karena itu, janganlah hati kita tergantung pada yang telah kita lakukan. Tapi hendaknya menambatkannya hanya kepada Allah seperti dalam firmanNya,”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi keperluannya.” ( Ath Thalaq : 3)
4. Keuntungan kita sebesar kekuatan kita melawan rasa lelah
Kemampuan kita melawan rasa lelah menjadi salah satu kunci keberuntungan dan keberhasilan kita. Bahwa setiap kita sama-sama pasti akan merasakan rasa lelah. Akan tetapi tidak semua orang sama dalam menyikapi rasa lelah itu.
Ada orang yang membiarkan rasa lelah menguasai dirinya, sehingga ia terlihat tidak pernah bisa menikmatai pekerjaannya. Dia hanya bisa mengeluh, dan merasa dirinya tak beruntung. Tapi ada pula orang yang masa bodoh dengan rasa lelahnya, dan memilih untuk terus bekerja sebagai penghormatan atas pekerjaanya, maka dialah orang yang beruntung. Lelah itu sebenarnya mengagumkan, tapi tak semua orang mampu melihatnya .
5. Bantulah diri agar selalu Ceria
Hidup ini singkat. Tak ada yang abadi kecuali hanyalah DIA. Apalagi hanya sekedar rasa lelah yang kita yakini hanya sebuah siklus sesaat. Tapi yang singkat itu seringkali terasa panjang dan menambah parah rasa lelah. Jika kita tak memiliki keterampilan menata hati dan situasi, dan tak mempunyai kepandaian tuk menghibur diri dan menciptakan keceriaan. Padahal keceriaan itu bisa membantu kita melewati masa masa lelah tanpa terasa. Karena itu, sediakan selalu ruang untuk keceriaan di relung hati kita, di dasar hati kita, agar rasa lelah itu tidak terasa panjang, agar rasa lelah itu tidak mengubur impian impian kita untuk hidup lebih bahagia.
^^Maraji : Tarbawi Juli 2011^^
Langganan:
Komentar (Atom)
